Investasi Empat Proyek Raksasa Sektor Hulu Migas RI Capai USD37,21 M

Blok Masela salah satu proyek hulu migas nasional terbesar hingga saat ini dengan nilai investasi mencapai USD19,8 miliar.

Meski proyeksi investasi hulu migas tahun ini hanya sebesar USD11,6 miliar, namun Indonesia kini memiliki setidaknya empat proyek strategis hulu migas skala besar dengan total nilai investasi mencapai USD37,21 miliar.

JAKARTA, NEWSURBAN.ID – Pemerintah memiliki target bisa menarik investasi baru di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga USD70 miliar dalam jangka panjang.

Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Minggu (23/8), ada empat proyek strategis hulu migas berskala besar yang saat ini tengah dikembangkan investor.

Pertama, Proyek Gas Jambaran Tiung Biru dengan nilai investasi dari proyek ini diperkirakan sebesar USD1,53 miliar. Proyek ini merupakan unitisasi dua lapangan yakni Lapangan Jambaran dan Lapangan Tiung Biru, Blok Cepu, Jawa Timur, yang dikelola PT Pertamina EP Cepu.

BACA



Proyek unitisasi dua lapangan gas ini,
Sampai Juni 2020, mencapai 66,62% dan diperkirakan bisa mulai beroperasi pada kuartal keempat 2021.

Produksi gas dari unitisasi dua lapangan ini diprediksikan mencapai 190 juta kaki kubik per hari (mmscfd).

Kedua, Proyek Indonesia Deep Water Development (IDD) dengan nilai investasi diperkirakan sebesar USD 6,98 miliar.

Proyek ini terletak di Kutai Basin, lepas pantai Kalimantan Timur ini terdiri dari Lapangan Bangka, Gendalo Hub dan Gehem Hub yang dikembangkan Chevron Indonesia Company Ltd. Chevron telah memproduksi gas dari Lapangan Bangka mulai Agustus 2016 dengan kapasitas produksi hingga 110 mmscfd.

Namun untuk pengembangan Gendalo dan Gehem Hub, hingga saat ini masih mengalami sejumlah kendala, termasuk rencana Chevron yang memutuskan bahwa proyek IDD ini tidak dapat bersaing dalam portofolio global perusahaan dan kini sedang mengevaluasi kepemilikan dan pengoperasian 62% sahamnya di proyek IDD ini.

Berdasarkan data SKK Migas, saat ini proyek ini sedang dalam tahap proses evaluasi persetujuan revisi Rencana Pengembangan (Plan of Development/ PoD ) I dan juga proses evaluasi usulan perpanjangan Blok Rapak dan Blok Ganal.

Bila Gendalo dan Gehem Hub ini beroperasi, maka diperkirakan bisa menghasilkan gas sebanyak 844 mmscfd dan 27.000 barel minyak per hari.

Hingga saat ini SKK Migas masih menargetkan proyek ini secara keseluruhan bisa beroperasi pada kuartal keempat 2025.

Ketiga, Train 3 LNG Tangguh dengan nilai Adapun nilai investasi dari proyek ini yaitu USD8,9 miliar.

Proyek ini merupakan ekspansi dari kilang gas alam cair (LNG) Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat yang dioperasikan BP Berau Ltd. Saat ini proyek pembangunan kilang di darat telah mencapai 83,27% dan fasilitas di laut 98,15%.

Proyek ekspansi ini diperkirakan menghasilkan gas 700 mmscfd dan 3.000 barel minyak per hari. Produksi gas dari train 3 Tangguh ini setara dengan 3,8 juta ton LNG per tahun (mtpa).

Saat ini BP telah mengoperasikan dua train dengan kapasitas masing-masing sebesar 3,8 mtpa. Bila train tiga ini beroperasi, maka total LNG yang dihasilkan mencapai 11,4 juta ton per tahun.

SKK Migas sampai saat ini masih menargetkan train 3 Tangguh ini bisa mulai beroperasi pada kuartal keempat 2021.

Keempat Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Ini merupakan proyek hulu migas nasional terbesar hingga saat ini yang mencapai USD19,8 miliar.

Ini merupakan salah satu proyek hulu migas yang sudah lama tertunda. Pasalnya, kontrak pengelolaan blok ini telah ditandatangani sejak 1998 oleh Inpex dan mulai menemukan cadangan sejak 2000 setelah pemboran sumur eksplorasi pertamanya, namun hingga saat ini belum bisa berproduksi.

Setelah proses kajian bertahun-tahun, akhirnya pemerintah memberikan persetujuan revisi Rencana Pengembangan (Plan of Development/ PoD) I kepada Inpex pada 5 Juli 2019.

Proyek gas yang dikelola Inpex Masela Ltd ini telah memperoleh Surat Keputusan (SK) Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah untuk Pelabuhan Kilang LNG Abadi pada 1 Juni 2020 dari Gubernur Maluku, di mana lokasi pelabuhan ditetapkan di Pulau Nustual Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Saat ini perusahaan tengah melakukan lelang Front End Engineering Design (FEED), Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan pipa bawah laut.

Proyek gas Masela ini diperkirakan bisa memproduksi 1.600 mmscfd gas atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun (mtpa) dan gas pipa 150 mmscfd serta 35.000 barel minyak per hari. Adapun proyek ini diharapkan bisa beroperasi pada kuartal kedua 2027. #

Leave a Reply