Merespons Ibu Kota Baru, Perbanas Siapkan Layanan

Bank Kaltimtara siap menopang ibu kota baru RI.

Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) merespons pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan dengan mempersiapkan layanan dan jaringan kantor. Respons itu dilakukan untuk mendukung dan memenuhi kebutuhan transaksi perbankan di ibu kota baru.

TANJUNG SELOR, NEWSURBAN.ID – Pengurus Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) Henny, mengatakan, mendukung keputusan pemindahan Ibu Kota. Bahkan dia mengajak semua pihak untuk mendukung rencana itu apabila sudah ditetapkan.

Layanan transaksi perbankan di Bank Kaltimtara siap menopang ibu kota baru RI.

“Semua pihak harus siap dan mendukung keputusan pemerintah. Baik regulator, dunia usaha, maupun akademik mari kita dukung,” kata Henny di, Tanjung Selor, Jum’at (6/12/2019)

Lokasi Ibu Kota yang telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi sudah melewati kajian Bappenas. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan waktu, akan ada rintangan untuk membangun Ibu Kota baru.

Mengenai kendala, Henny memandang seluruh pihak mesti ikut membantu. “Dalam perjalanannya ada hal-hal yang perlu diperbaiki, ya kita perbaiki bersama. Kalau ini sudah ditetapkan pemerintah, ya, sudah kita dukung dengan mempersiapkan apa yang dibutuhkan,” kata Henny.

Henny juga mengapresiasi sepanjang pemerintahan Joko Widodo dalam 5 tahun terakhir dan ke depan. Menurutnya, industri perbankan dalam 5 tahun terakhir cenderung stabil karena kondisi likuiditas mulai melonggar meskipun sempat mengetat. Namun, kata dia, ada tantangan dari sisi komoditas dan konsumer karena mengalami perlambatan.

Namun sambung dia, perbankan harus pandai membaca situasi. Dalam kondisi komoditas dan konsumer melambat, perbankan melakukan shifting bisnis. “Jika dulu perbankan fokus di komoditas, tuturnya, saat ini beralih ke ritel, seperti patiwisata, kesehatan, e-commerce, dan lainnya,” kata Henny.

Sekarang sambung dia, perbankan yang dulunya fokus ke komoditas beralih sudah mengalami dampak dari perang dagang harus mencari peluang baru.

Henny mengungkapkan, tantangan yang dihadapi dalam 5 tahun ini adalah kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dan likuiditas yang ketat. NPL secara khusus terjadi pada sektor batu bara dan tekstil yang mengalami tekanan.

Dari sisi likuiditas kata dia, terjadi pengetatan yang membuat banyak bank mengalami perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit.
Meski demikian, lanjut dia, dua kuartal terakhir 2019 ini dipastikan sudah ada perbaikan khusus untuk penghimpunan dana pihak ketiga yang tumbuh di atas 7% yoy dari sebelumnya 6% yoy.

“Perbanas mengharapkan kabinet baru memberi optimisme yang mendorong capital inflow. Dengan naiknya capital inflow likuiditas menjadi melonggar sehingga perbankan leluasa menyalurkan kredit. Pertumbuhan penyaluran kredit kita harapkan bisa balik di atas 10% lagi,” ujarnya.

Melihat kondisi, lanjut dia, shifting tetap akan menjadi strategi perbankan ke depan. Pasalnya, bank kesulitan menggarap pasar yang besar-besar karena penurunan permintaan, seperti rumah di atas harga Rp1 miliar, dan mobil yang di atas Rp200 juta.

Menurut Henny tantangan akan lebih berat pada bank-bank yang tidak punya jaringan luas. Sedangkan bank dengan jaringan luas dapat masuk segmen ritel lebih efektif sebab harus dilakukan dengan bermitra baik dengan tekfin maupun komunitas e-commerce.

“Untuk masuk ke ultramikro atau FLPP [Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan butuh jaringan luas. Ke depan, untuk bank besar environment lebih baik memang bank yang menengah kecil yang harus berubah jadi digital atau menggandeng fintech,” jelasnya.

Dia mengatakan, Kalimantan timur sejatinya memiliki potensi industri perbankan yang mumpuni. Bahkan, Kalimantan Timur paling unggul dibandingkan provinsi lain di Kalimantan.

Perbankan di Kaltim sambung dia, unggul terutama terkait kegiatan penghimpunan dana pihak ketiga berada di posisi delapan besar berada di bawah enam provinsi di Jawa, dan satu provinsi di Sumatera yaitu Sumatera Utara.

DPK perbankan di Kalimantan Timur pada Juni 2019 senilai Rp106,60 triliun, tumbuh 15,96% (yoy) dibandingkan Juni 2018 sebesar Rp91,93 triliun. Penyaluran kreditnya tumbuh 4,07% (yoy) dari Rp70,61 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp73,48 triliun pada Juni 2019.

Kondisi itu menurut Henny potensi perbankan di Kaltim sangat subur. “Sayangnya, industri perbankan tanah air nampaknya memang kurang menggelar ekspansi di Kalimantan Timur. Ini terlihat dari jumlah kantor cabang bank di Kalimantan Timur yang stagnan berjumlah 114 kantor sejak 2015 hingga saat ini,” pungkasnya. (adi/*)

Leave a Reply