Tingkatkan Ekspor Pisang, DPKP Kaltara Genjot Produksi dan Mutu

Provinsi Kalimantan Utara mengincar jadi pengekspor utama komoditas pisang. Untuk itu, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Utara berupaya mendorong petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas pisang.

TANJUNG SELOR, NEWSURBAN.ID – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Utara Andi Santiaji Pananrangi Santiaji Pananrangi berupaya keras memotivasi masyarakat memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas pisang.

Menurut Santiaji, komoditas pisang di Kalimantan Utara sudah menyentuh pasar ASEAN khususnya Malaysia. Namun kata dia, volume dan kualitasnya masih harus terus ditingkatkan.

“Kebanyakan pengiriman pisang dilakukan oleh petani melalui jalur-jalur tidak resmi atau lebih kepada sistem perdagangan tradisional. Ketika panen, petani hanya menjualnya dalam bentuk tandan ke Tawau, Malaysia. Perdagangan itu masih dalam bentuk perdagangan tradisional. Hanya saja, perdagangan itu lintas negara,” sebut Andi Santiaji Pananrangi Santiaji dalam Respons Kaltara di Kedai 99 Tanjung Selor, Kamis (28/11/2019).

Putra Bone, Sulawesi Selatan ini, menilai potensi perkebunan pisang di Kalimantan Utara sangat menjanjikan. Dia menyebut, ada empat kabupaten plus satu kota yang semuanya didukung dengan kesuburan tanah sangat baik untuk tumbuh kembang pisang.

Postur tanah jelas dia didukung iklim tropis Kalimantan Utara, sehingga tanaman pisang akan sangat mudah dikembangkan. “Sebetulnya, pisang itu di segala cuaca bisa tumbuh. Ketinggian tanah, mulai dari 0-1300 mdpl (meter di atas permukaan laut), pisang bisa tumbuh. Jadi tinggal bagaimana cara kita mengawalinya, utamanya dari kalangan masyarakat sendiri,” jelasnya.

Santiaji menjelaskan, pihak DPKP Kalimantan Utara secara khusus akan mengembangkan daerah perkebunan pisang yang dikelola masyarakat. Bibit pisang yang akan ditanam ialah yang sudah memiliki sertifikat. “Selama ini kan bibit hanya diambil dari tetangga rumah, dari saudara. Ke depan kita akan siapkan bibit pisang yang unggul yang sudah memiliki sertifikat,” katanya.

Dia berharap dengan postur tanah dan iklim yang sangat mendukung, pisang yang dihasilkan memiliki kualitas atau standar ekspor agar bisa diterima di pasar global. “Potensi pisang di Kalimantan Utara hampir merata di semua kabupaten/kota. Yang diperlukan adalah keseriusan masyarakat untuk menangkap peluang bisnis pisang yang sudah mulai dilirik pasar global,” tutur Santiaji.

Sementara itu, seorang eksportir pisang Agus Wahono mengakui, permintaan pisang di Asia Tenggara dan Asia Timur cukup tinggi. Sayangnya belum dibarengi dengan kapasitas ekspor yang tinggi pula. “Melihat peluang itu, masyarakat Kalimantan Utara harus didorong agar serius membudidayakan pisang,” ujarnya.

Agus mengakui, sekali seminggu dia mengekspor pisang asal Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Setiap minggu sampai dua kontainer. “Itu pun dibantu pasokan dari Sulawesi, biasanya dari Mamuju. Kalau bisa masyarakat di sini manfaatkan peluang bagus ini mulai dari sekarang,” imbuhnya.

Kepala DPKP Provinsi Kalimantan Utara Andi Santiaji Panandrangi (tengah) menjadi pembicara utama dalam diskusi pertanian di sebuah kafe di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Kamis, 28/11/2019. (ist)

Sampah Pisang Jadi Uang
Masih turunan komoditas pisang, hal berbeda dilakukan milenial Kalimantan Utara. Seorang milenial, Wiji Astutik bersama rekan kelasnya siswa kelas 2 APHPI (Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan) dari SMKN 5 Balikpapan mengikuti lomba kerajinan daur ulang. Mereka menggunakan gedebong pisang agar mengurangi sampah yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Produk yang mereka hasilkan unik dan kekinian. Misalnya kotak tisu, bingkai foto, notebook, dan paper bag. Proses pembuatan dikerjakan kurang lebih 2 sampai 3 hari.

Sedangkan proses pengerjaan dibuat di sekolah setiap kali ada pesanan atau event lomba. Untuk biaya yang dikeluarkan dalam proses pembuatan berkisar Rp35 ribu Bahan tambahannya cukup dengan lem dan soda api.

Hasil kerajinan komunitas milenial ini dijual dengan harga Rp75 ribu hingga Rp150 ribu. “Penjualan belum menggunakan sistem online. Calon pembeli harus datang ke SMKN 5 Balikpapan untuk membeli,” jelas Wiji.

Wiji mengaku kerajinan sampah pisang sudah digeluti setahun ini. Idenya berawal dari ekstrakulikuler Green Generation. “Idenya dari kami kelas 1 SMK,” ucap Wiji.

Tujuan dari kegiatan mendaur ulang limbah pelepah pisang adalah untuk memanfaatkan limbah menjadi bahan kreasi, serta membuka peluang wirausaha.

Alasan Wiji Astutik dan teman-temannya mengikuti lomba agar orang-orang mengenal produknya. Dengan mengikuti lomba, mereka berharap agar masyarakat tergerak untuk mencintai lingkungan. “Juga kami harapkan orang-orang mau tergerak mengubah limbah menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi,” pungkasnya. (adi/*)

Leave a Reply