ICW Sebut Ada Kejanggalan Pengadaan Alkes Covid-19 di Kemenkes

Kejanggalan misalnya dapat dilihat dari perusahaan yang terpilih secara langsung, sedangkan mereka tidak memiliki rekam jejak dalam pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan.

JAKARTA, NEWSURBAN.ID — Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan adanya sejumlah kejanggalan pada pengadaan alat kesehatan di lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Peneliti ICW Divisi Pelayanan dan Reformasi Birokrasi Dewi Anggraeni, kejanggalan ini bisa dilihat dari penyusunan rencana umum pengadaan (RUP).

Sedangkan kejanggalan lainnya adalah agenda belanja yang tidak dilakukan sebagaimana ketentuan dalam Perpres 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang Jasa. Salah satu contohnya bisa dilihat pada 74 paket pengadaan barang dan jasa (PBJ) yang dilakukan melalui penunjukan langsung.

ICW menyebut ada 11 paket di antaranya melebihi ketentuan anggaran. “Ini terdapat di Sistem Informasi RUP (Sirup) LKPP Kemenkes. Jadi kalau Pengadaan langsung kan maksimal Rp 200 juta, ini melebihi dari itu,” kata Dewi dalam webinar, Jumat (11/12).

Sementara pengadaan yang tidak sesuai dengan ketentuan adalah pemesanan bahan reagen COVID-19. Pemesanan ini dianggarkan masing-masing Rp2 miliar dan Rp600 juta. “Ini dilakukan Balai Besar Laboratorium Surabaya dengan ada dua kali pengadaan,” ucap Dewi.

Bukan hanya pada perencanaan, kejanggalan diduga juga terjadi pada pelaksanaan barang dan jasa. Dugaan ini berangkat dari banyaknya perusahaan yang terpilih secara langsung, sedangkan mereka tidak memiliki rekam jejak dalam pengadaan barang dan jasa sesuai yang dibutuhkan.

Misalnya pengadaan alat pelindung diri (APD) yang dilakukan oleh Satuan Kerja (Satker) Politeknik Kesehatan Kupang yang melibatkan CV Johan Agung. CV ini rupanya tidak memiliki pengalaman untuk mengikuti tender pengadaan alkes. Alih-alih bidang kesehatan, CV yang bersangkutan justru pernah terlibat dalam pengadaan perlengkapan gedung kantor dan buku koleksi perpustakaan SMP pada 2019 lalu. Hal ini diketahui usai ICW melakukan penelusuran.

Seharusnya, jika perusahaan ingin terlibat dalam tender pengadaan alkes maka sudah sewajarnya memiliki pengalaman di bidang serupa. “Harusnya mereka punya track record pengadaan sejenis kalau ingin pengadaan langsung,” tegas Dewi.

Contoh lainnya adalah PT Ziya Sunanda Indonesia. Perusahaan ini diduga memenangkan tender pengadaan bahan reagen COVID-19 namun sebenarnya lebih banyak mengikuti tender pembangunan jaringan dan kontraktor. (#)

Leave a Reply