Merespons Ramalan Bank Dunia, Luhut Tegaskan Ekonomi RI Jauh Lebih Baik

Merespons pernyataan Bank Dunia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan Indonesia jaug lebih baik dibanding negara emerging market lain.

NEWSURBAN.ID – Bank Dunia telah memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2022 hanya bisa terangkat  4,9%. Proyeksi itu direspons Luhut.

Menurut Luhut, memang ada beberapa skenario yang dibuat oleh Bank Dunia terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi Luhut, menegaskan Indonesia masih lebih baik dibanding negara emerging market (negara ekonomi rendah ke level menengah) lainnya.

“Negara kita tetap lebih baik dari yang lain. Langkah-langkah yang sudah dibuat oleh pemerintah itu dilakukan dengan baik, tidak ada alasan jatuh di bawah 5 persen,” kata Luhut di kantornya, Jakarta, Senin (9/9).

Luhut menyebutkan, langkah yang sudah dibuat tersebut antara lain, memangkas perizinan yang dianggap berlebihan agar investasi bisa kian deras masuk.

Dia melanjutkan, pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menggelar rapat terbatas untuk memeriksa proses perizinan investasi yang rumit di sejumlah kementerian. Salah satu yang diperiksa, terkait rekomendasi impor gula. “Misal rekomendasi-rekomendasi untuk apa. Rekomendasi impor gula ngapain. Kalau butuh ya diimpor,” pungkasnya.

Pada Jumat (6/9/20119), dikutip dari paparan Bank Dunia yang beredar ke publik, meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia  akan suram setidaknya hingga 2022 mendatang.

Dalam paparan itu disebutkan pula pada 2020, ekonomi Indonesia diprediksi hanya mampu terangkat 4,9 persen atau di bawah target Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020, 5,3 persen.

Bahkan, laju perekonomian ditaksir bakal tertekan ke level 4,6 persen pada 2022 mendatang. Prospek tersebut terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China dan memanasnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan.

Kedua masalah tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi global dan juga Indonesia. “Perlambatan ekonomi global menyebabkan harga komoditas lebih rendah yang akan menekan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih jauh lagi,” ujar Bank Dunia dalam materi presentasinya. (*)

Leave a Reply