Jaja Subagja Dua Kali Gantikan Firdaus Sebagai Kajati di Tahun 2019

Jaja Subagja saat menjabat sebagai Kajati Gorontalo menggantikan Firdaus Wilmar. Kini Jaja Subagja menggantikan Firdaus Wilmar sebagai Kajati Sulsel. (ist)

Ada yang unik antara Jaja Subagja dan Firdaus Dewilmar. Pasalnya dalam catatan mutasi setahun terakhir, Jaja sudah dua kali menggantikan Firdaus di posisi yang sama. Pertama sebagai Kajati Gorontalo, kedua Jaja kembali menjadi pengganti Firdaus Dewilmar sebagai Kajati Sulsel.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Ada yang unik dari mutasi Kajati Sulsel Firdaus Dewilmar. Dari catatan news urban, Jaja Subagja sudah dua kali mengganti posisi Firdaus Dewilmar.

Kejadian, pertama, ketika Firdaus Dewilmar ditunjuk sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Jaja Subagja ditunjuk sebagai Kajati Gorontalo.

Kejadian kedua,  Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mencopot Firdaus Dewilmar dari jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan diplot sebagai sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Fungsional pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung RI, Jaja Subagja kembali ditunjuk sebagai pengganti.

Diberitakan sebelumnya, mutasi  Firdaus Dewilmar tertuang dalam Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor :KEP-380/A/JA/12/2019 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Jabatan Struktural di Lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.

Saat menggantikan Firdaus sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo Jaja Subagja bertekad menuntaskan sejumlah kasus dugaan korupsi yang tidak rampung di masa kepemimpinan Firdaus Dewilmar.

“Yang pasti saya akan inventarisir kembali mana-mana yang belum diselesaiakan pak Firdaus. Saya berusaha untuk menyelesaikan agar ada kepastian hukumnya,” kata Jaja kepada sejumlah wartawan seperti dikutip dari laman kronologi, usai mengikuti upacara Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa yang ke-59 di kantor Kejati Gorontalo,  Senin (22/7/2019) pagi tadi.

Saat ditunjuk mengganti Firdaus sebagai Kajati Gorontalo, Jaja menegaskan, walau terkendala jumlah sumber daya manusia  yang kurang, ia tetap optimis dapat menyelesaikan sejumlah kasus yang selama ini tertunda.

“Kami kekurangan SDM, akan tetapi saya ingin ini diselesaikan satu persatu. Saya juga pastinya akan melakukan pembenahan di internal Kejaksaan sendiri,” tuturnya.

Jaja ketika itu juga mengimbau kepada para wartawan agar turut menjaga stabilitas daerah dengan pemberitaan. “Saya harap rekan-rekan juga dapat menulis berita yang enak dibaca. Jangan bikin gaduh, jaga stabilitas daerah,” pungkasnya.

Di Gorontalo, sejumlah yang ditinggal Firdaus dan audah disupervisi oleh KPK dan telah ada rekomendasi dari lembaga anti rasuah antara lain; kasus dugaan korupsi pengadaan lahan Gorontalo Outer Ring Road, kasus dugaan mark up pengadaan alat kesehatan di RS Ainun, kasus dugaan korupsi Bimtek Pemdes Kabupaten Gorontalo, kasus dugaan korupsi 7 ruas jalan di Kota Gorontalo, dan kasus dana bantuan sosial di Bone Bolango.

Kali ini, Jaja kembali harus menuntaskan kasus-kasus peninggalan Firdaus.

Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar Djusman AR berharap Jaja membuka kasus-kasus yang didiamkan di wilayah kerja Kejati Sulsel.

Penggiat antikorupsi ini juga meminta agar pergantian pimpinan tidak menjadikan penindakan kasus macet dan tertunda.

Djusman menegaskan agar Jaja membuka semua kasus-kasus yang ditangani aspidsus dan seluruh kasus yang ditangani kejari-kejari di daerah di wilayah Sulselbar.

Dia pun menegaskan agar Jaja tidak menutup ruang masyarakat untuk turut berperanserta melawa korupsi. “Buka aksesitas publik selebar-lebarnya sebagaimana yang diatur dalam 41 UU No 31/99 berserta perubahannya UU No 20/2001 ttg pembeerantasan tipikor,” tegas Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar ini. (*)

Leave a Reply