18 Tahun Jadi Penggiat Antikorupsi, Djusman AR: Membongkar Korupsi Ngeri-ngeri Sedap

Bagi penggiat antikorupsi Djusman AR, berjuang di jalur ini rasanya ngeri-negeri sedap. Namun dia  konsisten memainkan iramanya, berbuat untuk negeri melalui jalur ini, untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang disalahgunakan.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Penggiat antikorupsi, Djusman AR hingga kini tetap konsisten. Ia fokus pada pergerakan anti korupsi sejak 2002.

Saat ini, Bang Djus sapaan akrabnya menggawangi sejumlah lembaga. Yakni, Direktur Lembaga Peduli Sosial Ekonomi Budaya Hukum & Politik (LP-SIBUK) Sulsel, Koordinator Badan Pekerja Komite Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulselbar, Koordinator Forum Komunikasi Lintas (FoKaL) NGO Sulawesi.

Bagaimana rasanya menjadi aktivis pergerakan antikorupsi, penggiat antikorupsi yang harus berhadapan dengan berbagai risiko, berikut kutipan wawancara newsurban.id dengan Djusman AR, Minggu (20/12/2020):

Sejak kapan Anda mulai bergerak di antikorupsi?
“Saya memulainya pada 2002. Saat itu saya selaku Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana (MACASAR) Unhas. Namun sebenarnya saya berangkat dari pergerakan HAM saat masih bergabung di Lembaga Peduli HAM (LePHAM) Jakarta tahun 96-98. Seiring juga saat itu saya selaku Ketum Kesatuan Mahasiswa (KeMa ) Sulawesi dan kemudian berlanjut dan lebih serius saat memimpin 3 lembaga sekarang.

Selama 18 tahun menjadi penggiat antikorupsi, apa yang berkasan Anda rasakan?
Haha… yang berkesan itu ngeri-ngeri sedapnya…Namun asyiknya adalah dapat berkarya buat negeri melalui jalur ini. Kan yang kami perjuangkan adalah hak-hak rakyat yang disalahgunakan.

Lalu apa yang membuat Anda tetap berada di jalur itu?
Saya tetap di jalur itu, karena menganut paham bahwa memberantas korupsi bukan hanya amanah undang-undang sebagai konsekuensi hidup dan tumbuh di negara hukum, tapi juga merupakan ibadah karena tidak ada agama yang membenarkan orang korupsi, termasuk melakukan pembiaran. Apalagi turut menikmati.

Intinya kami konsisten memerangi korupsi semata demi kepentingan rakyat dalam pemyelamatan hak-haknya yang terampas oleh koruptor. Bukan karena kebencian, kecewa atau politik. Prinsipnya murni demi hukum dan silakan masyarakat menilai kami. Oleh karena itu saya sangat senang jika ada kawan, masyarakat umum yang senantiasa memberi kami saran, kritik, dan bahkan marah. Insha Allah dengan lapang dada kami menerimanya dengan baik. Bahkan, kami berterimakasih.

Maaf saya katakan “kami” karena semua laporan-laporan kami adalah keputusan lembaga, keputusan para pengurus yang ada dalam lembaga. Bukan atas inisiatif sendiri selaku ketua atau koordinator makanya bahan laporan adalah hasil kerja tim investigasi lembaga kami. Semua kasus yang diangkat pasti berdasar kesepakatan para badan pekerja dan pengurus.

Apakah ada yang pernah menawari Anda 86 dalam sebuah kasus yang Anda laporkan?
Soal apakah pernah ditawari 86, jawaban saya alhamdulilah sampai sekarang kami belum pernah goyah. Dan itu artinya tak terhitung lagi godaan sprti itu. Sesungguhnya disitulah ujian integritas seseorang apalagi yang bergerak pada advokasi HAM atau Antikorupsi.

Apakah Anda pernah mendapat ancaman dari pihak-pihak tertentu?
Nah, soal ancaman atau teror wow keras itu. Dan memang sudah seperti itulah konsekuensinya sebuah perjuangan. Ini saya jelaskan, dalam mengangkat kasus umumnya 3 hal yang muncul: 1. Bujuk rayu, iming-iming macam-macamlah, dan sejenisnya; 2. Jebakan-jebakan dan lain-lain; 3. Ancaman/tekanan atau kata-kata yang tidak pantas, belum lagi menghadapi pahlawan-pahlawan kesiangan yang mencari muka kepada oknum terlapor, namun semuanya itu kami hadapi dengan senyum saja.

Biarkan orang yang marah itu adalah API dan saya atau kami jadi AIR. Itu filosofi dan pesan leluhur saya. Yang pasti berdasar keyakinan bahwa sejuta pun orang mau mencederai kita…kalau tanpa seizin yang maha kuasa, insha Allah tidak bakal terjadi. Yang penting semua laporannya itu benar-benar berdasar nawaitu murni demi hukum sebagai wujud peranserta masyarakat yang dijamin konstitusi khususnya berkaitan UU TIPIKOR.

Pokoknya bergerak terus, jangan pernah gentar. Teror bukan merupakan buah simalakama tapi adalah tasbih. Gerakan ini bukan memusuhi orang terlapor. Tidak dibenarkan itu memusuhi orang dalam ajaran apa pun, yang dibenarkan adalah menyadarkan atau mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Apalagi perbuatan korupsi itu banyak jenis dan bentuknya. Begitu pun modus operandinya. Saya mau bilang khusus di Sulselbar ini, tidak semua orang terjerat korupsi karena keserakahannya memperkaya diri atau menguntungkan orang lain, tapi karena akibat kekurangpahamannya terhadap pengelolaan dan pertanggjawaban keuangan, apalagi kalau pejabat itu sok tahu malah merasa lebih paham. Nah itulah yang banyak-banyak terjerat. Belum lagi adanya sikap arogansi bahwa tak bakal tersentuh hukum karena merasa kuat dan dekat dengan kekuasaan dan faktor-faktor lainnya.

Apakah keluarga Anda selalu mendukung gerakan-gerakan pemberantasan korupsi yang Anda lakukan?
Kalau soal dukungan keluarga, pastilah khususnya dari orangtua saya. Ini kan perjuangan dan ibadah, makanya orgtua saya selalu mengajarkan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang maha kuasa berikan. Prinsipnya kejujuran dan kesederhanaan hidup.

Mungkinkah suatu saat Anda akan masuk panggung politik?
Soal politik bukan hal salah. Malah menurut saya mulia karena di sanalah tempatnya lahir dan absahnya suatu kebijakan. Hierarki perjuangan secara konstitusi begitu, namun bahwa ada yang tak benar, ya itu kembali ke personalnya masing-masing. Tapi bukan juga merupakan kasuistik karena sudah kebanyakan terjerat koruspsi. Inilah yang harus disadarkan.

Untuk soal politik kita serahkan saja kepada kawan-kawan atau keluarga yang sudah bergerak di bidang itu. Cukup kami selalu ingatkan agar menjauhi yang dilarang dan menegakkan yang diwajibkan.

Apa obsesi Anda ke depan?
Obsesi saya semoga gerakan antikorupsi berkobar terus di setiap lini misalnya di kelompok mahasiswa, kampus, birokrasi, ormas/NGO dan masyarakat umum.

Senantiasa berkelanjutan generasi pejuang antikorupsi. Dan para pejabat pun yang karena kekuasaannya punya potensi atau peluang melakukan korupsi behati-berhatilah, dan ingat jabatan dan hidup adalah sementara, hanyalah sebuah perjalanan hidup yang kelak menuntut pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Pokoknya jangan pernah berhenti menyuarakan antikorupsi dengan memulai dari diri, keluarga, dan di luar sana. Bahwa ada pendapat “mengapa masih ada korupsi, sedangkan sudah ada Polisi, Jaksa, KPK, dan NGO Antikorupsi” jawabannya sederhana “nah coba bayangkan andai yang disebutkan itu tidak ada, bagaimana parahnya”. Jadi terus berjuang melawan korupsi.

#Salam Anti Korupsi

(#)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button