Apresiasi Penangkapan DPO Korupsi Bank Sulselbar, Djusman AR: Ayo Buru Lima Buronan Lainnya!

Djusman AR, penggiat anti korupsi.

Mengapresiasi penangkapan terpidana kasus korupsi Bank Sulselbar yang buron sepuluh tahun, penggiat anti korupsi, Djusman AR mendesak pihak Kejaksaan memburu lima buronan lainnya dalam kasus yang sama.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Direktur Lembaga Peduli Sosial Ekonomi Budaya Hukum & Politik (LP-SIBUK) Sulsel Djusman AR selaku saksi pelapor kasus Bank Sulselbar Pasangkayu Mamuju dengan kerugian 41 M mengapreseasi penangkapan buronan terpidana Arman Laode Hasan.

“Namun kejadian adanya DPO (daftar pencarian orang) harusnya menjadi pelajaran berharga ke depannya bagi Kejaksaan untuk lebih protektif, koordinatif, dengan elemen terkait dalam upaya pengawasan terhadap ruang gerak para tersangka, terdakwa apalagi terhadap yang masih berproses upaya banding dan kasasinya,” jelas Djusman.

Menurut dia, kasus itu pertama bergulir sejak dilaporkannya tahun 2006 hingga dinaikkannya ke tahap penyidikan pada 2007 disertai penetapan tersangka berjumlah 17 orang. Kemudian memasuki persidangan hingga berstatus inkrah tahun 2013. Saat itu, semua terpidana pada ramai-ramai mengajukan upaya banding hingga kasasi.

Penangkapan terpidana kasus korupsi Rp41 miliar di Bank Sulselbar Cabang Pasangkayu. (foto dok Kejati Sulbar)

Baca Juga: 10 Tahun Buron, Terpidana Korupsi Bank Sulselbar Ditangkap Kejagung

Dia menjelaskan, modus operandi kasus tersebut adalah proyek jasa konstruksi fiktif dimana dalam temuan investigasi lembaga kami saat itu terdapat 150 kontraktor/perusahaan mengajukan permohonan kredit jasa konstruksi pada Bank Sulsel Cabang Pasangkayu dengan nilai masing-masing Rp4 ratus juta sampai dengan Rp1 miliar dengan jaminan kontrak kerja fiktif, Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) fiktif, sertifikat tanpa surat kuasa dari pemegang hak.

Meski fiktif, Komite Kredit Bank Sulsel Cabang Pasangkayu memberi persetujuan kredit tersebut secara keseluruhan sekitar Rp41 miliar tanpa melakukan penelitian dan penilaian secara seksama terhadap jaminan/agunan yang diajukan oleh para kontraktor.

Kasus itu sangat heboh pada zamannya karena merupakan kasus korupsi perbankan yang pertama kalinya terbongkar di Indonesia timur. “Luar biasa investigasinya saat itu karena data perbankan bukan hal yang gampang diperoleh, tidak seperti kantor-kantor lembaga lainnya tapi ya namanya kerja investigasi memang harus tajam dan profesional,” ujar Djusman.

Sementara Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulbar Johny Manurung, mengatakan Arman Laode Hasan termasuk dari enam orang DPO dalam kasus tersebut. Dengan ditangkapnya Arman Laode Hasan, kini sisa lima DPO yang masih diburu oleh Kejati Sulbar.

Baca Juga: Buronan Terpidana Korupsi Joko Susilo Ditangkap

“Sisa lima DPO yang masih kita buru karena satu terpidana hari ini berhasil dieksekusi di tempat persembunyiannya,” ungkap Jhony.

Arman Laode Hasan kata dia, terbukti bersalah oleh pengadilan Tipikor karena melakukan kredit fiktif modal kerja jasa konstruksi di Bank BPD Sulselbar Cabang Pasangkayu.
Ia sempat menghilang selama 10 tahun dan merupakan DPO keempat yang berhasil diamankan oleh tim intelijen Kejati Sulbar.

“Tim intelijen telah melakukan pemantauan selama kurang lebih dua hari dan setelah berhasil meyakinkan bahwa terpidana ada di lokasi tersebut, tim intelijen bergerak dan berhasil melakukan penangkapan terpidana dan langsung membawa terpidana ke Kejari Makasar untuk dilakukan rapid test. Selanjutnya terpidana dibawa ke Mamuju,” jelasnya. (*)

Leave a Reply