LUWU TIMUR, NEWSURBAN.ID — Camat Tomoni Timur, Yulius, mengatakan penyakit rabies dan hipertensi, kian menjadi ancaman kesehatan di masyarakat Tomoni timur.
Hal itu disampaikan saat menghadiri ibadah di Gereja Toraja Jemaat Korombua Timur, Desa Manunggal, Minggu (26/04/2026).
“Ini menjadi perhatian serius. Risiko gigitan bisa terjadi pada siapa saja, dan yang paling berbahaya jika mengandung virus rabies yang mematikan,” ujar Yulius.
Berdasarkan data UPTD Puskesmas Tomoni Timur, tercatat 35 kasus gigitan, baik oleh anjing maupun kucing. Di sisi lain, populasi anjing di wilayah tersebut mencapai 1.266 ekor, yang memperbesar potensi risiko penularan jika tidak-dikendalikan.
Baca juga: Camat Yulius Tegaskan Cegah Angkah Kasus Penularan Rabies di Tomoni Timur
Ia menekankan pentingnya tanggung jawab pemilik hewan untuk melakukan vaksinasi serta pengawasan terhadap hewan peliharaan. Selain sebagai upaya pencegahan, langkah tersebut juga berkaitan dengan aspek hukum jika terjadi kasus gigitan.
Selain rabies, persoalan hipertensi turut menjadi sorotan. Data Puskesmas Tomoni Timur menunjukkan hipertensi sebagai kasus terbanyak pada layanan rawat jalan.
Kondisi ini di nilai berkorelasi erat dengan pola hidup masyarakat, terutama pada kelompok usia lanjut.
Yulius menilai, perubahan gaya hidup menjadi faktor dominan, mulai dari konsumsi makanan tinggi garam hingga rendahnya aktivitas fisik. Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam mengonsumsi makanan.
“Bukan soal enaknya makanan, tetapi kandungan gizinya yang harus diperhatikan,” katanya.
Baca juga: Atasi Permasalahan Kesehatan, Puskesmas Tomoni Timur Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
Sebelumnya, Kepala Puskesmas Tomoni Timur, Deli Gustin, mengatakan permasalah ini dapat diatasi kesehatan masyarakat, dibutuhkan yang namanya kolaborasi lintas sektor
“Masalah kesehatan tidak bisa-diselesaikan oleh satu sektor saja. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci menuju masyarakat yang sehat dan berdaya,” ungkapnya dalam rapat Lokakarya Triwulan I Tahun 2026 , terselenggarakan pada Kamis (23/4/2026).
Sebagai tindak lanjut, Puskesmas Tomoni Timur merencanakan verifikasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Cendana Hitam pada Juni 2026. Program ini-diarahkan untuk memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat. Sekaligus menekan faktor risiko berbasis lingkungan.
Puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk aktif mengikuti skrining penyakit tidak menular (PTM), khususnya bagi kelompok dewasa dan lansia. Upaya ini dipandang penting dalam mendorong deteksi dini serta pengendalian faktor risiko penyakit kronis.
Deli Gustin menegaskan, berbagai persoalan kesehatan tersebut tidak dapat-diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kecamatan, desa, hingga masyarakat.
“Melalui lokakarya ini mengharapkan terbentuk komitmen bersama untuk memperkuat integrasi program dan intervensi lintas sektor guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Tomoni Timur secara berkelanjutan,” tutupnya. (*)
