Inovasi Tiada Henti

Oleh: Syamril

Shenzhen, Newsurban.id – Mengunjungi perusahaan Huawei pada Senin, 21 September 2026, sungguh menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kantor pusat Huawei berada di Shenzhen, China, di sebuah kawasan perkantoran yang sangat luas, sekitar 200 hektare, dengan 11 unit kerja.

Area pertama yang kami datangi adalah Museum Von Neumann. Museum tersebut mengambil nama John von Neumann, ilmuwan kelahiran Hungaria yang kemudian menjadi warga Amerika Serikat dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan komputer modern. Penggunaan nama tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap ilmuwan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teknologi masa kini.

Huawei yang berdiri pada 1984 memang menunjukkan penghargaan yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Hal itu antara lain terlihat dari besarnya proporsi karyawan yang bekerja di bidang Research and Development (R&D).

Tercatat sekitar 53,7 persen karyawan Huawei atau sekitar 114 ribu orang bekerja di bidang R&D. Dengan jumlah tersebut, tidak mengherankan jika setiap tahun Huawei menghasilkan ribuan temuan dan inovasi. Hingga akhir 2025, Huawei tercatat memiliki sekitar 165 ribu hak paten aktif.

Kami sempat berkeliling ke kawasan R&D Huawei. Untuk mengelilingi kawasan tersebut, disiapkan kereta panoramik dan perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Di kawasan R&D itu terdapat sekitar 25 ribu karyawan. Suasananya hijau, tenang, dengan nuansa bangunan bergaya Eropa. Tidak terlihat keramaian karyawan sebagaimana lazimnya sebuah kawasan perusahaan besar. Mereka tampaknya sibuk di ruang kerja masing-masing, melakukan riset dan pengembangan.

Di kawasan tersebut juga terdapat pusat pelatihan dan perpustakaan besar. Koleksi perpustakaannya berasal dari hampir seluruh negara di dunia dan tersedia dalam berbagai bahasa.

Tema bukunya pun sangat beragam, mulai dari sains, sejarah, teknologi hingga sosial. Seolah-olah perpustakaan itu merangkum warisan ilmu pengetahuan dunia sepanjang sejarah.

China sebagai salah satu pelanjut peradaban modern tampaknya menyadari bahwa teknologi yang dikembangkan hari ini tidak dapat dilepaskan dari ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa lalu.

Inovasi sebagai Budaya

Sebagai perusahaan teknologi, inovasi bukan sekadar program di Huawei, tetapi telah menjadi budaya.

Setiap tahun ada motto yang menjadi penyemangat bagi para karyawan. Tahun ini mottonya adalah “Try Everything”.

Maksudnya, cobalah segala sesuatu. Berani mencoba hal baru.

Ketika seorang atasan memberikan tugas, prinsip yang digunakan adalah “Don’t say no”. Bukan berarti karyawan harus bersikap otoriter atau menerima semua perintah tanpa pertimbangan. Tetapi, setidaknya, cobalah terlebih dahulu.

Bahkan, jika belum berhasil, jangan langsung menyerah. Coba minimal tiga kali. Jangan langsung mengatakan tidak bisa.

Sebab, hampir setiap penemuan pada awalnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin.

Dari budaya seperti inilah inovasi terus lahir.

Huawei kemudian mampu mengembangkan bisnis secara end to end di berbagai bidang, mulai dari computing, data communications, optical network hingga storage.

Kini Huawei juga masuk ke bidang energi terbarukan, khususnya solar cell. Selain itu, mereka juga masuk ke industri kendaraan listrik atau electric vehicles dan memproduksi mobil listrik.

Sebelumnya, Huawei lebih dikenal melalui produk telepon seluler, perangkat jaringan, tower dan berbagai produk lainnya di bidang komunikasi.

Tekanan yang Melahirkan Kemandirian

Perkembangan Huawei yang luar biasa tentu mendapat perhatian besar dari dunia, termasuk Amerika Serikat.

Sejak beberapa tahun lalu, sejumlah produk dan teknologi Huawei menghadapi pembatasan akses ke pasar Amerika Serikat. Namun, Huawei tidak kemudian berhenti berkembang.

Pasar domestik China sendiri sangat besar. Selain itu, masih terbuka pasar dunia di luar Amerika Serikat. Kerja sama dengan berbagai negara juga terus berjalan, termasuk dalam bidang penelitian dan pengembangan.

Salah satunya adalah kerja sama dengan Rusia yang memiliki kekuatan di bidang matematika.

Dalam perspektif Huawei, berbagai pembatasan tersebut justru menjadi tantangan untuk terus mengembangkan kemampuan sendiri.

Ketika akses terhadap sejumlah produk dan layanan teknologi dari Amerika Serikat terbatas, China terdorong untuk membangun ekosistem teknologinya sendiri.

Mereka mengembangkan berbagai aplikasi dan platform domestik sebagai alternatif. Mereka juga membangun data center sendiri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dan infrastruktur dari Amerika Serikat.

Situasi tersebut menunjukkan sebuah pelajaran penting.

Tekanan dari luar tidak selalu membuat seseorang atau sebuah bangsa berhenti berkembang. Dalam kondisi tertentu, tekanan justru dapat menjadi pemicu untuk belajar lebih keras, membangun kemampuan sendiri dan mempercepat inovasi.

China menunjukkan bagaimana ketergantungan teknologi dapat mendorong lahirnya kemandirian teknologi.

Dari sini kita bisa belajar bahwa inovasi tidak lahir hanya karena memiliki sumber daya yang besar. Inovasi membutuhkan budaya belajar, keberanian mencoba, kegigihan ketika gagal, investasi pada penelitian dan pengembangan, serta penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.

Huawei memberikan gambaran bahwa perusahaan teknologi tidak cukup hanya menjual produk. Mereka harus terus menemukan sesuatu yang baru.

Karena itu, inovasi memang harus menjadi proses yang tidak pernah berhenti.

Inovasi tiada henti.

Shenzhen, 22 September 2026

Exit mobile version