Trending

Inisiatif Warga Tutup Sumur Minyak Ilegal Berbuntut Ledakan

Sebelum Polisi Melakukan Penutupan 1.000 Sumur Minyak

Inisiatif warga yang menutup sumur minyak ilegal menyusul warning pihak kepolisian di duga sebagai pemicu ledakan.

SUMSEL, NEWSURBAN.ID — Ledakan tiga sumur minyak ilegal di Banyuasin, kuat dugaan akibat inisiatip warga menutup sumur minyak ilegal mereka. Ledakan tiga sumur ilegal itu terjadi di Desa Keban, Sanga Desa, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Peristiwa ledakan yang di duga akibat inisiatif warga itu, seorang operator mengalami luka bakar akibat kejadian itu.

Inisiatif warga menutup sumur mereka menyusul adanya rencana Polda Sumatera Selatan untuk penutupan 1.000 sumur minyak ilegal.

Kapolres Musi Banyuasin AKBP Alamsyah Paluppesy mengungkapkan, dugaan itu muncul dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi dan olah TKP. Pemilik dan penambang takut polisi menutup sumurnya seperti pada 1.000 sumur minyak ilegal di Kecamatan Bayung Lencir.

“Masyarakat takut ketika mendengar kabar polisi menutup 1.000 titik sumur, makanya mereka berinisiatif menutup sendiri. Nah, ketika itulah kemungkinan terjadi ledakan,” ungkap Alamsyah, Rabu (13/10).

Lebih lanjut, dia memastikan kejadian itu tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya saja seorang operator alat berat mengalami luka bakar yang kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Hanya satu orang yang luka, sekarang sudah kita amankan Ditreskrimsus Polda Sumsel. Kita tunggu sampai sembuh untuk pemeriksaan,” kata dia.

Sementara itu, proses pemadaman hingga saat ini masih berlangsung. Dia meminta Pertamina turut terlibat dalam memadamkan api karena terdapat semburan gas.

“Ada satu titik api yang tekanan gasnya sangat tinggi. Pertamina kami minta mencari solusinya,” pungkas dia.

Polisi Tutup 1.000 Sumur

Sebelumnya, Kepolisian Daerah Sumatera Selatan menutup 1.000 titik sumur minyak ilegal di Kecamatan Bayung Lencir, Musi Banyuasin. Polisi mengamankan enam pekerja dan memburu para pemodal.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Toni Harmanto mengungkapkan, penutupan itu merupakan komitmen awalnya setelah menjadi kapolda sebulan ini. Dia tak ingin aktivitas itu terus berlangsung yang menyebabkan banyak kerugian.

“Saya pastikan dalam satu bulan kerja saya di Polda Sumsel memberantas kasus ini hingga ke pemilik modalnya. Komitmen ini juga saya sampaikan kepada Forkompinda,” kata Toni Harmanto, Kamis (7/10).

Menurut dia, para tersangka hanya sebagai pekerja dan menjalankan perintah. Polisi masih memburu para pemodal besar sampai ketemu. Karena mampu mengeluarkan uang Rp100 juta per bulan untuk membuat tiga sumur saja.

“Minyak-minyak ilegal dikirimkan ke penadah untuk diolah dan dijual kembali. Kami yakin ada pemodalnya, dia sedang kami kejar,” ujar dia.

Sementara itu, Dirkrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Muhammad Barly Ramadhani menjelaskan, selama menggali sumur minyak ilegal, para pengebor menadah ke dalam tedmon besar. Minyak mentah itu kemudian mereka alirkan melalui instalasi pipa-pipa untuk menyedot hasil bumi yang berada di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).

“Pemilik modal sudah kami petakan, mereka yang membiayai aktivitas ini,” kata dia.

Terhadap para tersangka, Polisi menerapkan Pasal 36 ayat 19 (2) Undang-undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tentang perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Atau Pasal 40 angka 7 UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tentang perubahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas. Polisi juga menyita barang bukti 364 unit motor, mesin sedot 30 unit, tangki dan tedmon 102 buah, serta pipa 362 batang.

“Kami tindak tegas sumur-sumur minyak ilegal di sana, jangan sampai para pelaku leluasa beraktivitas,” pungkasnya. (mc/*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button