Harifin Tumpa Raih Bintang Mahaputera Utama, Begini Kiprahnya

Kurang lebih 40 tahun memegang palu, ia telah malang melintang ke seluruh penjuru Indonesia. Puncak kariernya di lembaga yudikatif adalah, menjadi Ketua MA ke-12 setelah sebelumnya duduk sebagai Hakim Agung pada 2004-2009.

NEWSURBAN.ID – Tokoh asal Sulsel Harifin Tumpak, menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI Joko Widodo.

Harifin Tumpa lahirnpada 23 Februari 1942 di
Delta Sungai Walanea, Walimpong, Soppeng, Sulsel. Ayahnya merupakan tokoh adat setempat yang kerap menjadi penengah apabila ada konflik. Darah ayahnya kemudian mengalir ke Harifin dan mengantarkannya menjadi hakim pada 1969.

Selama kurang lebih 40 tahun menjadi hakim, ribuan perkara telah dia putuskan. Beberapa kasus yang menonjol di antaranya memenangkan negara melawan Yayasan Supersemar. Alumnus S2 Universitas Krisnadwipadana Jakarta itu juga mengadili kasus Tamasek, Syahril Sabirin, Djoko Tjandra, Antasari Azhar hingga Prita Mulyasari.

Banyak terobosan yang telah dia lakukan. Terobosan paling menonjol yang dia lakukan selama mempimpin, salah satunya menaikkan standar nilai barang di KUHP, seperti dari Rp2.500 menjadi Rp2,5 juta.

Kebijakan itu disesuaikan dengan kenaikan harga emas. Tujuannya agar para pencuri dengan angka yang kecil tidak perlu sampai ditahan. Seperti pencuri sandal jepit, pencuri mangga, pencuri kelapa dan sebagainya. Sehingga tujuan keadilan tercapai.

Harifin Tumpa di eranya, membuat kebijakan pengakuan lembaga advokat tunggal, yaitu Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Tujuannya agar proses pengadilan lebih tertib dan marwah pengadian terjaga.

Lalu pada 14 April 2011, Harifin menerima penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Unhas dalam bidang HAM dan Peradilan. Orasi ilmiahnya bertajuk ‘Transparansi Merupakan Pintu Keadilan dan Kebenaran’. Gaya kepemimpinannya yang terbuka itu diabadikan menjadi nama press room Harifin Tumpa Center di Gedung MA. (ardi/newsurban.id)

Leave a Reply