Setahun Munafri–Aliyah Pimpin Makassar: Program Nyata Mulai Dirasakan Warga, Tahun Kedua Fokus Dampak

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Tepat satu tahun kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, berbagai program pembangunan mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Kota Makassar.
Sejak dilantik pada 20 Februari 2025 di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto, pasangan yang dikenal dengan akronim MULIA ini bergerak cepat menerjemahkan visi dan janji politik ke dalam kerja nyata yang menyentuh kebutuhan warga.
Memasuki 365 hari pemerintahan, arah pembangunan Kota Makassar dinilai semakin terukur dan konkret. Sejumlah program unggulan mulai menunjukkan hasil, mulai dari penertiban parkir liar, pembenahan drainase dan kebersihan lingkungan, penguatan layanan publik, hingga program sosial berupa seragam sekolah gratis.
Penataan Kota Lebih Tertib dan Humanis
Di sektor penataan kota, pemerintah mengambil langkah tegas namun tetap humanis dalam menertibkan parkir liar dan lapak yang berdiri di atas fasilitas umum. Pendekatan persuasif menjadi strategi utama, menegaskan bahwa pemerintah hadir bukan untuk menghukum, melainkan menata ruang kota demi kepentingan bersama.
Upaya tersebut berdampak pada meningkatnya ketertiban kota, akses pejalan kaki yang lebih nyaman, serta kembalinya fungsi ruang publik sebagaimana mestinya.
Sementara itu, komitmen terhadap kebersihan lingkungan diwujudkan melalui gerakan cepat di tingkat kecamatan dan kelurahan. Kanal-kanal yang sebelumnya tersumbat kini rutin dibersihkan sehingga membantu mengurangi potensi banjir dan meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
Program Sosial Mulai Dirasakan
Di bidang pendidikan dan pelayanan sosial, realisasi program seragam sekolah gratis menjadi salah satu kebijakan yang langsung dirasakan masyarakat. Program ini dinilai mampu meringankan beban ekonomi orang tua sekaligus menjadi simbol keberpihakan pemerintah kepada warga.
Meski satu tahun bukan waktu panjang dalam siklus pembangunan kota, fondasi perubahan dinilai telah diletakkan melalui konsistensi antara janji dan realisasi program.
Tahun Kedua Fokus Dampak Nyata
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinan MULIA yang digelar di Lapangan Karebosi, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jumat (20/2/2026), Munafri Arifuddin menegaskan bahwa tahun kedua pemerintahan harus menjadi fase percepatan dampak nyata.
“Saya perlu ingatkan, masuk tahun kedua harus menjadi fase percepatan program yang berdampak langsung dan dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan dan anggota DPRD Makassar, jajaran Pemerintah Kota Makassar, serta Ketua TP PKK Melinda Aksa.
Munafri yang akrab disapa Appi mengingatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar tidak mengulang pola kerja lama yang hanya bersifat administratif tanpa menghasilkan perubahan nyata.
“Begitu naifnya kita ketika hal-hal yang dianggap tidak berhasil lalu diulang kembali tanpa pembelajaran. Itu tidak akan memberi dampak apa-apa,” tegasnya.
Ubah Paradigma Pembangunan
Menurutnya, tantangan utama bukan pada kapasitas sumber daya manusia, melainkan pada arsitektur berpikir dan sistem kerja birokrasi yang belum berubah.
Ia menilai model pembangunan lama masih terlalu administratif, mulai dari perencanaan hingga pelaporan, namun belum sepenuhnya berorientasi pada penyelesaian masalah kota.
Ke depan, pemerintah diarahkan untuk memulai pembangunan dari identifikasi persoalan, menentukan target perubahan, merancang transformasi, hingga melakukan intervensi terpadu yang dampaknya dapat diukur secara jelas.
“Kalau dampaknya belum sesuai harapan, berarti prosedurnya yang harus diperbaiki,” jelasnya.
Refleksi Jujur Tahun Pertama
Munafri juga menyampaikan refleksi terbuka terhadap satu tahun pemerintahannya. Ia mengakui sistem kerja mulai tertata, namun dampak program belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Menurutnya, legitimasi publik tidak berhenti pada pelantikan, melainkan diperbaharui setiap hari melalui perubahan nyata.
“Legitimasi publik itu diperbaharui setiap hari melalui perubahan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia merumuskan empat pembelajaran utama tahun pertama pemerintahan:
-
Program tidak otomatis menyelesaikan masalah.
-
Inovasi tanpa integrasi tidak menghasilkan dampak.
-
Anggaran besar tidak selalu efektif tanpa fokus.
-
Reformasi administrasi harus diikuti reformasi manajemen kinerja.
Karena itu, arah pemerintahan tahun kedua diarahkan pada perubahan dari working in government menuju problem solving government, dengan indikator kinerja yang bergeser dari sekadar output menuju outcome dan impact.
Fondasi Sudah Diletakkan
Munafri menegaskan bahwa jika tahun pertama merupakan fase pembenahan sistem kerja, maka tahun kedua menjadi fase percepatan dampak pembangunan.
“Makassar tidak kekurangan kerja. Makassar sedang menyempurnakan cara bekerja,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mengawal jalannya pemerintahan.
“Sampaikan kepada kami ketika kami lalai dan tegur kami ketika kami salah. Semua yang kami lakukan demi pelayanan publik yang lebih baik,” tutupnya. (*)









