Vaksin Nusantara, Terawan Klaim Mampu Selesaikan Pandemi Covid

Dokter Terawan meyakini bahwa vaksin dengan metode sel dendritik buatannya akan mampu mengakhiri pandemi Covid-19 di Indonesia.

JAKARTA, NEWSURBAN.ID — Pengembangan Vaksin Nusantara inisiasi Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dengan teknologi sel dendritik tengah menjadi perbincangan dunia. Terawan mengatakan sel dendritik dipilihnya sebagai metode pembuatan vaksin Covid-19 usai berkaca pada kejadian SARS di China 2002 silam.

“Dendritik sel vaksin imunoterapi atau vaksin Nusantara, the beginning of the end for cancer and Covid-19. Artinya apa? Dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan hal ini termasuk Covid-19 adalah dendritik sel imunoterapi atau vaksin Nusantara,” kata Terawan dalam kanal YouTube RSPAD Gatot Soebroto Presidential Hospital dikutip Jumat (23/7).

Baca Juga: Vaksin Nusantara Tuai Pro Kontra, Ini Kata DPR Fraksi Golkar

Terawan juga berbicara terkait Vaksin Nusantara dalam acara Lesson Learned and Efforts to Reinforce Health Security to Accelerate Covid-19 Handling yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube RSPAD Gatot Soebroto Presidential Hospital, Selasa, 25 Mei 2021.

Terawan menjelaskan, dari hasil uji klinik fase I oleh tim peneliti Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang menunjukkan bahwa imunitas vaksin Nusantara masih awet pada bulan ketiga pasca penyuntikan.

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian uji klinis fase II di RSPAD Gatot Soebroto juga tidak menunjukkan efek samping yang serius pada seluruh subjek hingga pekan keempat. Pun Terawan juga mengakui bahwa vaksin Nusantara memberikan efek baik pada dirinya.

“Kita bisa merasakan efek imun yang kita peroleh dari vaksin Nusantara, produk kita sendiri, dan rasanya enak,” ujarnya.

Baca Juga: Anggota DPR Kaget Rencana Kimia Farma Jual Vaksin ke Masyarakat

Lebih lanjut, Terawan juga menyebut vaksin berbasis sel dendritik besutannya mudah dibuat dan didesain mampu menangkal segala macam mutasi virus SARS-CoV-2 yang terus mengalami perkembangan.

Ia mengatakan hanya perlu waktu 8 hari untuk mencampurkan komponen antigen beragam varian baru itu untuk kemudian dipaparkan kembali dengan sampel darah manusia.

Terawan menjelaskan, vaksin Nusantara ini nantinya khusus untuk individual. Sebab dalam teknisnya, setiap orang akan diambil sampel darahnya untuk kemudian dipaparkan dengan kit vaksin sel dendritik. Cara kerjanya, sel yang telah mengenal antigen akan diinkubasi hingga 8 hari. Dalam hal ini antigen tersebut dapat diubah berdasarkan antigen varian-varian corona terkini.

“Teknik pembuatan simpel, kita bisa ajarkan ke semua, sangat mudah,” jelas Terawan.

Baca Juga: Sejarah Vaksinasi Massal di Indonesia, Sebuah Upaya Pencegahan Penyakit

Sebagaimana diketahui, polemik vaksin Nusantara telah diputuskan melalui nota kesepahaman alias MoU antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) pada 19 April lalu.

Dari MoU itu disepakati bahwa proses pengambilan sampel darah relawan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta itu hanya dilakukan guna kepentingan penelitian dan pelayanan. Artinya, proses vaksin Nusantara ini bukan uji klinis vaksin untuk dimintakan izin edar oleh BPOM.

Kepala BPOM Penny K Lukito juga sebelumnya menegaskan saat ini pihaknya sudah tidak lagi memiliki kewenangan untuk menyetujui pengajuan uji klinis, apalagi memberikan restu produksi dan izin edar vaksin Nusantara. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button