MAKASSAR, NEWSURBAN.ID — Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat literasi dan inklusi reksa dana di masyarakat melalui program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026) yang diselenggarakan di Makassar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026 yang dilaksanakan di sejumlah kota di Indonesia, sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi reksa dana.
Berdasarkan data industri, kinerja reksa dana pada tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana tercatat meningkat 35,06 persen menjadi Rp679,24 triliun dari Rp502,92 triliun pada akhir 2024. Secara agregat, total dana kelolaan investasi nasional juga mencapai Rp1.007,65 triliun atau tumbuh 25,19 persen.
Selain itu, kinerja imbal hasil reksa dana juga tercatat positif, dengan reksa dana saham membukukan imbal hasil sebesar 17,23 persen, diikuti reksa dana campuran 12,48 persen, reksa dana pendapatan tetap 6,96 persen, dan reksa dana pasar uang 3,18 persen.
Di sisi lain, jumlah investor reksa dana juga mengalami peningkatan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 19,2 juta pada akhir 2025, naik dibandingkan 18,6 juta pada tahun sebelumnya.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menyampaikan bahwa hingga Februari 2026 jumlah investor reksa dana di Provinsi Sulawesi Selatan tercatat sebanyak 569.610 investor.
“Minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, terutama dari generasi muda. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif, tingkat partisipasi masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia 15–34 tahun mencapai sekitar 88,96 juta jiwa, sementara investor reksa dana pada kelompok usia tersebut baru sekitar 12,82 persen.
APRDI menilai kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan literasi dan inklusi investasi di Indonesia.
Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba, menyatakan bahwa pertumbuhan industri reksa dana perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat.
“Pertumbuhan industri reksa dana mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Oleh karena itu, penguatan literasi dan inklusi perlu terus dilakukan, khususnya kepada generasi muda,” katanya.
Pelaksanaan SOSEDU APRDI 2026 di Makassar diawali dengan kegiatan edukasi bagi jurnalis yang dilaksanakan di Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Selain itu, kegiatan edukasi juga menyasar kalangan mahasiswa melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan.
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari roadshow yang sebelumnya telah dilaksanakan di Surabaya, Semarang, dan Medan, serta akan dilanjutkan ke Bandung.
Sebagai puncak kegiatan, APRDI bersama OJK dan BEI akan meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR Reksa Dana) pada 27 April 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, yang dirangkaikan dengan penyelenggaraan Pekan Reksa Dana 2026.
Program tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara terencana dan berkelanjutan.
OJK juga mengingatkan masyarakat agar selalu memahami manfaat, risiko, serta memastikan legalitas produk sebelum melakukan investasi.
Selain kegiatan edukasi, APRDI juga menyelenggarakan kompetisi bagi jurnalis dan mahasiswa dengan total hadiah sebesar Rp55 juta sebagai bagian dari kampanye peningkatan literasi reksa dana.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, diharapkan literasi dan inklusi reksa dana di masyarakat dapat terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri yang berkelanjutan.(ard)









