Modus Dukun Pemuda Ini Cabuli Anak di Bawah Umur

As, terlapor pencabulan anak ditahan di Polsek Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalumantan Utara.

Pemuda ini harus harus berurusan dengan polisi. Ia dilaporkan melakukan pencabulan anak di bawah umur dengan modus dukun.

NUNUKAN, NEWSURBAN.ID — Seorang pemuda inisial As (19) pelaku pencabulan langsung di amankan oleh satuan Polsek Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, setelah mendapat laporan dari korbannya (Pelapor).

Dari identitas yang berhasil diungkap oleh Polsek Sebatik Timur As (Pelaku) sehari- harinyaa bekerja sebagai petani, juga As ialah warga yang beralamatkan di jalan Ahmad Yani RT. 04 Desa Sungai Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Berdasarkan laporan Korban Pencabulan dengan Nomor LP/04/I/2021 Kaltara/Res Nunukan/Sek Sebtim. Pelaku (As) telah diamankan pada pukul 21.30 Wita oleh personil Polsek Sebatik Timur dan langsung membawa terlapor ke Polsek Sebatik Timur guna pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Pencanangan ZI, Bupati Laura Harap WBK dan WBBM BPN Nunukan Terwujud

Kapolsek Sebatik Timur, Iptu M Khomaini, mengatakan, berdasarkan laporan yang ia terima, Kamis tanggal 21 Januari 2021 sekira pukul 22.00 wita, terlapor mendatangi rumah pelapor. Alasan terlapor ingin jalan-jalan dan bertamu di rumah pelapor.

Tanpa curiga, pelapor menyambut baik. Saat itu pelapor, terlapor beserta saksi bercerita di teras rumah pelapor saat itu membahas tentang pekerjaan dan lain-lain, sekira Pukul 01.00 wita

“Terlapor memberitahukan pelapor bahwa rumah yang ditinggali oleh pelapor sedang terdapat bahaya, lalu kemudian terlapor bersama pelapor berdiri dan menuju ke halaman rumah terlapor. Saat itu terlapor melakukan aksinya dengan berpura-pura menarik benda ghoib yang ada di sekitar halaman rumah pelapor. Kemudian terlapor meperlihatkan kepada pelapor jarum beserta garam dan mengatakan, barang tersebut merupakan barang ghoib yang telah ditanam oleh orang lain, padahal garam dan jarum tersebut sudah disiapkan oleh terlapor dari rumahnya sebelum ke rumah pelapor,” beber Khomaini.

Karena aksi yang dilakukan oleh terlapor tersebut, lanjut Khomaini, pelapor memercayai bahwa terlapor merupakan orang pintar/dukun. “Setelah melakukan aksi tipu dayanya tersebut terlapor meminta izin kepada pelapor untuk membuang air kecil, pelapor kemudian mempersilahkan terlapor untuk masuk kedalam dan pada saat terlapor masuk ke kamar mandi, terlapor sempat membuka kelambu melihat korban sedang tertidur, setelah membuka kelambu terebut terlapor kemudian kembali keluar dan duduk lagi bersama pelapor,” jelas Khomaini.

Baca Juga: Tinjau Belagaone, Bupati Laura Harap Bisa Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Terlapor yang sempat masuk ke kamar mandi ini kembali melihat korban yang sedang terlelap tidur dan duduk bersama dengan pelapor beserta saksi.

“Terlapor berbicara kepada pelapor dan saksi bahwa cucu pelapor yang sedang tidur di dalam kelambu tersebut sedang dalam bahaya, ada makhluk ghoib yang ada di dalam tubuhnya dan harus segera diobati,” kata Khomaini.

Singkat cerita, jika tidak mengikuti kemauan pelaku, maka korban akan dibawa pergi menghilang oleh makhluk ghoib tersebut. Pelapor percaya dengan pernyataan terlapor karena telah melihat aksi terlapor sebelumnya. Terlapor kemudian meminta pelapor untuk membangunkan korban untuk diobati.

Sekitar pukul 02.00 wita korban dibangunkan oleh pelapor dan dibawa ke teras rumah pelapor untuk diobati. Pada saat aksi pengobatan dimulai. Terlapor mengatakan, pengobatan tersebut sebaiknya dilakukan di dalam rumah. Pelaporpun menuruti permintaan dari terlapor.

Saat di dalam rumah, lanjut Khomaini, terlapor meminta kepada Pelapor untuk membaringkan korban dan mematikan semua lampu yang berada di dalam rumah tersebut dan meminta agar selama proses pengobatan. Korban beserta saksi diminta memejamkan mata sampai proses pengobatan selesai. Pelapor pun menuruti permintaan dari terlapor dan mematikan semua lampu yang ada di dalam rumah kecuali lampu yang berada di luar rumah.

Baca Juga: Apresiasi Relawan, Bupati Laura Minta Maaf Bantuan Korban Bencana Belum Memadai

“Pada saat pengobatan berlangsung pelapor berpura-pura memeriksa badan korban dan mengatakan bahwa ada barang ghoib yang berada di dalam tubuh korban. Barang ghoib tersebut kata terlapor berada di paha korban saat itu, terlapor kemudian membuka celana korban dengan alasan untuk menarik benda ghoib tersebut. Setelah terlapor membuka celana korban, terlapor kemudian menjilat-jilat alat kelamin korban kurang lebih 1 menit lamanya,” jelas Khomaini.

Namun terlapor menyangkal, ia beralasan bahwa yang melakukan tersebut bukan dirinya melainkan sosok makhluk ghoib yang merasuki dirinya, dan kemudian meminta maaf atas kejadian tersebut saat itu, Saksi kemudian mengusir terlapor untuk pulang saat itu.

Khomaini melanjutkan, pada pagi hari pelapor melaporkan kejadian tersebut kepada Kepolisian Polsek Sebatik Timur hingga akhirnya terlapor ditangkap berikut dengan barang buktinya.

“Satu pasang baju tidur anak berwarna ungu, satu buah Celana dalam berwarna cream,” ucapnya.

Adapun pasal yang dipersangkakan adalah Pasal 82 Ayat (1) UURI No.17 Thn. 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah pengganti UU No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No.23 Thn.2002 Tentang Perlindungan Anak Jo 76E UURI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Thn.2002 tentang Perlindungan Anak dengan Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. (Ar)

Leave a Reply