Trending

“Tiga Anak Saya Diperkosa, Polisi Menghentikan Penyelidikan” Viral di Twitter

Situs Projectmultatuli.org dapat Serangan DDos

Diperkosa ayah kandungnya, Sang ibu melaporkan kasus tersebut kepihak kepolisian. Malah di tuding melakukan tindakan fitnah kepada suaminya. Bahkan dia di anggap mengidap penyakit waham.

JAKARTA, NEWSURBAN.ID  — Berita dengan kasus asusila yang menerbitkan Projectmultatuli.org dengan judul “Tiga Anak Saya Di perkosa, Saya Lapor ke Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan” viral di Twitter. Berita itu di terbitkan pada hari Rabu 6 Oktober 2021.

Terbitnya berita tersebut hingga hari ini sebanyak 8.254 ribu Retweet dan 12,5 ribu yang like. Atas viral berita tersebut yang di ceritakan sang Ibu tiga anak di bawah 10 tahun melaporkan dugaan pemerkosaan ini ke kepolisian. Namun, polisi melabeli berita tersebut dengan narasi hoax.

Lebih parahnya, sang ibu melaporkan kasus tersebut kepihak kepolisian. Malah dituding melakukan tindakan fitnah kepada suaminya. Bahkan ia di anggap mengidap penyakit waham. Dugaan pelaku adalah ayah kandungan sendiri adalah seorang ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

Sejak Projectmultatuli.org menerbitikan artikel tersebut. Melalui akun resminya di Twitter memohon maaf adanya gangguan situsnya. “Pembaca yang terhormat. Kami mohon maaf. Situs kami tak bisa diakses penuh lantaran serangan DDos sejak semalam, usai menerbitkan artikel “Tiga Anak Saya Diperkosa” serial #PercumaLaporPolisi. Proses perbaikan sedang berlangsung. Suara kita akan lebih besar.” laporan Projectmultatuli.org kutip newsuruban.id, Kamis (07/10/21).

Kronologi kasus Tiga Anak Diperkosa

Project Multatuli mengungkapkan dugaan pemerkosaan ini terungkap pada Oktober 2019. Kala itu, sang ibu mendengarkan cerita anak sulungnya yang sakit di bagian vaginanya. Sang ibu lalu minta si anak cerita apa yang terjadi. Sang Ibu spontan kaget setelah si anak sulung bicara bahwa ayahnya sudah melakukan tindakan asusila kepadanya.

Sang ibu mengklarifikasi pengakuan si sulung ke dua anak lainnya. Ternyata kedua anaknya itu juga dapat perlakukan asusila di lakukan ayahnya. Walaupun sang ibu dan sang ayah itu sudah berpisah, tapi sang ayah kerap mendatangi ketiga anaknya selepas pulang sekolah. Nah, ketiga anaknya diperkosa, langsung sang ibu melaporkan ke polisi.

“Lydia (sang ibu-bukan nama sebenarnya) melaporkan mantan suaminya untuk dugaan pemerkosaan pada tiga anaknya yang masih di bawah usia 10 tahun. Mengadu ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Luwu Timur, dan Polres Luwu Timur. Berharap mendapat perlindungan,” tulis Project Multatuli kutip Kamis 7 Oktober 2021.

Ternyata laporannya ke dua lembaga itu nggak memuaskan. Malah sang ibu di tuding mengalami gangguan kesehatan mental.

Proses penyidikan laporannya berbelit dan tidak di dampingi kuasa hukum. Ketiga anaknya saat di periksa juga tidak di dampingi penasehta hukum atau psikolog.

Parahnya lagi, sang ibu mengaku di paksa menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP). Tapi melarang membaca BAP tersebut.

“Saya bilang nanti saya tanda tangan setelah ini di lanjutkan. Tapi penyidik memaksa saya, dan saya ikut tanda tangan. Karena sudah siang dan saya mau pulan untuk buat makanan anak-anak,” ujar si ibu.

Belakangan Polisi justru menghentikan proses penyelidikan. Namun, Lydia tidak berhenti berjuang. Ia ke Makassar, bertemu LBH Makassar yang segera menyurati banyak lembaga agar kasus di investigasi lagi. Komnas Perempuan pun merespon.

Versi Polres Luwu Timur

Viralnya narasi dan pengakuan “Tiga Saya Anak Diperkosa” itu di respons oleh Polres Luwu Timur. Malahan Polres ini melabeli narasi dan laporan dari Porject Multatuli itu sebagai hoaks.

Dalam keterangannya di Instagram, Polres Luwu Timur menjelaskan versi penanganan kasus tiga anak di duga di perkosa tersebut.

 

Polres Luwu Timur mengatakan berita yang di muat Project Multatuli belum cukup bukti, kasus ini saja memang pernah di tangani polisi Luwu Timur sejak 9 Oktober 2019.

Penyidik bergerak, memeriksa saksi dan terlapor yang merupakan ayah tiga anak tersebut. Penyidik juga melakukan visum pertama di Puskesmas Malili dan visum kedua di RS Bhayangkara Makassar. Dengan di dampingi sang ibu dan terlapor ayah korban serta di dampingi pula oleh petugas P2TPA Luwu Timur.

“Hasilnya pada tubuh 3 orang anak pelapor tersebut tidak menemukan kelainan pada alat kelamain atau dubur/anus,” tulis Polres Luwu Timur.

Sedangkan hasil penilaian tim P2TP2A Luwu Timur menyatakan tidak ada tanda trauma ada ketiga anak selepas si ayah datang ke kantor P2TP2A.

“Saat si ayah datang ketiga anak itu menghampirinya dan duduk di pangkuan ayahnya,” tulis Polres Luwu Timur.

Dengan demikian, penyidik Polres Luwu Timur melaksanakan gelar perkara ini di Polres dan Polda Sulawesi Selatan. Hasilnya menghentikan proses penyelidikan pengaduan tersebut dengan alasan tak menemukan bukti yang cukup adanya tindak pidana cabul sebagaimana yang di laporkan. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button