OPINI: Qua Vadis Nilai-nilai Pancasila

Ilustrasi

Pancasila lahir dari sebuah konsep keberagaman Indonesia, sehingga persoalan perbedaan etnis, agama, ideologi sudah tidak relevan lagi untuk dibahas hari ini, mengingat Indonesia sudah cukup tua untuk mengenal perbedaan itu.

Oleh: Febrianus Felis

NUNUKAN, NEWSURNAN.ID – 75 tahun silam tepatnya 1 Juni 1945 melalui sebuah sidang BPUPKI yang di dalamnya terdapat pertarungan ide dan gagasan dari berbagai kalangan, profesi, etnis, agama, untuk merumuskan dasar negara Indonesia, alhasil Pancasila ditetapkan sebagai haluan ideologi bangsa dan negara Indonesia.

Pancasila lahir dari sebuah konsep keberagaman Indonesia, sehingga persoalan perbedaan etnis, agama, ideologi sudah tidak relevan lagi untuk dibahas hari ini, mengingat Indonesia sudah cukup tua untuk mengenal perbedaan itu.

Belakangan ini, melalui Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), pemerintah kembali ingin membahas persoalan ideologi bangsa yang sudah selesai 75 tahun yang silam. RUU ini dipandang bermasalah karena tidak memasukan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme sebagai peraturan konsideran.

Pemerintah seolah mengkhawatirkan ada ideologi lain yang dapat menggoncangkan persatuan dan kesatuan bangsa, padahal dalam pidato 1 Juni 2018, Presiden Joko Widodo sendiri yang mengkonfirmasi bahwasannya Pancasila akan bertahan di tengah kemunculan ideologi lain, lalu apa yang perlu dikhawatirkan dengan posisi Pancasila sebagai ideologi bangsa hari ini.

Pertanyaan lain yang muncul adalah apa urgensinya di tengah situasi negara yang sedang ‘sakit’ akibat pandemik COVID-19. Alih-alih menyoroti ketimpangan sosial, korupsi, pelanggaran HAM, kemiskinan yang dialami warga sampai hari ini ditambah lagi masalah COVID-19, ada warga yang sampai hari ini belum bisa makan akibat bantuan sosial yang tidak merata bahkan tidak tepat sasaran, kena PHK, upah buruh tidak layak, BPJS naik, kehilangan tempat tinggal, pasien positif COVID-19 yang menyentuh angka 26.473 dan Indonesia menempati urutan ke-33 negara dengan kasus terbanyak.

Dengan persoalan bangsa yang begitu kompleks hari ini lalu kita hubungkan dengan Pancasila sebagai arah dan pedoman hidup bangsa, sila keberapa yang sudah bahkan sedang diamalkan oleh negara melalui pemerintah kepada warga negaranya.

Tepatkah slogan Gotong Royong yang dimaksudkan dalam tema besar hari ini untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila. Pancasila memiliki lima sila dan masing-masing sila memiliki butir-butir yang harus diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita harus memandang Pancasila secara integralistik, sehingga tidak terfokus pada satu sila dan mengabaikan sila-sila yang lain.

Ketika pemerintah menginginkan warganya untuk bersatu dan bergotong royong, maka disamping itu pemerintah harus lebih dulu memastikan keadilan sosialnya sudah merata terutama kesenjangan sosial dan ekonomi, keselamatan warga negara, dan sebagainya. Logikanya jadi terbalik ketika ada orang yang perutnya lapar diminta untuk berpikir yang rasional.

Oleh karena itu, cara memaknai Pancasila adalah dengan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan setiap hari di lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara, dan pemerintah harus hadir untuk memastikan semua kebijakan (policy) negara yang dikeluarkan mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Karena hanya dengan begitu warga negara dapat mengenali nilai- nilai Pancasila secara integral, bukan melalui seremonial setiap 1 Juni.

Pancasila diciptakan bukan untuk sekedar diperingati setiap 1 Juni, tapi untuk diamalkan nilai-nilainya setiap harinya. Mari bersama untuk merevitalisasikan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Penulis adalah Aktivis Keberagaman (Interfaith Youth Camp Ambon)


Leave a Reply