Disayangkan! Empat RS di Makassar Diduga Tolak Pasien Hingga Meninggal Dunia

ILUSTRASI

Beberapa rumah sakit diduga melakukan penolakan pasien tersebut yakni RS Labuang Baji, RS Kartini, RS Ananda, dan RS Pelamonia.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Hartina seorang ibu hamil asal dari Kabupaten Bulukumba ini, meninggal dunia lantaran diduga tidak mendapatkan pelayanan medis beberapa rumah sakit di Makassar.

Dikutip Fajar Online, Jumat (11/12/2020), beberapa rumah sakit diduga melakukan penolakan pasien tersebut yakni RS Labuang Baji, RS Kartini, RS Ananda, dan RS Pelamonia.

Faisal Ahmad, rekan almarhumah menyebutkan penolakan beberapa rumah sakit tersebut mempunyai alasan tersendiri.

“Pukul 17.28 Wita ke RS Labuang Baji tapi ditolak karena tidak ada hasil rapid test. Pukul 18.22 Wita di RS Kartini, tidak ada ICU. Pukul 19.00 Wita di RS Ananda, ruang ICU sedang disterilkan,” jelasnya.

Atas penolakan beberapa rumah sakit itu, lanjut Faisal, dirujuk di RSUP Wahidin, Hartina sudah tak kuat hingga meninggal dunia.

“Di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Hartina mendapat perawatan medis. Namun tak berselang lama, dia pun meninggal dunia. Begitu pula dengan kandungannya,” ungkapnya

“Pasien bernama Hartina langsung dipulangkan ke Bulukumba pukul 22.23 Wita oleh keluarganya,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu keluarga almarhumah, Bunda, kecewa atas penolakan berujung meninggalnya almarhumah.

“Dia kejang sebelum melahirkan. Saat dibawa ke RS Labuang Baji Makassar, malah ditolak,” singkatnya.

Perlu diingatkan, bahwa rumah sakit tidak boleh menolak pasien. Sebagaimana dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Itu diatur pada Pasal 32 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan tegas menyatakan bahwa, fasilitas kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka.

Kewajiban memberikan pertolongan kepada pasien ini juga berlaku bagi tenaga kesehatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 59 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Pimpinan rumah sakit atau tenaga kesehatan yang menolak pasien dalam keadaan darurat bisa dipidana dan dikenakan denda sebagaimana diatur dalam Pasal 190 UU Kesehatan.

Penolakan pasien juga berlaku bagi rumah sakit yang tidak bekerja sama dengan BPJS. Pasal 47 ayat (1) Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan (Peraturan BPJS 1/2014) menyebutkan, setiap peserta jaminan kesehatan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan.

Pelayanan kesehatan yang dijamin oleh BPJS Kesehatan terdiri atas pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama, pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, pelayanan gawat darurat, pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medik habis pakai; pelayanan ambulance, pelayanan skrining kesehatan, dan pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 63 ayat (4) Peraturan BPJS 1/2014 menyebutkan bahwa fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus segera merujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan setelah keadaan daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan.

Dalam Lampiran Bab IV Huruf A angka 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat disebutkan bahwa pada keadaan gawat darurat (emergency), seluruh fasilitas kesehatan baik jaringan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau bukan, wajib memberikan pelayanan penanganan pertama kepada peserta Jamkesmas.

Bagi fasilitas kesehatan yang bukan jaringan Jamkesmas, pelayanan tersebut merupakan bagian dari fungsi sosial, fasilitas kesehatan, selanjutnya fasilitas kesehatan tersebut dapat merujuk ke fasilitas kesehatan jaringan Jamkesmas untuk penanganan lebih lanjut.

Pada Lampiran tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional, khususnya Bab IV mengenai Pelayanan Kesehatan di huruf A angka 3 menyatakan, pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan yang telah melakukan perjanjian kerja sama dengan BPJS Kesehatan atau pada keadaan tertentu (kegawatdaruratan medic atau darurat medic) dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Sedangkan pada tentang Perubahan kedua Atas Perpres Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, khususnya Pasal 36A ayat (2) menyebutkan bahwa dalam hal pemberian pelayanan gawat darurat, fasilitas kesehatan baik yang bekerja sama maupun yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dilarang menarik biaya pelayanan kesehatan kepada peserta. Dalam Pasal 40 ayat (1) aturan yang sama menegaskan, pelayanan gawat darurat yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan dibayar dengan penggantian biaya. (*)

Leave a Reply