PALU, NEWSURBAN.ID – HUT ke-48 Kota Palu, Wali Kota H. Hadianto Rasyid menitipkan sebuah pesan yang jauh dari seremonial. Pesannya adalah: Moving in Action.
Sebuah pesan yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya adalah otokritik dan sekaligus penanda arah.
Yang menarik, Wali Kota membagi dengan sangat jernih dua periode kepemimpinannya.
Periode pertama, katanya, adalah periode membangun wacana. Merumuskan gagasan perubahan, meletakkan dasar tata kelola, membangun fondasi.
Periode kedua adalah periode pembuktian. Periode kerja nyata.
Kejujuran ini langka. Banyak pemimpin sibuk mengklaim semua periode adalah keberhasilan. Hadianto justru mengakui periode pertama adalah masa membangun narasi. Dan kini adalah waktunya narasi itu dibuktikan.
Di sinilah letak refleksi terdalamnya:
“Yang harus kita evaluasi sebenarnya bukan programnya, tetapi cara kerja kita dalam menjalankan program tersebut.”
Kalimat itu kunci untuk memahami Palu hari ini.
Kita memiliki 88 program prioritas yang di atas kertas berjalan baik. Tapi pertanyaan reflektifnya: Apakah cara kerja kita sudah benar? Apakah bantuan modal usaha benar-benar membuat orang mandiri, atau hanya membuat daftar penerima bantuan yang baru setiap tahun?
Koreksi yang dilakukan Wali Kota patut diapresiasi sebagai wujud Moving in Action itu sendiri.
Mulai 2025-2026, penerima bantuan modal usaha tidak lagi langsung diberi uang. Mereka harus mendapat literasi dulu, penguatan kapasitas dulu. Ini adalah perubahan paradigma fundamental: dari memberi ikan, menjadi mengajari cara memancing, dan memastikan kailnya tidak patah.
Itulah esensi Moving in Action. Bukan menambah jumlah program, tapi memperbaiki kualitas cara kerja.
Makna ini pula yang harus kita titipkan pada rangkaian HUT ke-48 nanti, termasuk Gebyar UMKM. Ia tidak boleh hanya menjadi pameran seremonial tahunan untuk menggugurkan agenda. Jika ia adalah Moving in Action, ia harus menjadi etalase naik kelasnya UMKM binaan dan inkubator bisnis Palu. Ada cerita omzet naik, produk bersaing, dan pasar meluas.
Pada akhirnya, refleksi HUT ke-48 Kota Palu bukan tentang pesta dan spanduk.
Palu tidak butuh pemimpin yang paling banyak bicara tentang perubahan. Palu butuh pemimpin dan birokrasi yang memastikan perubahan itu sampai ke meja makan masyarakat.
Moving in Action berarti berhenti memoles kata-kata indah di dalam dokumen RPJMD, dan mulai memoles kenyataan di lapangan.
Karena HUT ke-48 bukan tentang berapa umur kota ini, tapi tentang sudah sejauh mana kota ini benar-benar bergerak untuk warganya.
Catatan Pinggir: yusufwempy
