Lockdown Malaysia Guncang Nelayan Sebatik Kabupaten Nunukan

Wakil Ketua Kadin Nunukan Bidang Perikanan Sofyan Ali Saputra berdiskusi dengan nelayan di Pulau Sebatik. (ist)

Kebijakan karantina wilayah yang diambil pemerintah Malaysia untuk meredam penyebaran Covid-19, mengguncang ekonomi nelayan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

NUNUKAN, NEWSURBAN.ID – Sejak kebijakan lockdown diterapkan Kerajaan Malaysia, nelayan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, cukup merasakan dampaknya. Penjualan mereka tergerus meski hasil tangkapannya tetap normal.

Namun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gizi ikan masyarakat dan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, nelayan tetap melakukan aktivitas penangkapan (berproduksi).

“Walaupun harga komoditas ikan tertentu turun, namun nelayan tetap survive melakukan penangkaan ikan,” kata Wakil Ketua Kadin Nunukan Bidang Perikanan Sofyan Ali Saputra.

Baca: Malaysia Lockdown, Ini Nasib Sembako Kabupaten Nunukan

Kadin Nunukan pun melakukan kunjungan lapangan di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan. “Hasil survey kami lagsung di lapangan kondisi para nelayan sangat dilematis dengan adanya SE larangan untuk beraktivitas sementara,” kata Sofyan.

Selain itu. Hasil tangkapan nelayan harus dijual door to door karena para pengepul (Toke) yang biasa membeli hasil tangkapan mereka, sementara ini menghentikan proses pemasarannya ke Tawau. “Tentu ini terkait lockdown yang dilakukan pemerintah Malaysia,” ungkapnya.

Persoalan lain. Aktivitas pelaku nelayan sangat terbatas untuk melakukan penangkapan (basic ground area). Biasanya nelayan melakukan penangkapan di perairan Pulau Bunyu, Tarakan, dan Berau beberapa pekan terakhir menjadi terbatas. “Sehingga menyebabkan nelayan selalu merugi dalam hal permodalan,” kata Sofyan.

Baca: Patut Jadi Contoh, Persit KCK Cabang LVIII Kodim Nunukan Jahit Masker Dibagikan ke Masyarakat

Meski begitu, mereka tetap melaut terbatas untuk pemenuhan kebutuhan komsumsi ikan masyarakat di Pulau Sebatik. “Pasokan ikan untuk warga sebatik saat ini terpenuhi,” imbuhnya.

Selain hanya melayani konsumsi lokal (Pulau Sebatik), harga juga turun drastis. “Inilah tadi kami sebutkan sebagai dilematis para nelayan. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya di sisi lain harga ikan hasil tangkapan harus dijual murah pada pengecer rumahan,” beber Sofyan.

Dia berharap wabah ini VICOD-19 cepat berakhir agar sektor kelautan dan perikanan dapat kembali berjalan normal.

Kadin Nunukan juga berharap pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dapat membantu meringankan beban nelayan untuk kebutuhan pokok seperti bahan pangan, listrik, air dan kebutuhan pokok lainnya. “Begitu juga dengan para pengekspor lokal untuk dapat di berikan keringanan kredit pinjaman dari perbankan (BUMN),” katanya.

Baca: Rp3,6 Miliar Anggaran Corona, Ini yang Dilakukan Gugus Tugas Covid-19 Nunukan

Sementara Ketua Kadin Nunukan Irsan Humokor, menyarankan kepada pemerintah, agar dapat menjalin kerja sama dengan pihak SKPT Sebatik untuk pemanfaatan coolstorage/pembekuan ikan. Menurut dia upaya sebagai persiapan pemenuhan kebutuhan ikan masyarakat untuk waktu yang lebih lama.

“Kita harapkan pemerintah dan pengelola coolstradge SKPT Sebatik bekerja sama membeli hasil tangkapan nelayan) untuk dibekukan di coolstridge dan tentu dengan harga yang ekonomis. Ini bisa mengantisipasi ketika terjadi lockdown yang berkepanjangan di Malaysia,” jelasnya.

Sementara Kepala SKPT Sebatik Iswadi Rachman menyebutkan data produksi ikan Januari 2020 adalah 749 ton dengan nilai Rp31,6 miliar, Februari 658 ton dengan nilai Rp38,1 miliar.

Selama pandemi Covid-19, Maret ini produksi hanya 363 ton dengan nilai Rp13,1 miliar. “Sejak Malaysia mengambil kebijakan lockdown pemasaran ikan nelayan tujuan Tawau terhenti,” katanya. (arung/*)

Leave a Reply