OPINI: “Antara Aku dan Buruh” May Day

Hj Asmin Laura Hafid SE MM. -ist-

Tepat pada hari Jumat bertepatan dengan tanggal 1 Mei 2020 Di seluruh dunia memperingatinya, begitu juga yang ada di Indonesia, setiap tahun seluruh buruh turun ke jalan guna memperingati May Day atau Hari Buruh Sedunia.

OLEH: Hj Asmin Laura Hafid SE, MM
NEWSURBAN.ID – Buruh menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dijelaskan bahwa, pekerja/buruh adalah setiap orang
yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Yakni Tenaga kerja pada setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan
guna mengahsilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau masyarakat. adapun pemberi kerja adalah perorangan,
pengusaha badan hukum atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Baca: Bupati Nunukan Hj Asmin Laura Hafid. SE, MM, Perempuan Perkasa di Perbatasan RI Malaysia

Sedangkan dalam konteks Indonesia, yang dimaksud dengan buruh adalah pekerja “berkerah biru” (blue collar) yang identik dengan orang pinggiran, berpendidikan minim. Dan kategori inilah yang dimaksud, karena tingkat kesejahteraannya berada di level rendah dalam kehidupan masyarakat.

Berbicara soal buruh hingga detik ini masih menjadi persoalan tiada henti. seolah-olah menjadi objek kajian yang tak akan pernah selesai untuk di bahas. Persoalan-persoalan buruh yang tak kunjung berakhir tersebut antara lain seputar kesejahteraan, upah buruh (UMR), sistem kontrak, outsourcing, PHK sudah menjadi benang kusut.

Parahnya, pemerintah kadang tak berpihak kepada mereka. bagiku Pemerintah sejatinya sebagai alat penyelamat nasib kaum buruh, tidak hanya Daerah tapi sampai kepada pusat haruslah saling bahu-membahu melihat kondisi buruh di republik indonesia dengan utuh.

Kita tak boleh melihat sebelah mata persoalan tersebut. Karena buruh menginginkan upahnya layak sesuai dengan kewajiban yang telah dikerjakan. upah yang terkadang mereka terima minim dan kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan akan hadirnya UU Omnibuslaw hak-hak buruh bisa saja terpangkas tanpa mempertimbangkan aspek keadilan sosial.

Posisi buruh di lapangan, sering kurang beruntung juga karena hubungannya dengan pemilik modal tak selalu berjalan mulus. Kepentingan diantara keduanya berbeda, Perspektif buruh ia bekerja untuk mendapatkan upah, karena ia telah mewakafkan tenaganya untuk pengusaha.

Baca: Demi Keselamatan, TGC Nunukan Gunakan Hotel Laura Rumah Singgah Tim Medis

Upah yang diterima tak sekedar untuk dirinya, namun untuk menghidupi anak istrinya. Tentu kontradiktif dengan pemikiran pemilik modal yang berpendapar bahwa laba dan keuntungan (profit) adalah tujuan akhir yang utama.

Begitu juga yang ada di Nunukan yang mungkin saja memiliki persoalan sendiri. Kehadiran Pemerintah merupakan bagian untuj menjadi penentu menyelesaikan persoalan antara Buruh dan Pemodal.

Harus kita akui dengan jujur, terkadang pada faktanya di lapangan peran pemerintah tidak bisa secara cepat menuntaskan persoalan tanpa adanya koordinasi dan sinergitas garis hirarki pemerintah dari pusat sampai ke daerah.

BURUH DI TENGAH PERSOALAN COVID-19
Surat Edaran (SE) Menaker Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Pelindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19.

Singkatnya bagi perusahaan yang melakukan pembatasan kegiatan usaha akibat kebijakan pemerintah di daerah masing-masing dalam hal pencegahan dan penanggulangan COVID-19 haruslah mempertimbangkan kelangsungan usaha maka perubahan besaran dan cara pembayaran upah pekerja/buruh dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara pengusaha dan buruh.

Adapun langkah Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota diantaranya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); menyebarkan informasi kepada semua jajaran organisasi dan pihak terkait yang berada di wilayah pembinaan dan pengawasan.

AKU INGIN BERSAMA BURUH
Berlikunya jalan bak berjalan diatas lumpur tidak mudah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para buruh dan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. buruh, pemilik modal dan negara haruslah bersatu, berdiskusi, mencari solusi agar segera meningkatkan kesejahteraan bagi para buruh, Aku ingin bersama buruh.

Kecamuk dalam batinku kutumpahkan kedalam untaian kalimat singkat ini, dialetika batinku menginginkan buruh pada taraf kehidupannya ke zona nyaman atas segala kewajiban yang telah mereka lakukan. Selamat Hari Buruh Sedunia. ! Aku Kawal Bersama Buruh! *

Penulis adalah Bupati Nunukan Kalimantan Utara

Leave a Reply