Banjir Bandang Torue Sulteng Akibat Kerusakan Hutan? Gubernur Masih Telusuri

PALU, NEWSURBAN.ID — Sepekan ini intensitas hujan di Sulawesi cukup tinggi hingga mengakibatkan adanya korban jiwa. Baru ini banjir bandang menerjang di Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (28/07/2022) malam.

Banjir bandang tersebut mengakibatkan 3 orang dinyatakan meninggal dunia. Empat orang masih melakukan pencarian oleh tim SAR Sulteng. Ratusan rumah mengalami rusak parah, hingga terseret ke laut akibat antaman banjir.

Informasi beredar secara berantai di media sosial (WhatsApp) terlihat video berdurasi 40 detik dalam penampakan sejumlah tumpukan kayu dari pengunungan di wilayah terdampak banjir di Torue.

Dalam pecakapakan group menyatakan bahwa tumpukan kayu tersebut, pasca banjir dari Torue, Parigi Moutong, Sulteng. “Ini video pasca banjir di Torue,” katanya, Selasa (02/08/2022).

Video tersebut menampakan bahwa banjir bandang di Toreu, Kamis (28/07/2022) lalu. Ini diakibatkan aktivitas penebangan liar di hutan. Hal ini terlihat material kayu terpotong dari mesin geregaji (Senso).

Gubernur Sulteng Masih Telusuri Penyebab Banjir

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) saat ini tengah menyelusiri penyembab terjadinya banjir bandang menerjang Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng, Kamis (28/07/2022) malam.

“Untuk memastikan apakah ada atau tidaknya kerusakan lingkungan di bagian hulu. Gubernur ingin mengetahui penyebabnya. Apakah memang itu karena faktor alam, atau ada kerusakan lingkungan,” ucap Gubernur Sulteng Rusdy Mastura melalui Tenaga Ahli, M Ridha Saleh, dihubungi dari Palu, Sabtu (30/7/2022).

Banjir bandang disertai meterial kayu, lumpur dan batu ini setidaknya tiga dusun di Torue terdampak. Bencana itu membuat 357 keluarga terpaksa harus mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Pengungsi di lokasi pengungsian sangat membutuhkan bantuan logistik.

Selain terdapat tiga orang warga meninggal dunia dan empat orang hilang karena bencana tersebut. Ridha Saleh mengatakan Gubernur Sulteng Rusdy Mastura turut berduka cita yang mendalam atas peristiwa banjir bandang yang berdampak pada meninggalnya tiga orang warga dan empat hilang.

Gubernur Rusdy Mastura memerintahkan OPD meliputi BPBD, Dinas Sosial, serta dinas terkait lainnya untuk segera melakukan penanganan jangka pendek demi membantu masyarakat, sekaligus mencegah terjadinya banjir susulan.Di samping itu, kata dia, Gubernur Sulteng juga memerintahkan OPD terkait agar melakukan penelitian terkait dengan penyebab banjir bandang tersebut.

“Karena hal ini berkaitan dengan masalah lingkungan, sehingga Gubernur Rusdy Mastura akan melakukan evaluasi secara menyeluruh,” kata dia.

1.459 Jiwa Korban Banjir di Torue

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng mencatat 1.459 jiwa dari 472 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir bandang di Desa Torue.

“Data ini masih bersifat sementara, karena tim masih melakukan pendataan di lapangan,” kata Kepala BPBD Parigi Moutong Idran.

Data disajikan di papan informasi merupakan perpaduan data dihimpun BPBD dan sejumlah relawan. Guna memudahkan penanggulangan di masa tanggap darurat.

Data yang tersaji, secara periodik di evaluasi dan diperbaharui guna mendapatkan data valid. Selanjutnya gunakan sebagai data induk untuk intervensi penanganan selanjutnya.

“Pemerintah terus berupaya melakukan langkah penanggulangan. Karena situasi darurat maka pemenuhan kebutuhan dasar korban diprioritaskan lebih dulu,” ujar Idran.

Baca juga: Banjir Bandang di Parigi Moutong Sulteng: 3 Orang Meninggal, 5 Hilang, Puluhan Rumah Terseret ke Laut

Peristiwa bencana banjir bandang, tercatat empat dusun terdampak. Yakni Dusun satu 81 jiwa atau 26 KK terdiri dari 11 jiwa warga lanjut usia (lansia), 5 jiwa balita dan 1 jiwa ibu hamil serta 18 rumah terdampak.  Satu di antaranya rusak berat.

Lalu, 400 jiwa atau 120 KK terdampak di Dusun 2 terdiri dari lansia 40 jiwa, 62 jiwa balita, 13 jiwa ibu hamil, 2 jiwa disabilitas dan 9 unit rumah hanyut, sedangkan rumah rusak masih dalam pendataan.

Di Dusun 3 terdampak 480 jiwa atau 160 KK terdiri dari 60 jiwa lansia, 41 jiwa balita, 6 jiwa ibu hamil. Dusun 5 terdampak 498 jiwa atau 160 KK terdiri dari 56 jiwa lansia, 51 jiwa balita dan 6 jiwa ibu hamil.

“Rumah rusak berat, sedang dan ringan masih melakukan pendataan. Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian terhadap empat korban hilang,” tutur Idran.

Dikemukakannya, dalam upaya penanggulangan bencana, Pemkab Parigi Moutong didukung 170 relawan kemanusiaan dari berbagai instansi lembaga dan organisasi.

“Kurang lebih 336 jiwa warga Desa Torue masih bertahan di posko pengungsian. Air bersih juga belum maksimal sehingga masih menjadi kebutuhan mendesak, selain itu kebutuhan lainnya makanan siap saji, pakaian, selimut, hingga perlengkapan bayi masih masih menjadi kebutuhan mendesak,” demikian Idran.

Empat Hilang

Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Basarnas mengatakan tim SAR belum menemukan dan akan terus mencari empat korban yang hilang terseret banjir bandang di Desa Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

“Operasi SAR hari ketiga masih nihil. Meski begitu kegiatan pencarian tetap berlanjut,” kata Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Palu Andi Sultan di Torue, Parigi Moutong, Sabtu.

Operasi pencarian melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, dan potensi SAR serta nelayan setempat. Yang mana fokus pencarian yakni tumpukan material kayu di laut. Karena di sekitar tumpukan tersebut menimbulkan bau`
.
Proses pencarian, tim SAR menemukan sesuatu yang mirip dengan bagian tubuh manusia. Sehingga benda tersebut di evakuasi ke darat. Namun dokter menyebut kecil kemungkinan benda tersebut bagian tubuh manusia.

Baca juga: Ini Daftar Nama Belum Ditemukan dan Meninggal Pasca Banjir Bandang Parigi Moutong Sulteng

“Meski begitu. Benda yang ditemukan tim SAR tetap di bawa ke laboratorium untuk di periksa. Dan kami sudah berkoordinasi dengan INAFIS Polres Parigi Moutong,” ujar Andi.

Rencananya operasi hari keempat pada Minggu 1 Agustus 2022. Tim SAR akan membentuk empat grup/SRU menyisir sekitar perairan Torue dengan kekuatan armada cukup memadai.

“Kekuatan personel memadai, armada pendukung berupa perahu karet siap membantu pencarian sekitar tiga unit milik Basarnas. Polairud dan BPBD Kabupaten Poso, di tambah perahu-perahu nelayan setempat,” tutur Andi.

Kendala di hadapi tim SAR gabung saat  ini, katanya, melakukan operasi banyaknya tumpukan kayu dan bongkahan rumah tersapu banjir menyulitkan kegiatan pencarian. Serta kondisi air laut yang keruh membatasi jarak pandang penyelaman.

“Meski begitu kami tetap berupaya semaksimal mungkin. Kami juga akan mencoba teknik lain pada operasi hari berikutnya. Kami berharap pada pencarian esok hari ada tanda-tanda yang muncul sebagai petunjuk keberadaan korban,” kata Andi. (*)

Exit mobile version