Jaksa Agung Copot Kajati Sulsel Firdaus Dewilmar, Selamat Datang Jaja Subagja

Firdaus Dewilmar menjabat Kajati Sulsel terbilang singkat. Firdaus dimutasi menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Fungsional pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejagung.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mencopot jabatan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Firdaus Dewilmar, dan diplot sebagai sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Fungsional pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung RI.

Pencopotan Firdaus tertuang dalam Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor :KEP-380/A/JA/12/2019 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Jabatan Struktural di Lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.

Terkait mutasi, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung RI, Hari Sutiyono, membenarkan adanya mutasi dan promosi jabatan pada pengujung tahun 2019. Salah satunya terkait jabatan Kajati Sulsel, di mana Firdaus akan digantikan oleh Jaja Subagja yang sebelumnya menjabat Kajati Gorontalo.

“Benar terdapat mutasi dan promosi jabatan sebagaimana keputusan Jaksa Agung tersebut,” ucapnya.

Hari menjelaskan mutasi dan promosi jabatan itu tidak hanya di Sulsel. Sejumlah kajati di beberapa provinsi juga turut berganti. Di antaranya yakni Kajati Sulut, Kajati Nusa Tenggara Timur dan Kajati Gorontalo. Juga ada mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Kejagung.

Firdaus sendiri yang dicopot dari jabatan Kajati Sulsel akan menempati posisi di Kejagung. Ia diplot menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Fungsional pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejagung.

TERKAIT LAPORAN KMAK Dkk?
Firdaus menjabat Kajati Sulsel terbilang sangat singkat. Wajar jika muncul spekulasi, mungkinkah Firdaus dicopot karena laporan Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar dan Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi terkait kasus Jen Tang?

Menanggapi pencopotopan Firdaus, Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar Djusman AR menjawab singkat. “Selamat datang Kajati Baru dan yang lama silakan pergi.  Sulsel butuh kajati yang luar biasa kinerjanya, bukan yang luar biasa retorikanya,” kata Djusman.

Penggiat antikorupsi ini juga berpesan agar Kajati Sulsel pengganti Firdaus membuka kasus-kasus yang didiamkan di wilayah kerja Kejati Sulsel.

“Jangan karena pergantian pimpinan menjadikan penindakan kasus macet dan tertunda. Buka semua kasus-kasus yang ditangani aspidsus dan seluruh yang ditangani kejari-kejari di daerah di wilayah Sulselbar. Dan terakhir jangan pernah tutupkan ruang masyarakat untuk turut berperan serta melawan korupsi, buka aksesitas publik selebar-lebarnya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 41 UU No 31/99 berserta perubahannya UU No 20/2001 tentang pemberantasan tipikor,” tutur Djusman. (*)

Leave a Reply