OPINI: Karantina Wilayah Atau Hentikan Sementara Aktifitas PT Vale

Zwaeb Laibe Pegiat Sosial Kemanusiaan

NEWSURBAN.ID – HAMPIR semua warga Luwu Timur yang positif terpapar Covid-19 yang kini jumlahnya mencapai 15 orang, asal muasal penularannya dari Sorowako. Menurut Juru Bicara (Jubir) TGTPP Luwu Timur, Masdin, orang yg pertama kali ditemukan dan dinyatakan positif terpapar Covid-19 di Kabupaten Luwu Timur adalah warga Sorowako.

“Pertama kali ditemukan positif Corona dari warga sana (Sorowako,red). Sejumlah kasus bermunculan pasti ada hubungannya. Sehingga hal ini dapat dikatakan klaster penyabaran virus Corona (di Luwu Timur) berasal dari Sorowako,” ungkap Masdin, seperti yg dilansir berita online newsurban,.id.

Baca juga: Klaster Penyebaran Covid-19 Luwu Timur Berasal Sorowako, Pemda Terapkan Isolasi Wilayah?

Masdin menyimpulkan, interaksi keluar kota masyarakat Sorowako yang mayoritas karyawan PT. Vale, dan para kontrakor pertambangan di sana cukup besar. Olehnya itu, TGTPP Luwu Timur menganggap bahwa penyebaran Covid-19 di Luwu Timur berasal dari daerah Sorowako.

Jika TGTPP Luwu Timur sudah memastikan bahwa transmisi lokal penyeberan virus mematikan itu dari Sorowako, kenapa masih harus berpikir mau melakukan ‘Karantina Wilayah’ area Sorowako dan sekitarmya untuk memutus mata rantai penyebarannya dari sana?

‘Karantina Wilayah’ ini sangat penting dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran (penularan) Covid-19 melalui perpindahan orang baik masuk maupun keluar dari wilayah Sorowako. Meskipun orang tersebut belum menunjukkan gejala apapun atau sedang berada dalam masa inkubasi. Sebab, Sorowako dianggap sebagai klaster yang menjadi transmisi lokal penyebaran Covid-19 di Luwu Timur.

Baca Juga: Husler Perintahkan Tim Gugus Rapid Tes Massal Petugas Kesehatan Luwu Timur

Lagi pula, Karantina Wilayah itu merupakan perintah undang-undang dalam meresppn Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, seperti yg diatur pada Ayat (1) Pasal 53 UU Nomor 06 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pada ayat (2) ditegaskan bahwa; ‘Karantina Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat di wilayah tersebut’.

Di wilayah Sorowako dan sekitarnya (Kecamatan Nuha dan Towuti) saat ini terdapat sedikitnya 9 dari 15 orang yg sudah dinyatakan positif Covid-19 di Luwu Timur. Dari 9 orang itu tersebar di dua kecamatan, masing-masing 5 orang di Kecamatan Nuha dan 4 orang di Kecamatan Towuti.

Selebihnya, berada di Kecamatan Wotu 2 orang, Angkona 2 orang, Malili dan Tomoni Timur masing-masing 1 orang. orang.

Baca juga; Bertambah Kasus Baru di Luwu Timur, Total 15 Orang Positif COVID-19

Apakah pemerintah daerah masih harus menunggu jumlah warga Luwu Timur yg positif terpapar virus mematikan ini, baru mau melakukan ‘Karantina Wilayah’ pada daerah Sorowako dan sekitarnya? Apakah masih menunggu penyebaran virus ini merasuk dulu ke semua daerah kecamatan hingga pedesaan di dalam wilayah Kabupaten Luwu Timur baru mau melakukan ‘Karantina Wilayah’ itu?.

Sebuah kelucuan, jika pemerintah Luwu Timur masih menganggap daerahnya saat ini masih sedang baik-baik saja? Lalu kemudian menjadi alasan untuk belum mau melakulan ‘Karantina Wilayah’ daerah Sorowako dan sekitarnya.

Lucu, karena menganggap ‘Karantina Wilayah’ itu adalah ‘benteng terakhir’ pertahanan dalam melindungi warganya dari ancaman kematian akibat Covid-19, sementara pemerintah daerah Luwu Timur sendiri sudah menetapkan status Luwu Timur pada fase Tanggap Darurat.

Fase Tanggap Darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana dalam menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang antara lain meliputi kegiatan penyelamatan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana.

Pada status Tanggap Darurat ini, warga Luwu Timur harus segera diselamatkan, harus dilindungi, dan segera dipenuhi kebutuhan dasarnya berdasarkan perintah Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

Namun, jika masih setengah hati dan belum mau menetapkan ‘Karantina Wilayah pada daerah Sorowako dan sekitarnya, pemimpin tertinggi di Luwu Timur minimal punya keberanian untuk memerintahkan manajemen PT. Vale memberhetikan sementara segala rangkaian kegiatan produksi pertambangan nikelnya hingga mata rantai penyebaran Covid-19 benar-benar sudah terputus dari sana.

Berdasarkan datanya, kesembilan orang penyintas Covid-19 yg tersebar di dua kecamatan dalam wilayah Sorowako, yakni Kecamatan Nuha dan Tiwuti adalah karyawan dan mitra kerja PT. Vale.

Pemerintah Luwu Timur harus berjiwa besar dan mengesampingkan dulu ketakutannya kehilangan pendapatan asli daerah yg bersumber dari PT.Vale. Bukankah nyawa warga Luwu Timur jauh lebih berharga daripada pendapatan asli daerah yg bersumber dari PT. Vale?

Mengutip kalimat Gubernur DKI, Anies Baswedan; “ekonomi yg ambruk masih bisa dipulihkan di masa datang. Tapi, jika nyawa manusia yg hilang, hingga saat ini belum ditemukan rumus untuk mengembalikannya.
Salam Kemanusiaan!!

Penulis: Zwaeb Laibe Pegiat Sosial Kemanusiaan

Leave a Reply