
MAKASSAR, NEWSURBAN.ID โ Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Pj Sekdaprov) Andi Winarno Eka Putra membacakan sejarah singkat Hari Jadi Sulawesi Selatan ke-357 di Gedung DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Senin (19/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Andi Winarno membacakan sejarah singkat hari jadi Sulsel. Pada 1993, H. Zainal Basri Palaguna, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, menggagas lahirnya hari jadi Sulawesi Selatan, dengan tujuan meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat dalam semangat persatuan dan kesatuan guna melanjutkan pembangunan nasional di Sulawesi Selatan.
Gagasan ini, kata Andi Winarno, ditindaklanjuti dengan studi banding ke beberapa daerah dan Tudang Sipulung dalam bentuk seminar pada 18โ19 Juli 1995 di Ruang Pola Kantor Gubernur. Seminar tersebut dihadiri kalangan cendekiawan, tokoh masyarakat, pinisepuh, pimpinan Daerah Tingkat I dan Tingkat II, sejumlah tokoh daerah, pimpinan organisasi politik, serta organisasi pemuda se-Sulawesi Selatan untuk merumuskan kesepahaman bersama terkait substansi dan simbol yang dapat memperkuat sinergi masyarakat dan pemerintah dalam melanjutkan pembangunan daerah.
“Seminar ini menampilkan 19 makalah utama dan makalah kunci dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, serta sejumlah makalah sumbangan serta tulisan lainnya dari berbagai unsur secara spontan,” kata Andi Winarno
Pada seminar ini, lanjut Andi Winarno, berhasil dihimpun berbagai aspirasi dari sejumlah kalangan yang kemudian dibahas oleh para cendekiawan. Forum ini memutuskan lima rumusan usulan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, dengan mempertimbangkan momentum puncak peristiwa bersejarah di Sulawesi Selatan yang dinilai layak dan pantas dijadikan simbol hari jadi.
“Pembahasan secara mendalam dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah bersama staf, sesuai usulan dan momentum puncak kejayaan peristiwa di Sulawesi Selatan dimaknai memiliki bobot nilai yang sama,” ujarnya.
“Maka simpulan yang dihasilkan adalah dipandang perlu memadukan atau menggabungkan rumusan yang ada dalam sebuah rumusan yang bermakna simbolik yaitu tanggal 19 bulan Oktober Tahun 1669,” tambahnya.
Lebih lanjut, Andi Winarno menjelaskan bahwa kesepakatan itu dilanjutkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan menuangkannya ke dalam Rancangan Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan untuk meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Sulawesi Selatan melalui mekanisme tata tertib DPRD. Melalui Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995, DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan menyetujui dan menetapkan tanggal 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan.
Selain itu, tanggal 19 (Sembilan Belas) dipilih sebagai tanggal simbolik yang mencerminkan kesadaran bahwa Sulawesi Selatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini merujuk pada Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19 Agustus 1945. Dalam rapat tersebut, peserta dari Sulawesi Selatan dengan semangat dan antusias serta secara spontanitas melepaskan segala atribut kerajaan untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kemudian, bulan Oktober memiliki makna penting karena menjadi penanda dua momentum yang melambangkan kebersamaan dan persatuan di wilayah ini. Pertama, kesepakatan para raja di kawasan Sulawesi Selatan untuk mendukung Dr. Ratulangi menjadi gubernur pertama Provinsi Sulawesi pada tanggal 15 Oktober 1945. Kedua, peristiwa rekonsiliasi raja-raja bersaudara yang terlibat dalam Perang Makassar, yang berlangsung pada Oktober 1674.
Sementara itu, tahun 1669 merujuk pada fakta dan data sejarah tentang berakhirnya Perang Makassar. Pada tahun tersebut, terjadi peristiwa heroisme yang luar biasa, ketika para tubarani telah mempertaruhkan segala daya dan upaya dalam perang 40 hari 40 malam sebelum Benteng Somba Opu dihancurkan oleh pihak penjajah.
Semangat tak kenal menyerah tercermin dari langkah para tubarani yang melakukan gerakan hijrah ke Pulau Jawa untuk bergabung bersama pejuang lainnya dalam upaya menentang penjajahan. Semangat tersebut diwariskan hingga pertengahan abad XX. Bagi mereka, kekalahan dalam pertempuran bukanlah alasan untuk menghentikan perjuangan. Perang yang utama adalah perjuangan melawan kelicikan, kesombongan, dan keangkaramurkaan.
Tahun 1669 menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran di kalangan masyarakat daerah yang terlibat dalam Perang Makassar bahwa mereka telah dipecah belah oleh pihak-pihak asing yang bermaksud mengambil keuntungan dari pertentangan antara kerajaan bersaudara dan masyarakat yang masih terikat dalam pertalian darah (genealogis) yang dekat.
“Pilihan tahun yang bersejarah itu, juga dimaksudkan menggugah hati nurani dan kesadaran masyarakat Sulawesi Selatan sampai kapanpun, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan secara terus menerus dari bahaya perpecahan, dengan tetap menjaga potensi kebersamaan serta mengembangkan persatuan di kalangan warga masyarakat Sulawesi Selatan, untuk terus melanjutkan Pembangunan yang bertujuan pada masyarakat sejahtera dan cinta pada tanah air,” ungkapnya.
Demikian sejarah ringkas Hari Jadi Sulawesi Selatan, mulai dari gagasan awal hingga penetapan tanggal 19 Oktober 1669 sebagai hari jadi resmi Sulawesi Selatan melalui Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995.
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Sulawesi Selatan, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Ketua DPRD Sulsel, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulsel, para wakil ketua DPRD Sulsel, anggota DPRD Sulsel, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. (*)









