MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai mendesain dan membangun kawasan pedestrian sebagai proyek percontohan integrasi kawasan pejalan kaki di pusat kota.
Proyek tersebut dirancang untuk mengintegrasikan jalur pedestrian dengan moda transportasi publik sekaligus memastikan hak pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan akses yang aman dan nyaman.
Salah satu kawasan yang dipilih sebagai proyek percontohan berada di sepanjang Jalan Balaikota hingga Jalan MH Thamrin, Makassar. Sejumlah titik lainnya akan dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat aktivitas pejalan kaki.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin usai mengikuti rapat koordinasi terkait expose desain pedestrian Kota Makassar di Kantor Balai Kota Makassar, Kamis (3/9/2026).
Munafri mengatakan pembangunan pedestrian tidak sekadar memperbaiki trotoar, tetapi menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang kota yang aman, nyaman, inklusif, dan terintegrasi.
“Tujuan utamanya tentu menyediakan fasilitas jalan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi pejalan kaki,” ujarnya.
“Terlebih lagi bagi disabilitas. Sehingga pembangunan ini mengubah wajah kota menjadi lebih ramah lingkungan,” tambah Munafri.
Menurutnya, kondisi sejumlah pedestrian di Kota Makassar saat ini masih membutuhkan pembenahan. Banyak trotoar mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Karena banyak sekali pedestrian di Makassar ini yang rusak. Artinya, pedestrian tersebut hanya terpajang saja dan tidak diutilisasi dengan baik,” katanya.
Pemkot Makassar, lanjut Appi, ingin memastikan fasilitas pedestrian benar-benar dapat digunakan masyarakat sebagai ruang berjalan kaki yang aman dan nyaman.
“Kita menginginkan pedestrian di Makassar ini benar-benar nantinya dapat dipergunakan oleh para pejalan kaki dengan aman dan nyaman,” tuturnya.
“Selain itu, tentu juga untuk saudara-saudara kita yang disabilitas. Ini penting sekali untuk memastikan bahwa kota ini adalah kota yang inklusif,” sambungnya.
Untuk tahap awal, kawasan Jalan Balaikota hingga Jalan MH Thamrin dipilih sebagai proyek percontohan. Sejumlah bagian pedestrian di kawasan tersebut kini telah memasuki proses pembongkaran sebagai bagian dari penataan.
“Nah, itu nanti akan menjadi proyek percontohan terlebih dahulu. Nanti kita lihat untuk disambungkan ke jalur-jalur yang memang beban (load) pejalan kakinya tinggi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ketua IKA FH Unhas tersebut menjelaskan desain pedestrian akan mengutamakan fungsi utamanya sebagai ruang berjalan kaki.
Jalur pedestrian juga akan mengakomodasi pengguna stroller serta kebutuhan aksesibilitas lainnya. Penataan kawasan akan dilengkapi elemen penghijauan sebagai pembatas antara jalur pedestrian dan area lainnya.
“Pedestrian tersebut memang dipergunakan agar orang bisa berjalan kaki, lalu ada stroller di atasnya. Kemudian di bagian luarnya ada pembatas berupa tanaman,” tuturnya.
Terkait lebar pedestrian, Munafri mengatakan ukurannya tidak akan diseragamkan pada seluruh ruas jalan. Lebar trotoar akan disesuaikan dengan kondisi dan luas masing-masing ruas jalan.
“Ada beberapa, kita sesuaikan dengan jalan, tergantung pada luasan jalannya. Jadi, tidak semua jalan memiliki lebar pedestrian yang sama,” jelasnya.
Dalam proses pembangunan, Pemkot Makassar juga masih perlu melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, khususnya terkait keberadaan utilitas di sepanjang jalur pedestrian.
Salah satunya menyangkut tiang dan gardu listrik yang berada di lokasi pembangunan. Pemkot Makassar akan berkoordinasi dengan PT PLN untuk membahas penataan utilitas, akses, hingga aspek estetika kawasan.
“Sedang proses pembongkaran. Namun, ada beberapa hal yang harus kita komunikasikan juga dengan pihak-pihak terkait. Contohnya tiang listrik dan gardu-gardu listrik yang harus kita bicarakan dengan pihak PLN,” kata Munafri.
“Makanya kami akan berbicara dengan pihak PLN karena ini menyangkut masalah akses dan estetika secara keseluruhan,” tambahnya.
