MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memproyeksikan industri finansial di wilayah ini tetap kokoh.
OJK menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan pada posisi April 2026 mampu mempertahankan stabilitasnya di tengah gejolak ekonomi domestik maupun global. Ketangguhan ini terlihat jelas pada performa perbankan, pasar modal, serta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang terjaga dengan baik.
Pertumbuhan positif ini terjadi meski ketidakpastian ekonomi dunia meningkat akibat eskalasi geopolitik, lonjakan inflasi global, dan volatilitas pasar. Penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit di Sulawesi Selatan mencatatkan rapor hijau yang sekaligus membuktikan tingginya kepercayaan publik terhadap industri keuangan daerah.
Pada sektor perbankan per April 2026, akumulasi aset melaju sebesar 5,29 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp215,79 triliun. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meroket 7,23 persen (yoy) ke angka Rp149,46 triliun, yang mana simpanan tabungan mendominasi porsi DPK dengan kontribusi mencapai 60,72 persen.
Sektor Syariah Meroket Tajam
Selanjutnya, perbankan berhasil menyalurkan kredit hingga Rp174,60 triliun atau tumbuh 5,46 persen (yoy). Sektor produktif, terutama perdagangan besar dan eceran, menyerap porsi kredit terbesar dengan andil 21,86 persen. Fungsi intermediasi yang berjalan sehat ini tecermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen, dengan tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang aman di level 3,74 persen.
Menariknya, perbankan syariah mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang jauh lebih agresif ketimbang perbankan konvensional. Aset perbankan syariah di Sulawesi Selatan melejit signifikan hingga 35,92 persen (yoy) dengan nominal Rp23,45 triliun. Pencapaian ini mendongkrak pangsa pasar finansial syariah menjadi 10,87 persen di tingkat daerah.
Di samping itu, penyaluran pembiayaan untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyentuh angka Rp61,66 triliun. Nilai tersebut setara dengan 36,05 persen dari total pagu kredit perbankan, dengan dominasi mutlak dari pelaku usaha mikro yang menguasai 56,75 persen pangsa pasar.
Pasar Modal dan Pembiayaan Digital Tumbuh Subur
Sementara itu, gairah masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal juga memperlihatkan tren yang menggembirakan. Jumlah investor di Sulawesi Selatan melesat tajam sebesar 67,34 persen (yoy) hingga menembus 693.135 Single Investor Identification (SID). Pertumbuhan tertinggi bertumpu pada instrumen reksa dana yang melonjak hingga 68,49 persen (yoy).
Ekspansi bisnis juga melanda sektor IKNB, khususnya pada klaster keuangan berbasis teknologi. Saldo piutang atau outstanding pembiayaan Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending merangkak naik 32,26 persen (yoy) menjadi Rp2,52 triliun. Lompatan performa paling impresif terjadi pada industri pergadaian yang berhasil mencatatkan pertumbuhan total pembiayaan sebesar 61,08 persen (yoy) ke posisi Rp12,57 triliun.
Lebih lanjut, OJK Sulsel Sulbar terus menunjukkan komitmennya dalam bidang edukasi dan pelindungan konsumen. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, OJK telah merespons 752 layanan aduan serta menggelar 159 agenda edukasi keuangan yang menjangkau total 1.823.473 warga di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
