JK: Mau Jadi Negara Industri, Belajarlah ke Singapura dan China

Singapura dan China berhasil melakukan transformasi ekonomi negaranya. Singapura dari negara pelabuhan menjadi industri jasa. China, dari negara agraris menjadi negara industri. Kalau RI mau melakukan transformasi, kita harus belajar ke Singapura dan China.” Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

NEWSURBAN.ID – Wakil Presiden Jusuf Kalla mendorong transformasi ekonomi Indonesia dari negara agraris menjadi negara industri. Dalam bertransformasi, Indonesia perlu belajar dari negara lain di antaranya Singapura dan China.
Menurut JK, sapaan akrab Jusuf Kalla , Singapura telah mengubah ekonominya dari negara pelabuhan menjadi negara yang mengandalkan industri dan jasa. “Dulu, Singapura negara pelabuhan, terus menjadi perdagangan dan industri. Industri butuh tenaga kerja besar, makanya dia pilih jasa keuangan, jasa kesehatan. Sekarang sakit saja kita kepala ke Singapura,” ujar JK di Hotel Borobudur, Jakarta, seperti dikutip dari laman cnnindonesia, Jumat (09/08/2019).
JK memaparkan, seiring perkembangan industri, Singapura membuka peluang untuk investasi dan menyerap lebih banyak tenaga kerja, termasuk dari Indonesia.
Menurut JK, selain Singapura, China merupakan negara yang paling cepat bertransformasi. China memerlukan waktu 30 tahun untuk mengubah andalan perekonomiannya dari negara agraris ke negara industri.
Pengusaha yang 2 dua periode menjadi wakil presiden RI ini memaprkan, Negeri Tirai Bambu itu melakukan transformasi ekonomi dengan gencar mengejar Penanaman Modal Asing (PMA).
Bahkan, lanjut JK, China tetap membuka investasinya untuk Taiwan meski keduanya berselisih. “Sekarang produk apapun yang kita pakai itu pasti made in China. Semua barang, termasuk yang kecil. Itu transformasi dari agraris ke manufaktur,” jelasnya.
JK menjelaskan, transformasi memerlukan modal berupa teknologi dan keahlian yang dilengkapi dengan kebijakan pemerintah yang mendukung. “Inti transformsi tapi bukan hanya kebijakan pemerintah, tapi menyeluruh. Bagaimana China dari petani jadi pengusaha, itu butuh kebijakan yang didukung skill,” urai JK.
Dia juga mengakui sejumlah negara tetap mengandalkan perekonomiannya dari sektor agraris dan Sumber Daya Alam (SDA). Misalnya, Australia dan Amerika Serikat (AS). Namun, negara-negara itu melakukan tranformasi dari sisi efisiensi. “Amerika juga tetap negara agraris tetapi, dulu jaman 60-an, yang kerja di pertanian 30 persen, sekarang mungkin hanya 7 persen,” jelasnya.
Indonesia sambung dia, sudah mulai melakukan transformasi. Mulai dari mengubah minyak kelapa sawit menjadi minyak goreng hingga mengolah logam mineral melalui fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter). Hanya saja, lanjutnya, transformasi itu perlu terus dilakukan. Terlebih, Indonesia saat ini masih mengimpor sejumlah komoditas.
Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memetakan proses trasformasi tersebut, meski masih ada yang berjalan lambat. “Pertanian harus dilakukan dengan tiga tahap, agraris, agrobisnis, dan menjadi industri. Makanya, perlu kebijakan yang drastis untuk transformasi ini,” tuturnya. (ardi/newsurban.id)

Leave a Reply