Menguji Kearifan Pemimpin Lewat Keterampilan Mendengarkan

Oleh: Syamril

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Keterampilan mendengarkan bagi pemimpin merupakan salah satu pilar krusial yang wajib melekat dalam seni kepemimpinan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua pemegang tongkat komando mengantongi kecakapan ini. Mengapa fenomena tersebut bisa terjadi? Pada umumnya, seseorang berhasil menduduki kursi kepemimpinan berkat rekam jejak prestasi, kelebihan, atau kehebatan spesifik yang mereka miliki.

Dampak negatifnya, kelebihan tersebut terkadang memicu riak psikologis berupa rasa paling hebat, paling berpengalaman, hingga paling pintar. Sindrom merasa paling tahu ini membuat seorang atasan enggan atau kesulitan menerima sumbang saran serta pandangan dari orang lain, terutama dari jajaran bawahan.

Setiap pemimpin wajib berhati-hati jika tanda-tanda superioritas tersebut mulai menggerogoti diri. Merujuk pada hadis riwayat Muslim, kondisi ego yang meninggi tersebut mencerminkan ciri kesombongan yang nyata, yakni tindakan merendahkan sesama manusia dan menolak kebenaran hukum.

Membedakan 4 Level Mendengarkan

Selanjutnya, jika kita memodifikasi teori relasi dari Steven R. Covey, kapasitas menyerap informasi ini terbagi ke dalam empat tingkatan, mulai dari yang terburuk hingga yang terbaik:

Menurunkan Ego Demi Kebaikan Bersama

Sementara itu, kedewasaan seorang pemimpin yang bijaksana tecermin saat ia berani menganulir keputusannya yang keliru. Jika argumentasi pribadinya terbukti lemah, ia dengan berlapang dada akan merangkul pemikiran yang lebih solid. Begitu pula saat kebijakannya keliru, ia tidak segan meminta maaf secara terbuka lalu memperbaikinya demi kemaslahatan organisasi. Mereka rela menepikan ego pribadi dan mengalah demi meraih kemenangan bersama.

Lebih lanjut, momen pertengahan tahun 2026 ini menjadi waktu yang tepat bagi para pemimpin untuk melakukan refleksi diri. Apabila kalkulasi personal menunjukkan posisi kita masih terjebak di level satu atau dua, segeralah berbenah sebelum roda organisasi terpuruk.

Utamakan kemaslahatan kolektif di atas ambisi pribadi atau kelompok kecil. Setiap pemimpin perlu membuka ruang pikiran dan batin untuk bermigrasi menuju level tiga dan empat. Nilai kejujuran, kerendahan hati, serta visi jangka panjang akan mengantarkan seorang kapten organisasi dikenang sebagai sosok yang arif dan legendaris.

Exit mobile version