May Day 2026, Wali Kota Munafri Fasilitasi Buruh Duduk Bersama di Karebosi

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin menghadirkan pendekatan baru dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026.

Alih-alih diwarnai aksi demonstrasi di jalan, peringatan 1 Mei tahun ini akan dikemas dalam bentuk dialog terbuka dan festival kolaboratif yang dipusatkan di Lapangan Karebosi.

Langkah ini menjadi terobosan penting dalam membangun hubungan yang lebih harmonis antara pemerintah dan kalangan pekerja.

Munafri menegaskan, momentum May Day harus dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi yang konstruktif, bukan sekadar ajang unjuk rasa.

“Momentum May Day tahun ini harus dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi terbuka antara pemerintah dan buruh. Kita duduk bersama, membahas masalah, kebutuhan, dan mencari solusi,” ujar Munafri saat menerima audiensi panitia May Day Fest 2026 di Balai Kota Makassar, Senin (20/4/2026).

Dari Aksi Jalanan ke Dialog Terbuka

Konsep baru ini diusulkan oleh serikat buruh yang ingin menghadirkan suasana peringatan yang lebih tertib dan terorganisir.

Jika sebelumnya May Day identik dengan turun ke jalan, tahun ini seluruh kegiatan akan dipusatkan di satu lokasi.

Munafri menyambut positif gagasan tersebut dan mendorong agar pendekatan dialog menjadi fondasi utama.

“Perlu kita komunikasikan, duduk bersama antara buruh dan pemerintah untuk membangun hubungan yang lebih baik,” tegasnya.

Karebosi Dinilai Lebih Representatif

Dalam rapat persiapan, Munafri mengusulkan Lapangan Karebosi sebagai lokasi utama kegiatan.

Menurutnya, kawasan ini lebih ideal dibandingkan Anjungan Pantai Losari dari sisi kapasitas dan teknis pelaksanaan.

“Karebosi memiliki daya tampung besar, tribun memadai, serta lebih mudah dalam pengaturan tenda dan parkir,” jelasnya.

Ia juga menyoroti potensi kendala jika kegiatan dipusatkan di Pantai Losari, terutama terkait kemacetan dan keterbatasan lahan.

“Kalau di Losari, parkiran akan bermasalah. Belum lagi kalau ribuan orang berkumpul di bawah terik matahari,” tambahnya.

Target 10 Ribu Peserta, Libatkan 50 Organisasi

Ketua Panitia May Day Fest 2026, Delandi Safri Pratama, menyebut konsep festival ini menjadi yang pertama di Makassar.

“Ini terobosan baru. Biasanya May Day identik dengan aksi demonstrasi, sekarang kita kemas dalam bentuk festival,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan akan meliputi:

Seluruh agenda dipusatkan pada 1 Mei 2026 dengan estimasi peserta mencapai 10.000 orang.

“Dari serikat buruh saja sekitar 7.000 orang. Total organisasi yang terlibat sudah 50 dan masih bertambah,” jelas Delandi.

Isu Nasional Tetap Diangkat

Meski dikemas dalam suasana festival, isu-isu strategis ketenagakerjaan tetap menjadi fokus utama.

Di antaranya:

“Isu yang kami bawa tetap isu nasional, terutama soal kesejahteraan buruh,” tegasnya.

Pendekatan Humanis dan Kolaboratif

Munafri menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, serikat buruh, pengusaha hingga aparat keamanan.

Ia juga mendorong pelibatan UMKM untuk menggerakkan ekonomi lokal selama kegiatan berlangsung.

“Kita ingin ini menjadi kegiatan bersama, didukung semua stakeholder,” ujarnya.

Lebih jauh, ia berharap May Day 2026 menjadi contoh perayaan yang lebih konstruktif, tanpa gesekan, sekaligus tetap menyuarakan aspirasi buruh secara efektif.

Tanpa Aksi Jalan, Lebih Kondusif

Panitia memastikan seluruh rangkaian kegiatan tidak akan diwarnai aksi turun ke jalan.

Langkah ini sekaligus menjawab keluhan masyarakat terkait kemacetan saat peringatan May Day.

“Kami ingin kegiatan ini positif, inklusif, dan tidak mengganggu masyarakat,” kata Delandi.

May Day Bertransformasi

Transformasi peringatan May Day di Makassar tahun ini menandai perubahan pola gerakan buruh yang lebih adaptif terhadap zaman.

Tidak lagi sekadar aksi massa di jalan, tetapi menjadi ruang dialog, kolaborasi, dan solusi.

Jika berjalan sukses, konsep ini berpotensi menjadi model baru peringatan Hari Buruh di berbagai daerah di Indonesia.

Exit mobile version