PALU, NEWSURBAN.ID — Lapangan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu bergemuruh pada Minggu (27/9/2026) pagi. Sebanyak 150 perempuan dari berbagai latar belakang tampil memukau membawakan tari kreasi bertajuk “Roso Nu Mombine”.
Ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Palu Mama Menari (PMM) itu tampil kompak di hadapan ribuan warga. Balutan kostum bernuansa wastra nusantara semakin memperkuat karakter penampilan yang energik, anggun, sekaligus sarat penghayatan.
Tepuk tangan penonton terdengar meriah sepanjang penampilan, terutama saat para penari memainkan kipas sebagai bagian dari koreografi.
Penampilan tersebut turut disaksikan jajaran pejabat negara dan daerah. Hadir di antaranya Menteri Hukum RI, Kepala Badan Karantina Indonesia, Wali Kota Palu, Anggota DPR RI, serta pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dan DPRD Kota Palu.
Ketua Palu Mama Menari, Fanty J. Hafid, mengatakan penampilan tersebut merupakan hasil kolaborasi Palu Mama Menari dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Palu, Bhayangkari, serta perwakilan ibu-ibu dari berbagai kelurahan di Kota Palu.
“Anggota kami terdiri dari ibu rumah tangga, pegawai swasta, ASN, hingga istri-istri ASN dan anggota Polri. Mereka berlatih intensif selama sepekan terakhir,” ujar Fanty.
Menurutnya, Tari “Roso Nu Mombine” tidak hanya mengedepankan keindahan gerak, tetapi juga membawa pesan tentang karakter perempuan Tanah Tadulako.
Tarian tersebut merepresentasikan ketangguhan sekaligus kelembutan perempuan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Gerakan yang lembut namun penuh wibawa dipadukan dengan penggunaan kipas. Properti tersebut dimaknai sebagai simbol kesejukan, kesabaran, dan kekuatan batin perempuan.
Kipas yang digunakan para penari juga dirancang khusus dengan menampilkan 16 motif wastra nusantara khas Kota Palu. Motif tersebut menjadi bagian dari pesan pelestarian budaya daerah yang dibawa melalui pertunjukan.
Karya seni tersebut digarap oleh tiga penata tari, yakni Christine Cahyani Larekeng, Ivonda Sovia, dan Novi Angraini, dengan musik gubahan Juli Idin Lanja.
Palu Mama Menari merupakan wadah ekspresi bagi para ibu di Tanah Tadulako untuk mendalami sekaligus mencintai seni dan budaya lokal.
Komunitas tersebut diinisiasi oleh anggota DPRD Kota Palu Mutmainah Korona sebagai pendiri, bersama Fanty Juliarsi Hafid sebagai ketua dan Christine Cahyani Larekeng sebagai pelatih.
Kehadiran Palu Mama Menari tidak hanya diarahkan sebagai wadah untuk belajar dan menampilkan seni tari. Komunitas ini juga menjadi ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk berekspresi, membangun kebersamaan, sekaligus mendapatkan ruang pemulihan diri atau self-healing melalui seni dan aktivitas bersama.
