Tiga Sekolah Filial di Pedalaman Nunukan Segera Jadi Negeri

Tiga sekolah filial (swasta) di pedalaman Kabupaten Nunukan dinilai memenuhi syarat menjadi sekolah negeri.

NUNUKAN, NEWSURBAN.ID – Dinas pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Nunukan akan menaikkan status tiga sekolah filial menjadi negeri sekaligus. Tiga sekolah yang ada di pedalaman Kabupaten Nunukan tersebut dinilai memenuhi syarat kelayakan.

Ketiga sekolah yang akan di berstatus negeri yang termaksud sebagai sekolah Filial itu diantaranya, sekolah SMP Semaja di Kecamatan Seimenggaris, SMPN 01 Seimenggaris, SD Sekapal, Kecamatan Serimenggaris filial SD 009 Sei Fatimah, Kecamatan Nunukan dan SD Kampung Tellang, Desa Binalawan di Kecamatan Sebatik Barat.

Baca: Bupati Nunukan Apresiasi dan Dukungan Penuh Reuni Haji 2019

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan H Junaedi mengatakan, perubahan status negeri tiga sekolah filial tersebut merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan siswa didiknya yang jarak tempat tinggal siswa-siswi yang jauh.

Tidak hanya itu, biasanya juga karena keterbatasan kursi atau kelas yang tidak memungkinkan yang melebihi kapasitas muat.

“Dari ketiga sekolah ini. Alhamdulillah sudah memenuhi syarat dan memang sudah layak dinegerikan, Surat keputusan (SK) persetujuannya hanya tinggal ditandatangani Bupati Nunukan saja,” kata Junaedi, Jumat (7/8/2020).

Baca: Pengurus Saka Widya Budaya Bakti Dinas Pendidikan Nunukan Dikukuhkan

Selain itu, kata Junaedi, hingga saat ini ada beberapa sekolah yang masih berstatus filial yang ingin mengubah setatus menjadi negeri. Namun yang tiga sekolah saja yang dianggap layak dan memenuhi syarat.

Sekolah filial yang diajukan itu diantaranya adalah SD filial di Desa Seberang, Kecamatan Sebatik Utara, SD filial Prona di Kecamatan Seimenggaris dan SD di SP 5 Sebakis, Kecamatan Nunukan yang induknya di SDN 02 Seimenggaris.

“Untuk tahun ini hanya 3 saja yang telah memenuhi syarat dan kami (dispedikbud) anggap layak dan setelah dilakukan survei kelayakan untuk diubah statusnya menjadi sekolah negeri,” jelasnya.

Baca: Disdikbud Nunukan Recana Buka Bertahap Pembelajaran Tatap Muka

Kemudian dari data yang disampaikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nunukan, selain 3 sekolah yang akan di negerikan, ada pula tiga sekolah filial lainnya, namun untuk berganti status negeri ketiganya belum memenuhi syarat kelayakan.

Junaedi mengatakan alasan kenapa sekolah tiga tersebut tidak di negerikan salah satunya karena kelayakan standar tenaga pengajar yang masih berstatus honorer dan hanya bertamatan SLTA.

“Sebenarnya, ada satu sekolah filial yang sebenarnya layak, seperti di SD yang berada di Kawasan Transmigrasi SP 5 Sebakis, Kelurahan Nunukan Barat, yang telah memenuhi persyaratan untuk dimandirikan. Karena jumlah murid di SP 5 Sebakis itu sudah hampir 100 orang, lahan gedung belajar sekarang telah dihibahkan, ditambah tenaga pengajar disana belum memenuhi syarat,” tambah Junaedi.

Padahal, Junaedi menyampaikan kondisi wilayah SD di kawasan transmigrasi SP5 Sebakis yang sangat memprihatinkan karena ketiadaan akses ke luar masuk di kawasan tersebut.

“Jika melihat dari siswanya di SD Filial di SP5 Kawasan Transmigrasi di Sebakis, sudah mencapai 100 orang itu saya rasa sudah layak di ubah seratus menjadi negeri, dan kondisinya akses masuk dan keluar itu tidak ada atau sangat sulit sekali, apa lagi letak sekolah di kawasan transmigrasi ini sangat terisoliasi,” bebernya.

Baca: Kabupaten Nunukan Belum Bisa Buka Pembelajaran Tatap Muka

Perlu diketahui hingga saat ini biaya operasional, termasuk gaji tenaga guru dan pengadaan sarana prasarana SD filial SP 5 Sebakis masih berasal dari dana BOS SDN 02 Seimenggaris.

Lebih jauh, kata Kadisdik Nunukan, jika ada sekolah baru yang akan di negerikan maka secara otomatis akan ada kepala sekolah yang akan menempati.

“Untuk sekolah yang akan di negerikan di tiga sekolah itu, saat ini sudah ditempatkan Pelaksana Tugas (PLT) untuk mengisi posisi sebagai kepala sekolah, sambil kita menunggu penambahan sdm di bidang pendidikan agar semua bisa berstatus definitif.” Pungkas Junaedi. (ar)

Leave a Reply