Akademisi: Kasus DP Diduga Fitnah JK Berpotensi Buat Fatma Jadi Wali Kota

“Tuduhan fitnah terhadap JK yang diduga dilakukan DP dapat berujung pada sejarah baru di Makassar. Kalau ADAMA keluar sebagai pemenang dan DP pada akhirnya diputuskan bersalah, maka berarti Fatmawati yang akan menggantikan posisi DP sebagai wali kota.” Anugrah Amir, akademisi.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Rekaman suara mirip Danny Pomanto (DP) yang memfitnah mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, sebagai dalang penangkapan Menteri KKP RI, Edhy Prabowo, terus diperbincangkan publik di Kota Makassar. Isu ini dinilai tidak cuma dapat mempengaruhi pemilih pada Pilwalkot Makassar 2020, tapi juga bisa mengubah konstelasi kepemimpinan jika pada akhirnya DP bersama Fatmawati RMS (ADAMA) yang kelak terpilih.

Akademisi salah satu Politeknik di kota Makassar, Anugrah Amir, berpendapat Fatmawati berpeluang mencetak sejarah menjadi wali kota perempuan pertama di Kota Daeng. Dengan catatan ADAMA memenangkan Pilwalkot Makassar 2020 dan kasus dugaan fitnah JK diproses hukum yang akan berujung pada vonis penjara kepada DP.

Kata Anugrah, naik kelasnya wakil menjadi kepala daerah akibat persoalan hukum bukanlah hal baru. Sudah banyak contoh kasus, bahkan di lingkup Sulsel. Salah satunya di Kabupaten Barru, beberapa tahun lalu. Kala itu, Andi Idris Syukur yang baru terpilih harus merelakan jabatannya kepada sang wakil, Suardi Saleh. Idris Syukur tersandung kasus gratifikasi izin eksplorasi tanah liat dan batu gamping.

“Tuduhan fitnah terhadap JK yang diduga dilakukan DP dapat berujung pada sejarah baru di Makassar. Kalau ADAMA keluar sebagai pemenang dan DP pada akhirnya diputuskan bersalah, maka berarti Fatmawati yang akan menggantikan posisi DP sebagai wali kota,” ucap dia, Selasa (7/12).

Lebih lanjut, Anugrah berpendapat perkara tersebut juga sangat bisa mempengaruhi suara pemilih saat ini. Bisa saja suara ADAMA akan tergerus oleh warga yang kehilangan respek terhadap DP yang diduga memfitnah JK. Tidak boleh dinafikkan, ketokohan JK di Kota Makassar sangatlah berpengaruh. Buktinya, saat ini saja gelombang protes terhadap DP semakin besar.

“Beredarnya rekaman suara mirip DP memfitnah JK itu sangatlah merugikan bagi ADAMA, apalagi menjelang pencoblosan. Suara mereka kemungkinan akan sangat tergerus, banyak yang kehilangan respek atas sikap DP, jika memang benar suara dalam rekaman itu adalah dirinya,” terangnya.

Hal lain yang menarik dicermati, Anugrah menyebut arah suara kalangan minoritas, seperti etnis Toraja. Selama ini, suara etnis Toraja mengarah kepada ADAMA dan DILAN. Hal itu tidak lepas lantaran ketokohan DP dan Syamsu Rizal alias Deng Ical. Mereka diketahui mampu menjaga hubungan baik dengan etnis Toraja selama menjabat di periode pertama hingga saat ini.

Olehnya itu, Anugrah mengungkapkan dengan asumsi DP bakal tersandung kasus hukum dan Fatmawati yang kelak menjadi wali kota bila ADAMA terpilih, maka suara etnis Toraja diperkirakannya cenderung mengarah kepada DILAN. Ya sekali lagi karena figuritas Deng Ical menjadi satu-satunya harapan bagi kalangan minoritas.

“Segmen minoritas hanya melekat kepada figur Danny Pomanto dan Deng Ical yang dimentori IAS. Makanya, dengan kondisi saat ini sangat memungkinkan kalangan minoritas untuk membulatkan dukungan kepada DILAN, ya karena adanya sosok Deng Ical yang dimentori IAS,” tukasnya. (*)

Leave a Reply