KALLA Raih Top CSR Award 2026 Bintang 4: Ini Dampak Nyata Program Desa Bangkit Sejahtera di 4 Provinsi Sulawesi

JAKARTA, NEWSURBAN.ID – KALLA kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Top CSR Award 2026 yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta, Senin (25/5/2026), perusahaan asal Makassar ini berhasil membawa pulang dua penghargaan sekaligus: Top CSR Awards 2026 #Star 4 dan Top Leader on CSR Commitment 2026 yang dinobatkan kepada CEO KALLA, Solihin Jusuf Kalla.

Yang membuat pencapaian ini istimewa: program yang menjadi dasar penilaian bukan sekadar kegiatan seremonial. Program Desa Bangkit Sejahtera (DBS) yang diusung oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla telah menjangkau 84 desa di empat provinsi di Sulawesi — dengan ribuan penerima manfaat nyata yang hidupnya berubah secara terukur.

Apa Itu Top CSR Awards #Star 4?

Kategori #Star 4 dari TopBusiness bukan penghargaan sembarangan. Bintang empat berarti sistem, kebijakan, dan pelaksanaan CSR sebuah perusahaan telah dinilai berada di level “Sangat Baik” — kategori tertinggi dalam penilaian TopBusiness. Untuk meraih predikat ini, KALLA harus mempresentasikan program DBS secara langsung di hadapan para panelis pada akhir April 2026, dengan fokus pada tema Peningkatan Produktivitas dan Kapabilitas Desa sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan Desa.

Dari 12 Desa Miskin Menjadi 84 Desa Binaan di 4 Provinsi

Program Desa Bangkit Sejahtera pertama kali diluncurkan pada 2015 dengan target yang sangat spesifik: desa-desa miskin di Sulawesi Selatan yang memiliki jumlah individu miskin minimal 30% dari total penduduk.

Program Manager Community Development LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, menjelaskan bahwa angka 30% bukan sekadar statistik administratif. Di lapangan, desa dengan proporsi kemiskinan setinggi itu hampir selalu berarti desa terpencil, minim infrastruktur, dan luput dari program pemberdayaan pemerintah.

“Tentu saja karena tugas kami adalah menyalurkan zakat perusahaan, maka indikator lain yang digunakan dalam memilih desa binaan adalah mayoritas penduduk desa beragama Islam,” jelas Erny.

Perjalanan ekspansi program ini mencerminkan kepercayaan terhadap hasilnya:

Tiga Pilar Program: Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial

1. Ketahanan Ekonomi: 55 Program, 1.197 Penerima Manfaat

Sepanjang 2025, LAZ Hadji Kalla melaksanakan 55 program ketahanan ekonomi yang menyasar 1.197 orang dari 20 desa di 4 provinsi. Mayoritas berupa program budidaya komoditi lokal menggunakan teknik GAP (Good Agricultural Practices) yang bertujuan meningkatkan kapabilitas petani sekaligus produktivitas hasil panen.

Hasilnya bisa dilihat secara konkret di lapangan:

2. Ketahanan Lingkungan: 20 Program, 524 Penerima Manfaat

Program lingkungan mencakup edukasi pilah sampah, penyediaan fasilitas bak sampah, budidaya maggot dari limbah rumah tangga, penanaman 3.500 pohon, hingga pelatihan tanggap bencana. Total 524 orang terlibat langsung dalam aktivitas-aktivitas ini — bukan sekadar menonton sosialisasi, tetapi benar-benar berpartisipasi aktif.

3. Ketahanan Sosial: 51 Program, 2.532 Penerima Manfaat

Ini pilar dengan jumlah penerima manfaat terbanyak. LAZ Hadji Kalla merealisasikan 31 program peningkatan keterampilan dan 20 program kesehatan yang menjangkau 2.532 orang.

Program keterampilan mencakup beragam bidang: kerajinan tangan dari bahan lokal, pelatihan menjahit, taman baca, kursus Bahasa Inggris dasar, literasi digital untuk Karang Taruna, pembinaan kelompok olahraga, hingga teknik sambung pucuk untuk memproduksi benih tanaman. Sementara program kesehatan difokuskan pada pencegahan dan penanggulangan stunting — masalah gizi yang masih menjadi tantangan serius di banyak desa terpencil Indonesia.

Program Tematik: Ramadhan dan Hari Kemerdekaan di Desa Binaan

Keunikan program DBS juga terlihat dari perhatiannya terhadap momen kultural. Para fasilitator yang bertugas di desa binaan tidak absen saat Ramadhan atau Hari Kemerdekaan — justru mereka menggelar program tematik khusus.

Selama Ramadhan 1446 H, fasilitator mengadakan lomba syiar Islam untuk anak-anak desa. Saat Hari Kemerdekaan, berbagai lomba permainan tradisional dan pertandingan olahraga digelar. Pendekatan ini memperkuat ikatan antara program dan komunitas — menjadikan kehadiran fasilitator bukan sebagai “orang luar” yang datang memberi bantuan, melainkan bagian dari kehidupan desa.

Rekam Jejak Penghargaan CSR KALLA: Lima Tahun Konsisten

Pencapaian 2026 ini bukan keberuntungan sesaat. KALLA telah membangun rekam jejak yang konsisten selama lima tahun terakhir:

Penghargaan 2025 dan 2026 dari TopBusiness menggunakan tema program yang berbeda: tahun lalu KALLA mengusung program Aksi Mangrove Lestari, tahun ini tampil dengan Desa Bangkit Sejahtera.

Makna di Balik Penghargaan

Corporate Communication & Sustainability Department Head KALLA, Nadya Tyagita, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari jumlah kegiatan semata.

“Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu memberdayakan masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Nadya.

Pernyataan ini mencerminkan pendekatan CSR yang jarang ditemukan: bukan sekadar “memberi ikan”, tetapi membangun kapasitas masyarakat agar bisa mandiri. Bengkel motor yang dikelola warga, rumah produksi UMK yang beroperasi sendiri, atau lokasi wisata yang dikembangkan dari potensi lokal — semuanya adalah warisan program yang bertahan bahkan setelah fasilitator meninggalkan desa.

Exit mobile version