Ekonomi Stagnan, Optimisme Konsumen Menurun

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merosot  0,8 persen menjadi 121,8, dari 123,1 pada Agustus 2019. Kemerosotan IKK membuat optimisme konsumen pada September melemah.

NEWSURBAN.ID –  Melemahnya optimisme konsumen berdasarkan survei Konsumen Bank Indonesia (BI). BI merilis melemahnya optimisme disebabkan oleh penurunan persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (4/10), menyebutkan penurunam tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang merosot sebesar 2,8 poin menjadi 107,5. Namun, persepsi konsumen tepat positif mengingat IKE masih di atas 100.

“Persepsi konsumen yang tetap positif terhadap kondisi ekonomi saat ini terutama didukung oleh meningkatnya keyakinan terhadap kondisi penghasilan saat ini,” ujar  Onny Widjanarko.

Menurutnya, penurunan IKK terutama terjadi pada responden dengan pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp5 juta per bulan dan berusia 20-40 tahun.

Berdasarkan wilayah, kota dari responden survei menunjukkan penurunan IKK terbesar pada September terjadi di Medan sebesar -13,9 poin. Sementara terdapat 9 kota lainnya mengalami peningkatan dengan peningkatan IKK tertinggi tercatat di Surabaya sebesar 6,9 poin.

Secara kuartalan, IKK pada kuartal III 2019 merosot dari 127,6 menjadi 123,3. Menurunnya rata-rata IKK tersebut disebabkan menurunnya IKE sebesar -3,6 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang juga turun 5,0 poin.

Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang meningkat terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi terhadap penghasilan dan ketersediaan tenaga kerja.

Hasil survei BI juga mengindikasikan tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Maret 2020) diperkirakan relatif stabil, meskipun sedikit meningkat.

Hal tersebut terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 6 bulan yang akan datang sebesar 170,6, relatif stabil dari 170,0 pada bulan sebelumnya. Relatif stabilnya tekanan harga tersebut didukung oleh harga barang di sebagian besar wilayah yang terkendali. (*)

Leave a Reply