MAKASSAR, NEWSURBAN.ID – Wali Kota Makassar, Arifuddin, mengajak kalangan dunia usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk berperan aktif mendukung gerakan pemilahan sampah dan penguatan program lingkungan hidup di Kota Makassar melalui Gerakan ramah lingkungan.
Ajakan tersebut disampaikan Munafri saat menerima audiensi pengurus APINDO Sulsel di Balai Kota Makassar, Kamis (11/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Munafri menegaskan bahwa persoalan sampah dan lingkungan hidup tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah.
“Sehingga dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk dunia usaha, untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya,” ujar Munafri.
Menurutnya, Pemerintah Kota Makassar saat ini terus mendorong berbagai program pemberdayaan lingkungan, seperti urban farming, komposter, Teba Modern, hingga penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
-
Keroyok Seorang Anggota Polri Ditempat Umum Enam Pemuda Diringkus Tim Resmob Polres Bone BONE–Satuan Reserse Kriminal Sat Reskrim Polres Bone berhasil mengungkap kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang anggota Polri yang terjadi di kawasan Lapangan Merdeka, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Enam pemuda yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut diamankan Tim Resmob Satreskrim Polres Bone pada Senin malam sekitar pukul 21.30 Wita. Saat ini, seluruh terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Bone. Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan, membenarkan pengungkapan kasus para pelaku tersebut. “Iya benar, kami telah mengamankan enam orang yang diduga terlibat dalam tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama. Saat ini seluruhnya masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Satreskrim Polres Bone,” ujar AKP Alvin saat ditemui di Mapolres Bone, Selasa 14/7/2026. Lanjut Alvin, berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa pengeroyokan terjadi pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 01.00 Wita di kawasan kuliner Lapangan Merdeka Bone. Korban diketahui berinisial MF (23), seorang anggota Polri yang berdomisili di Desa Tanah Batue, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Saat itu korban tengah duduk bersama rekannya sambil menikmati makanan di salah satu lapak kuliner. Namun situasi berubah ketika salah seorang terduga pelaku diduga memukul tangan teman korban yang sedang makan. Dimana insiden tersebut memicu adu mulut antara kedua belah pihak. Korban kemudian berusaha melerai dan meredam ketegangan agar keributan tidak meluas. Namun upaya tersebut justru berujung pada aksi pengeroyokan. Polisi menyebut korban diduga dipukul dan ditendang secara bersama-sama oleh para pelaku hingga mengalami sejumlah luka. Akibat kejadian itu, korban mengalami bengkak pada wajah sebelah kiri, memar di tangan kanan, serta luka bengkak di bagian kepala. Korban kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Bone. Menindaklanjuti laporan korban, Unit Resmob Satreskrim Polres Bone yang dipimpin Kanit Resmob AIPTU Tahir bergerak melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan, polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap enam orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Dalam pemeriksaan awal, para terduga pelaku mengakui keterlibatan mereka dalam aksi penganiayaan terhadap korban. Selain mengamankan para pelaku, polisi juga menyita tiga unit telepon genggam Android yang diduga berkaitan dengan penyelidikan perkara. Menurut AKP Alvin, pengungkapan kasus ini merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Pekat Lipu 2026 yang digelar Polres Bone untuk menekan aksi premanisme dan tindak kriminal di wilayah hukumnya. “Saat ini penyidik masih mendalami peran masing-masing pelaku serta melengkapi berkas perkara untuk proses hukum lebih lanjut,” kata Alvin Aji Kurniawan. Sementara itu, Kasi Humas Polres Bone, Iptu Rayendra, mengimbau masyarakat agar tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan kekerasan. Menurutnya, setiap permasalahan sebaiknya diserahkan kepada aparat penegak hukum agar diproses sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan kekerasan. Apabila terjadi permasalahan, segera laporkan kepada pihak kepolisian agar dapat ditangani sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” ujarnya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan Call Center 110 apabila membutuhkan bantuan kepolisian atau ingin melaporkan tindak pidana. “Layanan Call Center 110 selalu siap melayani masyarakat selama 24 jam, ketika terjadi adanya keributan dan hal lainnya,” ungkap Rayendra Muhctar. Farhan Enam Pemuda Diringkus Usai Diduga Keroyok Anggota Polri di Lapangan Merdeka Bone BONE – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bone berhasil mengungkap kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang anggota Polri yang terjadi di kawasan kuliner Lapangan Merdeka, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sebanyak enam pemuda yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut diamankan Tim Resmob Satreskrim Polres Bone pada Senin (13/7/2026) sekitar pukul 21.30 Wita. Saat ini, seluruh terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Bone. Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Alvin Aji Kurniawan, membenarkan pengungkapan kasus tersebut. “Iya benar, kami telah mengamankan enam orang yang diduga terlibat dalam tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama. Saat ini seluruhnya masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Satreskrim Polres Bone,” ujar AKP Alvin saat ditemui di Mapolres Bone, Selasa (14/7/2026). Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa pengeroyokan terjadi pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 01.00 Wita di kawasan kuliner Lapangan Merdeka Bone. Korban berinisial MF (23), seorang anggota Polri yang berdomisili di Desa Tanah Batue, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Saat kejadian, korban sedang duduk bersama rekannya sambil menikmati makanan di salah satu lapak kuliner. Insiden bermula ketika salah seorang terduga pelaku diduga memukul tangan teman korban yang sedang makan. Peristiwa tersebut memicu adu mulut antara kedua belah pihak. Korban kemudian berusaha melerai dan meredam ketegangan agar keributan tidak meluas. Namun, upaya tersebut justru berujung pada aksi pengeroyokan. Polisi menyebut korban diduga dipukul dan ditendang secara bersama-sama hingga mengalami sejumlah luka, di antaranya bengkak pada wajah sebelah kiri, memar di tangan kanan, serta luka bengkak di bagian kepala. Atas kejadian itu, korban melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Bone. Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Resmob Satreskrim Polres Bone yang dipimpin Kanit Resmob AIPTU Tahir segera melakukan penyelidikan. Hasilnya, petugas berhasil mengidentifikasi dan menangkap enam orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan. Dalam pemeriksaan awal, para terduga pelaku mengakui keterlibatan mereka dalam aksi penganiayaan terhadap korban. Polisi juga menyita tiga unit telepon genggam Android yang diduga berkaitan dengan penyelidikan perkara. AKP Alvin mengatakan, pengungkapan kasus tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Pekat Lipu 2026 yang digelar Polres Bone untuk menekan aksi premanisme dan tindak kriminal di wilayah hukumnya. “Saat ini penyidik masih mendalami peran masing-masing pelaku serta melengkapi berkas perkara untuk proses hukum lebih lanjut,” katanya. Sementara itu, Kasi Humas Polres Bone, IPTU Rayendra Muhtar, mengimbau masyarakat agar tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan kekerasan. Menurutnya, setiap permasalahan sebaiknya diserahkan kepada aparat penegak hukum agar diproses sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan kekerasan. Apabila terjadi permasalahan, segera laporkan kepada pihak kepolisian agar dapat ditangani sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” ujarnya. Ia juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan layanan Call Center 110 apabila membutuhkan bantuan kepolisian atau ingin melaporkan tindak pidana. “Layanan Call Center 110 selalu siap melayani masyarakat selama 24 jam ketika terjadi keributan maupun situasi yang membutuhkan kehadiran polisi,” tutup Rayendra.
14 Juli 2026
-
-
-
“Kalau kita bisa berkolaborasi dengan dunia usaha, dampaknya akan jauh lebih besar,” tuturnya.
“Kita ingin membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, kemudian diperkuat di lingkungan sekolah dan kawasan permukiman,” tambah Munafri.
Appi menjelaskan, salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan APINDO adalah membantu menyediakan fasilitas penampungan sampah plastik di sekolah-sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Menurutnya, program tersebut sangat memungkinkan untuk diterapkan di sekitar 300 Sekolah Dasar (SD) dan 50 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kota Makassar.
Sampah plastik yang telah dipilah, seperti botol plastik dan kemasan lainnya, dapat dikumpulkan di titik-titik tertentu sebelum selanjutnya dikelola melalui sistem pengolahan sampah yang telah disiapkan pemerintah.
“Kita bisa siapkan tempat-tempat penampungan sampah plastik di lingkungan sekolah. Anak-anak kita ajarkan sejak dini untuk memilah sampah. Ini menjadi investasi budaya yang sangat penting untuk masa depan kota,” katanya.
Munafri menilai dukungan dunia usaha terhadap gerakan lingkungan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Komitmen dan keberpihakan terhadap isu lingkungan justru menjadi nilai utama yang ingin dibangun bersama.
Menurutnya, APINDO dapat menjadi pelopor dalam mendeklarasikan diri sebagai organisasi usaha yang mendukung lingkungan hidup, sekaligus memperkuat komitmen terhadap green economy dan blue economy yang saat ini menjadi perhatian global.
Dikatakan, konsep ini sangat menarik karena APINDO bisa mendeklarasikan diri bersama Pemerintah Kota Makassar sebagai organisasi yang ramah lingkungan dan mendukung green economy maupun blue economy.
“Isu lingkungan saat ini menjadi isu yang sangat krusial. Bahkan tidak harus dengan biaya besar, cukup menunjukkan komitmen dan dukungan nyata terhadap gerakan lingkungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Munafri mengungkapkan bahwa semangat pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan juga akan diperkenalkan kepada para tamu internasional yang akan hadir dalam kegiatan Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 23–25 Juni 2026 di Makassar.
Kota Makassar ditunjuk sebagai tuan rumah kegiatan yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri tersebut dan akan menghadirkan sekitar 32 duta besar dari berbagai negara.
Momentum tersebut, kata Munafri, tidak hanya dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi investasi dan perdagangan Kota Makassar, tetapi juga menunjukkan berbagai praktik baik pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan masyarakat.
Ia berharap keterlibatan dunia usaha dalam mendukung pemilahan sampah, pengurangan sampah plastik, serta penguatan ekonomi sirkular dapat menjadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
“Yang kita bangun bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi gerakan bersama yang memberikan dampak nyata,” kata Appi.
“Kita ingin menunjukkan bahwa Makassar serius membangun kota yang bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan dengan dukungan seluruh elemen, termasuk dunia usaha,” sambung Appi, menutup keterangan. (*)