Polemik Pernyataan DP, Begini Tanggapan Djusman AR

Polemik pernyataan Mohammad Ramdhan Pomanto di kanal Youtube Rijal Djamal ditanggapi penggiat anti korupsi Djusman AR. Menurutnya pernyataan Danny Pomanto tersebut adalah komitmennya untuk pemberantasan korupsi di lingkungan Pemerintah Kota Makassar.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Penggiat anti korupsi Djusman AR menegaskan, terkait pernyataan Danny Pomanto dalam wawancara life di kanal Youtube Rijal Djamal, adalah salah satu komitmen untuk memberantas korupsi di lingkup Pemkot Makassar.

“Saya ini mau membersihkan pemerintah kota, komitmen saya pemberantasan korupsi, kenapa saya memberantas korupsi orang marah,” begitu salah satu penggalan kalimat dalam Wawancara Mohammad Ramdhan Pomanto di kanal youtube Rijal Djamal.

Menurut Djusman, pernyataan tersebut disampaikan Danny Pomanto berkaitan dengan komitmennya dalam pemberantasan korupsi. “Menurut saya itu benar,” ujar Djusman.

Djusman mengaku, sejauh ini semasa Danny Pomanto memimpin Kota Makassar, investigator lembaganya tidak pernah kesulitan dalam mengakses data. Anggotanya tidak pernah mendapatkan intervensi, gangguan, dan hambatan-hamtaban dalam bentuk apapun.

“Itu artinya Pak DP punya komitmen kuat dalam mewujudkan good governance dan clean government,” katanya.

Djusman menyebut contoh, beberapa kasus yang mencuat di masa kepemimpinan DP, baik yang terjadi pada masa pejabat seblumnya maupun yang terjadi di masa menjabatnya. Ambil contoh masa sebelum menjabatnya yakni kasus PDAM, CCC, Damkar, dan lain-lain kemudian masa menjabatnya muncul kasus fee 30% dan seterusnya.

“Sejauh ini kawan-kawan NGO pun juga tidak pernah kedengaran mengeluh mengakses data. Saya termasuk kenal dengan Pak DP bahkan saya pernah menjadi advisnya dalam hal pencegahan korupsi,” kata Djusman.

Baca Juga: Parpol Pendukung Danny-Fatma Kompak Bergerak Hingga ke RT/RW

Dia mengungkapkan, di masa Danny Pomanto memimpin Makassar, Djusman mengaku diajak dan bersedia menjadi advisor. “Masih teringat saya bilang kepada beliau, demi kebaikan karena pemberantasan korupsi bukan hanya menganut penindakan tapi juga upaya pencegahan, maka saya meresponsnya dengan catatan sebatas sharing pendapat biasa saja,” jelasnya.

Djusman, mengaku dirinya bukan advisor yang terikat dengan birokrasi dan kompensasi apalagi yang bersumber dari APBD. “Nah niatnya itu kan juga menjadi ukuran atas komitmen pemberantasan korupsi. Ia pun mengamini dan bahkan sangat berterimakasih atas kesediaan saya,” ucap Djusman.

Dia mengaku, saat itu, dirinya katakan kepada DP bahwa dia juga menginginkan terjalinnya sinergi untuk aksesitas data khususnya yang terduga menyimpang dari ketentuan pertanggungjawaban keuangan. Lagi-lagi DP menjawab dangan penuh semangat. “Itu yang saya maui Pak Djus, bantuka kodong tertibkan birokrasi Pemkot Makassar, saya tidak mau ada jajaranku yang menyalahgunakan kewenangannya apalagi berbuat korupsi,” kata Djusman mengutip kalimat DP.

Baca Juga: Gowes Bareng Rudal Community, Danny-Fatma Menyapa Warga

Bang Djus yang dikenal selaku saksi pelapor dua kasus korupsi besar di Makassar yang melibatkan dua mantan Walikota Makassar, yakni Amiruddin Maula dan Ilham Arief Sirajuddin menegaskan, dirinya tidak mau terlibat dalam persoalan poliitik. Namun sambung dia, karena publik menyinggung soal pemberantasan korupsi, maka ia meresponsnya.

Menurutnya, perbuatan korupsi terjadi bukan hanya karena ketidaktahuan tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, tapi juga lebih dominan karena sifat keserakahan, ambisi memperkaya diri, keluarga, dan kelompok.

“Hal itu sangat berpotensi terjadi kepada semua pemimpin. Mengapa demikan karena memiliki kekuasaan. Kekuasaan melahirkan peluang dan kesempatan. Nah silakan publik menelisik itu, apa yang terjadi di Kota Makassar pada kepemimpinan Danny dan masa prjabat sebelumya? Apakah ada yang terbukti terjerat korupsi hingga menjadi penghuni hotel prodeo? Dan apakah Danny Pomanto juga terjerat hukum dalam praktik korupsi? Publik harus menilai itu, berdasar pembuktian, bukan asumsi dan hanya faktor like dislike,” beber Djusman.

Baca Juga: Rapsel Ali Sebut Dua Keunggulan ADAMA Tak Dimiliki Paslon Lain

Dia mengatakan, bagi pihaknya selaku penggiat anti korupsi, prinsipnya “kalau bersih kenapa risih”. “Mari kita menanamkan berani jujur hebat, jadi kalau ada yang terusik dengan pernyataan Danny itu, maka patut diperiksa kesehataannya. Kan pernyataan dan pembuktian sikap Danny itu harusnya disupport oleh semua pihak, bukan malah memusuhinya,” kata dia.

Djusman mengingatkan, yang dimaksud pemimpin anti korupsi itu bukan hanya pemimpin yang ketika menemukan laporan atau data dari pihak berwenang, misalnya dari inspektorat, BPKP, dan APIP lalu pemimpin itu sendiri yang datang ke institusi penegak hukum melaporkan kasus tersebut.

Penegasan berperan serta kata dia, juga menganut proporsionalisme. “Misalnya pemimpin yang tidak pernah bersikap mengintervensi, merintangi, atau menghalang-halangi lembaga manapun menginvestigasi pos-pos anggaran terguna di wilayah kepemimpinannya,” katanya.

Soal kisruh Danny Pomanto dan Ilham Arief Sirajuddin, Djusman enggan memberi komentar. Ia hanya berpesan maknai itu definisi modus korupsi. “Ada beberapa oknum terjerat korupsi karena memang terbukti serakah dan bersandiwara di hadapan publik. Telisik track record oknum yang berpolemik,” kilahnya.

Setelah memahami itu, sambung dia, maka akan tahu jujur itu memang mahal dan pembohong berkawan dengan setan. “Maaf saya tidak mau tergiring ke ranah politik praktis, siapa jujur dan siapa berbohong,” ucapnya. (*)

Leave a Reply