Wali Kota Palu Jadi Pembicara di Hari Kota Dunia di Fuzhou dan Konferensi Global di Shanghai

PALU, NEWSURBAN.ID – Kota Palu kembali mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. Dalam rangkaian World Cities Day 2026, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, menjadi salah satu pembicara utama dengan tema “Membangun Kembali Kota: Hunian yang Layak untuk Semua.”
Kegiatan ini diselenggarakan UN-Habitat bersama Pemerintah Tiongkok, Provinsi Fujian, dan tuan rumah Pemerintah Kota Fuzhou.
Pada momentum tersebut, Kota Palu masuk dalam 15 kota dunia dalam Penghargaan Global untuk Kota Pembangunan Berkelanjutan.
Penghargaan itu menjadi pengakuan dunia atas keberhasilan Palu bangkit dari bencana 2018 dan membangun kembali kota secara inklusif dan berkelanjutan.
Wali Kota didampingi Sekda Kota Palu Irmayanti, S. Sos, MM, Kepala Dinas PU Ismayadin Dj. Parigade, ST, Sekdis DLH Ibnu Mundzir, dan Staf Pendamping Pembangunan Daerah Kota Palu, Ikhwan Umar.
Adapun selamanya jadwal di China, Fuzhou, 31 Oktober – 1 November 2026: Narasumber Regenerating the City Dialogue usai pembukaan World Cities Day 2026 dan penyerahan Shanghai Award 2026, serta pembicara Thematic Forum Shanghai Award pada sesi City Leaders Dialogue.
Shanghai, 2 – 3 November 2026: Memberikan opening remarks pada Themed Session: Quality Housing and Digital-Intelligent Empowerment dan Shanghai Manual Side Event.
Di kesempatan tersebut, Walikota Palu menyampaikan, “Bagi kami di Palu, membangun kembali kota artinya membangun kembali harapan. Hunian yang layak bukan sekadar atap, tapi tempat di mana manusia bisa hidup dengan bermartabat.”
Wali Kota menyampaikan tiga kunci keberhasilan Palu: Kota untuk Semua, Bangkit Bersama Rakyat dengan semangat Nosarara Nosabatutu, serta Berkelanjutan dan Tangguh Bencana.
“Kami datang ke Fuzhou untuk berbagi luka, berbagi pelajaran, dan berbagi harapan.”
Ia juga menekankan ketahanan bencana sebagai perencanaan khusus, termasuk penetapan zona merah dan zona hijau di kota.
Di kesempatan tersebut sejumlah pesan disampaikan Walikota Palu di Shanghai: Regenerasi kota harus berbasis risiko bencana, hunian layak lebih dari sekadar rumah permanen, komunitas sebagai pusat perencanaan, selaras dengan alam, dan membangun kota tangguh lewat kemitraan yang kuat.
Wali Kota juga menyampaikan prinsip Nosialapale dan Nosarara Nosabatutu, serta Program Unggulan Urban Acupuncture dan Sekolah Khusus Keluarga sebagai upaya regenerasi kota dari sisi fisik dan keluarga.
Dari kota yang pernah porak-poranda, kini Palu menjadi contoh global membangun kota yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan. (*)









