Inflasi Terkendali, BI Masih Punya Ruang Pangkas Bunga Acuan

Fitch Ratings, lembaga pemeringkat global,  melihat masih ada ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga hingga akhir tahun ini.

NEWSURBAN.ID – Meski ruang masih terbuka, BI harus mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam negeri dan tingkat inflasi yang terkendali.

Head of Asia Pacific Sovereigns Fitch Ratings, Stephen Schwartz, mengatakan, Bank Sentral Indonesia dengan rating BBB dan outlook stabil, sudah dua kali memangkas suku bunga, tahun ini.

Menurut dia BI masih ada peluang untuk melakukan pemangkasan lagi. “Tapi tergantung target inflasi,” kata Stephen, Senin (2/9/2019).

Dia mengatakan besaran basis poin belum bisa diberikan karena berkaitan dengan kebijakan Fitch saat ini. “Kami tidak advise, tapi secara sederhana, prediksi ini berdasarkan baseline yang ada,” katanya.

Menurut dia tahun ini perekonomian Indonesia masih akan mendapat tantangan di antaranya eksternal, yakni perang dagang dan defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit/CAD).

BI pada awal Agustus lalu merilis data yang menujukkan, pada kuartal II-2019, defisit transaksi berjalan atau CAD Indonesia menembus level 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tepatnya 3,04%. Padahal pada kuartal I-2019, CAD hanya berada di level 2,6%. Secara nominal, CAD pada kuartal II-2019 adalah senilai US$ 8,44 miliar.

“Tahun ini ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5%, tapi untuk tahun depan ada sokongan dampak dari realisasi pembangunan infrastruktur,” kata Stephen.

Pada 22 Agustus lalu, BI memutuskan untuk kembali memangkas tingkat bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps). Ini menandai pemangkasan selama dua bulan berturut-turut setelah pertama dilakukan pada 18 Juli lalu

Bank sentral tetap membuka peluang untuk melanjutkan bauran kebijakan moneter yang akomodatif dengan variasi pilihan kebijakan makroprudensial, giro wajib minimum (GWM) atau suku bunga acuan.

“Ke depan, Bank Indonesia akan melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi,” tulis BI dalam siaran persnya.

BI juga menegaskan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Winang Budoyo juga menilai, bank sentral memang masih memiliki ruang penurunan suku bunga maksimal dua kali hingga akhir tahun dengan berbagai dinamika perekonomian yang terjadi.

“Kami memandang bahwa penurunan 1 sampai 2 kali di 2019 masih dimungkinkan,” tulis Winang dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/8/2019).

Winang memandang, penurunan suku bunga acuan BI untuk kedua kalinya dibutuhkan sebagai bold statement BI, bahwa suku bunga di Indonesia memang sudah dalam tren menurun. “Sehingga bank-bank akan mengikuti dengan menurunkan suku bunganya,” jelas Winang. (rl/*)

Leave a Reply