Kasus Pencabulan di Bawah Umur, Putusan JPU Kota Kendari Dinilai Janggal

ILUSTRASI

Menurut L keluarga korban, JPU hanya menuntut terdakwa enam tahun penjara dan subsider tiga bulan. Pasalnya, putusan itu menuai kejanggalan atas menimpa korban berusia 15 tahun itu.

KENDARI, NEWSURBAN.ID — Keluarga korban pencabulan di bawah umur mempertanyakan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), terhadap terdakwa Ejong alias Farhan (19).

Menurut L keluarga korban, JPU hanya menuntut terdakwa enam tahun penjara dan subsider tiga bulan. Pasalnya, putusan itu menuai kejanggalan atas menimpa korban berusia 15 tahun itu.

Bahkan, L wali korban, mengungkapkan dalam perjalanan sidang perkara yang menimpa adiknya itu, sama sekali tidak pernah diberi tahukan oleh jaksa selaku penuntut umum yang mewakili kepentingan korban.

“Saya tidak pernah dikabari. Nanti sidang kedua saya dikabari dari PPA Polres Kendari. Tiba-tiba dikabari untuk menghadiri sidang untuk mendengarkan penjelasan saksi,” jelas L saat di konfirmasi wartawan melalui telepon selular, Sabtu (27/03/2021).

Lanjut kata dia, pada waktu yang bersamaan pihaknya juga di konfirmasi oleh Reskrim Polres untuk menghadiri pemeriksaan atas pelaporan balik dari terlapor kasus asusila (pelaku) untuk tuduhan penganiayaan dan pengeroyokan.

“Sementara itu di Polres saya sudah ada desakan juga, jika saya tidak datang pada saat itu saya akan diambil paksa. Ini kesannya seakan-akan saya tidak boleh menghadiri sidang saksi,” ucapnya.

Setelah sidang kedua itu, keluarga korba menunggu kapan pelaksanaan sidang selanjutnya, dengan agenda pembacaan tuntutan oleh JPU, tapi lagi-lagi diakuinya tidak pernah diberitahu.

“Saya pernah telepon jaksanya, ibu Nur Cahya. Bu ini benar sudah sidangkah? Dia bilang iyah sudah dua kali sidang, tapi kita tidak pernah datang. Katanya ada suratnya tapi tidak sempat diantar karena banyak diurus tahanan,” katanya.

Sehingga, kakak korban ini pun menyayangkan sikap jaksa yang seakan-akan tidak memberikan keadilan terhadap adiknya.

Sementara, fakta-fakta lain seperti pihak keluarga terdakwa yang tidak pernah ada itikad baik untuk bertanggungjawab, atas perbuatan tersangka terhadap korban.

“Saya anggap ini tidak adil, saya harap kemudian jaksa penuntut bisa memberikan ganjaran seberat-beratnya terhadap terdakwah,” tegasnya.

Berdasarkan pasal yang disangkakan terhadap terdakwa, dengan ancaman kurungan minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Namun JPU hanya memberikan tuntutan dengan ganjaran 6 tahun kurungan penjara, dengan dalih terdakwa bersikap kooperatif dalam persidangan. (*)

Leave a Reply