Napi Narkoba Ini Lahirkan dan Besarkan Bayinya di Lapas

Nm, 25 memangku bayi perempuannya yang masih berusia 3 minggu di Lapas Nunukan. (foto: kompas.com)

Menjalani vonis 6 tahun 6 bulan dalam kasus narkoba, seorang napi Lapas Nunukan melahirkan dan tinggal bersama anaknya di lembaga pemasyarakatan.

NUNUKAN, NEWSURBAN.ID — Nm, 25, warga Tanjung Selor Kabupaten Bulungan divonis 6 tahun 6 bulan penjara lantaran terjerat kasus narkoba.

Kepala Seksi Pembinaan Pendidikan dan Kegiatan Kerja (Binadik) Lapas Nunukan Hendra Mahaputra menuturkan, usia kandungan Nm sekitar tiga bulan saat proses penahanan hingga persidangan.

Baca Juga: Perangi Narkoba, Lapas Nunukan Tes Urine Pegawai dan Warga Binaan

“Sekitar bulan enam yang bersangkutan dikirim ke Lapas Nunukan untuk menjalani pidananya. Ia melahirkan pada 8 Desember 2020 secara caesar di RSUD Nunukan,” ujarnya saat dihubungi, Senin (28/12/2020).

Nm dan bayinya menempati sel tahanan narkoba berisi 13 orang.

Usianya terbilang muda, 25 tahun. Nm seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Nunukan, Kalimantan Utara, membesarkan bayinya di dalam penjara. Selama di penjara, bayi perempuannya yang masih berusia sekitar 3 minggu cukup tenang.

Baca Juga: PN Nunukan Vonis Penjara Seumur Hidup Mahasiswi Makassar Kurir Sabu

Hendra mengatakan, Nm hamil diduga hasil dari pergaulan bebas. Sejak melahirkan, Nm menyibukkan diri mengurus sang bayi.

“Ayahnya tidak tahu, kan tidak ada suaminya, dugaan kita pergaulan bebas. Karena dia belum menikah,” kata Hendra dikutip kompas.com.

Hendra mengaku, biaya makan dan jaminan kesehatan bayi ditanggung penuh pihak Lapas Nunukan. “Di tempat kamarnya pun kami ada tempat untuk sekadar bermain, matras kami sediakan, memang dengan kondisi yang sangat terbatas,” jelas Hendra.

Baca Juga: Kejari Nunukan Musnahkan Barang Bukti 126 Perkara, Dominan Kejahatan Narkotika

Pihak lapas juga tidak perlu melaporkan keberadaan bayi tersebut kepada Dinas Perlindungan Anak. Sebab, berdasarkan undang-undang mengatur kewenangan lapas terhadap hal itu.

“Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 58 tahun 1999 yang mengatur kebutuhan makanan tambahan untuk ibu hamil dan menyusui,” tegas Hendra.

Nm juga belum rela melepas bayinya untuk diserahkan kepada keluarganya di Tanjung Selor. “WBP tersebut sadar jika anaknya masih sangat butuh ASI dan belum bisa lepas dari ibunya,” kata Hendra.

Petugas lapas secara rutin akan memantau kondisi kesehatan si bayi. Apabila si bayi sakit, pihaknya akan mendatangkan dokter dari puskesmas. (#)

Leave a Reply