LPS dan OJK Perkuat Sinergi Perbankan di Indonesia Timur, Dorong Inklusi Keuangan Berbasis GRC

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memperkuat kolaborasi strategis dengan industri perbankan di kawasan timur Indonesia melalui sinergi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Silaturahmi LPS bersama Perbankan yang digelar di Makassar, dengan fokus utama pada penguatan penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) guna mendorong inklusi keuangan yang sehat, aman, dan berkelanjutan.

Forum tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari asosiasi perbankan, regulator, hingga pimpinan industri jasa keuangan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam menjawab tantangan perluasan akses layanan keuangan, khususnya bagi masyarakat yang masih berada dalam kategori unbanked atau belum tersentuh layanan perbankan formal.

Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, menegaskan bahwa penguatan GRC kini menjadi kebutuhan utama di tengah meningkatnya kompleksitas risiko global.

“Penerapan GRC bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi kemampuan strategis bagi perbankan untuk memastikan kepatuhan, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan ketahanan industri keuangan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem keuangan yang sehat, transparan, dan berintegritas.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), Fuad Zaen, menyebut kepercayaan masyarakat sebagai fondasi utama dalam mendorong inklusi keuangan.

Menurutnya, LPS tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan perbankan dalam menjaga kepercayaan publik melalui pengelolaan dana yang prudent serta tata kelola yang baik.

“LPS menjamin simpanan nasabah hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, selama memenuhi syarat 3T,” jelas Fuad.

Ia merinci, syarat tersebut meliputi simpanan tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga tidak melebihi bunga penjaminan, serta nasabah tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.

Penguatan GRC Jadi Kunci Stabilitas Keuangan

Dalam sesi diskusi, sejumlah narasumber memaparkan pentingnya penerapan GRC dalam memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.

Dari LPS, Iona Hiroshi Yuki Rombot menyoroti peran Single Customer View (SCV) dalam meningkatkan akurasi data perbankan.

Menurutnya, implementasi SCV memungkinkan proses penjaminan simpanan dilakukan secara cepat dan efisien saat terjadi kondisi tertentu pada bank, sehingga mampu menjaga stabilitas dan mencegah kepanikan nasabah.

Sementara itu, Kepala Divisi OJK Sulsel-Sulbar, Amirudin Muhidu, menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan seiring dengan perluasan inklusi.

Ia mengungkapkan bahwa kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan masih menjadi tantangan di Indonesia, yang berpotensi memicu risiko keuangan dan kejahatan finansial.

“Transparansi, perlindungan konsumen, serta keamanan data menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan,” jelasnya.

Di sisi lain, pakar GRC Sulad Sri Hardanto menyatakan bahwa GRC tidak hanya berfungsi sebagai alat mitigasi risiko, tetapi juga dapat menjadi strategi bisnis.

Menurutnya, penerapan GRC yang efektif mampu membuka peluang ekspansi layanan ke segmen unbankable melalui inovasi yang tetap aman dan sesuai regulasi.

“Budaya sadar risiko harus dibangun di seluruh lini organisasi, tidak hanya pada sistem, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.

Komitmen Bersama Perkuat Ekosistem Keuangan

Kegiatan ini melibatkan 54 kantor cabang bank umum serta 27 BPR/BPRS di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Selain itu, turut hadir berbagai asosiasi perbankan seperti Perbanas, Perbarindo, Asbisindo, dan Himbarsi.

Partisipasi luas ini mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem keuangan regional, khususnya di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Melalui forum ini, LPS berharap sinergi yang terjalin bersama OJK dan industri perbankan dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam menjaga stabilitas sektor keuangan, tetapi juga dalam mempercepat peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat secara merata.

Dengan penguatan GRC sebagai fondasi utama, industri perbankan diharapkan mampu menjawab tantangan transformasi keuangan modern sekaligus memperluas akses layanan keuangan formal yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Exit mobile version