Pengamat: Rupiah Bakal Terus Menguat Sepanjang September 2020

Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, rupiah menutup hari perdagangan terakhir Agustus, Senin (31/8/2020) pada posisi Rp14.563 per dolar AS, menguat 70 poin (0,47%).

JAKARTA, NEWSURBAN.ID – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup di zona hijau selama perdagangan Agustus 2020. Potensi penguatan diperkirakan berlanjut pada September 2020.

Dilansir Bloomberg, pada penutupan perdagangan bulan Agustus, Senin (31/8/2020), rupiah menguat 70 poin (0,47%) ke level Rp14.563 per dolar AS.

Kendati sempat turun ke level Rp14.845 per dolar AS pada pertengahan bulan, kurs rupiah berhasil bergerak menguat 0,25 persen terhadap dolar AS sepanjang Agustus 2020.

Baca Juga: Sucofindo Beri Bantuan Masker KN95 Untuk Tenaga Medis RSCM

Tren penguatan nilai tukar itu menjadi penguatan pertama rupiah di bulan Agustus sejak 2003. Pasalnya, secara historikal, rupiah selalu terkoreksi selama Agustus seiring dengan kebutuhan dolar AS yang meningkat untuk pembayaran dividen.

Meski demikian, di antara mata uang negara berkembang di Asia lainnya, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk ketiga tepat di atas rupee yang hanya menguat 0,003 persen, dan dolar Taiwan yang terkoreksi 0,099 persen.

Tren penguatan rupiah menjadi menatik perhatian banyak pihak. Kepala Riset Kawasan Asia di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. Singapura Khoon Goh mengatakan, rupiah berhasil menyesuaikan pelemahan musiman selama paruh pertama Agustus dan berbalik menguat di akhir bulan ini berkat pelemahan dolar AS yang cukup signifikan.

Baca Juga: Jubir Presiden Sebut Influencer Berperan Dorong Demokrasi Digital

Menurutnya, pelemahan dolar AS itu dipicu pidato bernada dovish dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang memberikan sinyal untuk mempertahankan suku bunga di tingkat yang rendah dalam jangka waktu yang lama.

“Mata uang Rupiah mungkin dapat memperpanjang kenaikan dalam beberapa bulan mendatang tetapi masih menghadapi banyak hambatan. Arus keluar asing yang dipicu oleh pandemi Covid-19 telah melambat, tetapi belum diganti dengan arus masuk yang signifikan,” ujar Goh dikutip dari Bloomberg, Senin (31/8).

Namun kata dia, masih terdapat kekhawatiran pasar tentang rencana monetisasi utang bank sentral, sehingga pihaknya memangkas perkiraan akhir tahun untuk rupiah menjadi Rp14.300 per dolar AS dari estimasi sebelumnya Rp13.950 per dolar AS.

Masih soal itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa fokus utama pasar pada perdagangan September akan tertuju pada perkembangan perundingan dagang antara AS dan China serta vaksin Covid-19.

Baca Juga: BNI Syariah Target Penjualan Sukuk Ritel SR013 Rp75 Miliar

Menurut dia, data-data ekonomi dalam negeri diprediksi masih akan mendukung rupiah untuk bergerak menguat. Neraca dagang diprediksi masih akan surplus, sedangkan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia juga diyakini masih di tingkat rendah sehingga menjadi katalis positif bagi nilai tukar.

“Pada September rupiah diprediksi masih bergerak di kisaran tipis antara Rp14.500 per dolar AS hingga Rp14.700. Sentimen negatif dan positif masih akan tarik-menarik dengan dua fokus utama pasar perkembangan Covid-19 di dalam negeri dan perundingan dagang,” ujar Josua.

Menurut dia, pasar berharap dengan banyaknya stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia serta harapan stimulus pemulihan ekonomi nasional (PEN) dapat memiliki progres lebih cepat bisa menjadi sinyal positif untuk membatasi pelemahan rupiah tidak menembus ke atas Rp14.700 per dolar AS.

BACA



(*)

Leave a Reply