
MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja sektor perbankan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) tetap tumbuh dan stabil hingga November 2025, meskipun di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang penuh tantangan.
OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai, stabilitas sektor jasa keuangan Sulampua ditopang oleh kinerja positif perbankan, pasar modal, serta industri keuangan non bank (IKNB) yang terus menjalankan fungsi intermediasi dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Hingga November 2025, total aset perbankan di Sulampua tumbuh 4,26 persen (year on year/yoy) mencapai Rp572,44 triliun. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 5,86 persen menjadi Rp362,46 triliun, dengan struktur dana masih didominasi tabungan.
Penyaluran kredit perbankan juga mencatatkan pertumbuhan 4,05 persen (yoy) dengan total mencapai Rp449,98 triliun. Portofolio kredit terdiri atas kredit konsumtif sebesar 52,06 persen dan kredit produktif sebesar 47,94 persen. Meski pertumbuhan kredit relatif tertahan akibat kontraksi pada segmen kredit modal kerja, kualitas aset perbankan tetap terjaga.
Hal tersebut tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang berada di level 2,99 persen, masih di bawah ambang batas yang ditetapkan. Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 124,14 persen, menunjukkan optimalisasi fungsi intermediasi perbankan di wilayah Sulampua.
Selain perbankan, OJK juga mencatat pertumbuhan positif pada sektor pasar modal. Hingga November 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) di Sulampua mencapai 1,24 juta investor, tumbuh 27,61 persen (yoy), dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari instrumen saham.
OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan, menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, serta mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan memasuki tahun 2026.









