Abdul Aziz: Seks Pranikah di Ruang Privat Bukan Zina, Rektor UIN Bilang Tafsir Menyimpang

Abdul Aziz, doktor dari UIN Yogyakarta, tetap mempertahankan disertasinya tentang hubungan intim di luar nikah yang tidak melanggar hukum Islam meski menuai kontroversi. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyebutnya sebagai tafsir menyimpang.

NEWSURBAN.ID – Abdul Azis mengatakan Tafsir Milk Al-Yamin dari intelektual muslim asal Suriah, Muhammad Syahrur, yang ia gunakan bisa ditawarkan untuk membantu negara dalam merumuskan hukum alternatif. Tafsir itu bisa digunakan untuk melawan kriminalisasi terhadap orang-orang yang dituduh berzina.

Abdul Aziz mengatakan, masalah tafsir adalah untuk membantu menemukan alternatif bagi negara yang kesulitan merumuskan hukum. “Tapi disertasi saya malah dianggap musibah,” kata Abdul Aziz.

Terkait soal zina, Dewan Perwakilan Rakyat akan mengesahkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam RUU tersebut terdapat pasal kontroversial yang menjadi sorotan masyarakat sipil.

Pasal 417 mengatur soal hubungan laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Koalisi menganggap negara terlalu jauh hadir dalam urusan privat warga negara. Disertasi itu bisa digunakan untuk melawan kriminalisasi urusan privat oleh negara.

Sementara disertasi Abdul Aziz berjudul Konsep Milk A Yamin: Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital. Anggota Majelis Ulama Indonesia Komisi Dakwah Sukoharjo, Jawa Tengah tahun 2005 ini berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan delapan orang anggota tim penguji pada Rabu, 28 Agustus 2019, di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Abdul Aziz pun mendapatkan nilai sangat memuaskan.

Abdul Aziz menjelaskan tentang Hubungan Intim di luar nikah tidak melanggar hukum Islam sesuai tafsir Muhammad Syahrur. Dalam Al-Quran tak ada definisi zina dan hanya disebut larangan berzina. Definisi zina berasal dari para ulama yang kemudian dimodifikasikan dalam fiqh atau tradisi hukum Islam.

Bagi Muhammad Syahrur, kata Abdul Azis, hubungan intim disebut zina bila dipertontonkan ke publik. Bila hubungan itu dilakukan di ruang privat, berlandaskan suka sama suka, keduanya sudah dewasa, tidak ada penipuan, dan niatnya tulus maka tidak bisa disebut zina. Maka hubungan tersebut halal.

Abdul Aziz menjelaskan disertasi tersebut muncul dari kegelisahan dan keprihatinannya terhadap beragam kriminalisasi hubungan intim nonmarital konsensual. Yaitu, hubungan seksual di luar pernikahan yang dilandasi persetujuan atau kesepakatan.

Hubungan di luar pernikahan selama ini mendapatkan stigma buruk. Misalnya, penggerebekan dan penangkapan sewenang-wenang di ruang-ruang privat. Abdul Aziz juga mencontohkan kriminalisasi dalam bentuk hukuman rajam di Aceh pada 1999 dan Ambon pada 2001.

Mereka yang dihukum rajam dituduh berzina. Orang-orang berkerumun dan melempari orang itu dengan batu hingga tewas.

Doktor UIN Yogyakarta mengutip konsep Milk Al-Yamin dari intelektual muslim asal Suriah, Muhammad Syahrur. Konsep itu menyebutkan bahwa hubungan intim di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat Islam.

INI PENJELASAN REKTOR UIN
Menanggapi disertasi tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi, menilai disertasi Abdul Aziz itu berpotensi menghancurkan negara dari dalam.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi memberikan keterangan terkait disertasi Abdul Aziz yang kontraversial.

“Jika konsep seksual nonmarital dipraktikkan, maka jadi problem kehancuran dunia Islam,” ujar Yudian dalam konferensi pers di UIN pada Jumat (30/8/2019).

Ia mengatakan, jika konsep kebebasan seks pranikah Syahrur yang ditulis Azis diterapkan, konstruksi keluarga berpotensi hancur. Tentunya kata rektor, anak muda bisa bebas melakukan seks pranikah karena tindakan mereka dianggap sah.

“Tidak ada kontrol, karena anak-anak SMA umur 15 tahun bisa bebas melakukan seks bebas, ayo-ayo, sana sini, kalau kemudian terkena AIDS, ini bagaimana,” tegasnya.

Meskipun begitu, Yudian menyebut hasil disertasi itu bukan termasuk penistaan agama. Malah, pemikiran Aziz tersebut merupakan tafsiran yang menyimpang.

Sebelumnya Abdul Aziz mengaku sengaja meneliti konsep al-yamin ala Muhammad Syahrur. Semua berawal dari keprihatinan terhadap maraknya kriminalisasi, stigmatisasi dan pembatasan akses terhadap orang yang melakukan hubungan seksual non marital.

“Harapannya ada pembaharuan hukum Islam. Hukum perdata Islam, hukum pidana Islam, hukum keluarga Islam. Karena saya melihat hukum keluarga Islam baik di Indonesia maupun di beberapa negara yang lain sudah perlu ada pembaharuan,” kata Aziz.

Meski begitu, Aziz menegaskan bahwa konsep milk al-yamin ala Muhammad Syahrur memiliki batasan. Salah satunya  tidak boleh dilakukan dengan berzina yaitu hubungan seksual yang diperlihatkan ke publik.

“Jadi seorang laki-laki boleh berhubungan seksual dengan perempuan lain secara nonmarital sepanjang tidak melanggar batas-batas. Pertama yang disebut zina. Apa itu zina? Zina di sini yang dimaksud adalah hubungan seksual yang dipertontonkan,” ujarnya. (*/newsurban)

Leave a Reply