Warning Bawaslu: Sanksi Diskualifikasi Menanti Petahana yang Politisasi Bansos

Fritz Edward Siregar Koordinator Divisi Hukum, Humas, dan Datin Bawaslu. (dok)

Bawaslu menyebut ada tiga bentuk politisasi bantuan masa pandemi COVID-19. Yakni dilabeli gambar kepala daerah, simbol-simbol politik, pemberian bansos atas nama pribadi kepala daerah.

JAKARTA, NEWSURBAN.ID – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Fritz Edward Siregar mengatakan kepala daerah yang melakukan penyalahgunaan kekuasaan bisa terkena sanksi meski ditetapkan sebagai calon kepala daerah.

Fritz menyebut contoh calon petahana yang melakukan penyalahgunaan program bantuan sosial (bansos). Menurutnya, sanksi pembatalan pencalonan menanti para kepala daerah yang akan maju kembali dalam Pilkada Serentak 2020.

“Calon kepala daerah yang melakukan ‘abuse of power’ (penyalahgunaan kekuasaan) seperti menabung persoalan di kemudian hari. Ditunggu (penindakan pelanggaran calon kepala daerah tersebut) sampai penetapan calon dilakukan,” jelasnya dalam diskusi daring berjudul Dilema Pengawasan Pilkada di Tengah Bahaya Covid, Jumat (5/6).

Baca: Bawaslu Ingatkan ASN Tidak Berpolitik, Parpol Tak Bebani Paslon dengan Mahar

Fritz yang juga Koordinator Divisi Hukum, Humas, dan Datin Bawaslu mengatakan, aturan tersebut tertuang dalam UU Pilkada 10/2016 Pasal 71 Ayat 3 yang mengatur larangan menggunakan kewenangan program dan kegiatan yang menguntungkan dan merugikan salah satu pasangan calon baik di daerah sendiri maupun di daerah lain terhitung enam bulan sebelum tanggal penetapan pasangan calon.

Pada Ayat 4, lanjutnya, dijelaskan pula jika melanggar Pasal 71 Ayat 1 hingga Ayat 3 bagi gubernur  atau wakil gubernur, bupati atau wakil bupati dan walikota atau wakil walikota sebagai calon petahana, maka bisa dikenakan sanksi pembatalan sebagai calon oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.

“Pelanggaran itu akan diproses sebagai dasar pelaksanaan undang-undang. Hanya saja  penanganan pelanggarannya baru dapat diproses apabila sudah ditetapkan calonnya,” sebut Fritz.

Baca: Organisasi Mahasiswa Sentil Bantuan Berisi Kalender dan Capaian Kenerja Bergambar Gubernur

Fritz meyakinkan, penyalahgunaan kekuasaan ini menjadi salah satu potensi kerawanan Pilkada 2020 yang dapat dilakukan oleh bakal calon petahana. “Petahana yang menempelkan fotonya saat memberikan bansos itu berpotensi melanggar UU Pilkada Pasal 71 Ayat 3 dan Pasal 73 Ayat 1,” ujarnya.

Dia menjabarkan, setidaknya ada tiga bentuk politisasi bantuan masa pandemik covid-19.

Petama, bansos dibungkus dan dilabeli gambar kepala daerah.

Kedua, bansos dibungkus dan dilabeli simbol-simbol politik.

Ketiga, pemberian bansos bukan atas nama pemerintah daerah melainkan atas nama pribadi kepala daerah.

Baca: Koalisi Masyarakat Sipil Desak KPU Tunda Pilkada September 2021

Fritz mengajak masyarakat untuk segera melapor kepada pihak yang berwenang apabila menemukan politisasi bantuan oleh kalangan bakal calon petahana.

“Masyarakat dapat melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang terkait pemanfaatan pemberian bansos oleh kepala daerah untuk kepentingan praktis dalam pemilihan serentak tahun 2020,” ajak dia. (#)

One thought on “Warning Bawaslu: Sanksi Diskualifikasi Menanti Petahana yang Politisasi Bansos

  1. Pingback: Terbukti Money Politics, Paslon Kepala Daerah Didiskualifikasi | Newsurban

Leave a Reply