News

OJK: Kinerja Perbankan Indonesia 2026 Tetap Solid Meski Outlook Negatif Global

JAKARTA, NEWSURBAN.ID — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kinerja industri perbankan nasional hingga saat ini masih berada dalam kondisi solid dengan tren pertumbuhan yang positif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa revisi outlook negatif terhadap sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), oleh lembaga pemeringkat internasional bukan disebabkan oleh faktor fundamental perbankan.

Menurutnya, penyesuaian outlook tersebut lebih dipicu oleh perubahan outlook peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif, yang kemudian turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor perbankan nasional. Faktor eksternal berupa dinamika makroekonomi global juga menjadi salah satu pemicu.

“Pada dasarnya kondisi industri perbankan nasional berada dalam kondisi yang positif, dengan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen (yoy) sejalan dengan pertumbuhan DPK sebesar 13,48 persen (yoy),” ujar Dian.

Dari sisi risiko, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,14 persen. Sementara itu, permodalan industri perbankan tercatat kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87 persen. Likuiditas juga berada pada level yang sangat memadai, tercermin dari rasio AL/NCD, AL/DPK, dan LCR masing-masing sebesar 121,23 persen, 27,54 persen, dan 197,92 persen—jauh di atas ambang batas (threshold).

Secara fundamental, kinerja bank-bank besar termasuk kelompok KBMI 4 dan Himbara tetap kuat. Pertumbuhan kredit pada kedua kelompok tersebut bahkan mencapai dua digit, masing-masing sebesar 13,34 persen dan 13,43 persen.

Di sisi pendanaan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan kinerja positif, dengan KBMI 4 tumbuh 16,32 persen dan Himbara 16,38 persen. Hal ini mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tetap tinggi serta kondisi likuiditas yang terjaga.

Ketahanan permodalan juga dinilai sangat kuat. Rasio CAR Himbara tercatat sebesar 20,32 persen, sementara KBMI 4 mencapai 22,33 persen. Kondisi ini memberikan ruang ekspansi bisnis sekaligus menjadi bantalan dalam menghadapi potensi risiko ke depan.

Dari aspek kualitas aset, rasio NPL gross berada pada kisaran kurang dari 1 persen hingga 3 persen, dengan Loan at Risk (LaR) yang tetap terkendali serta didukung pembentukan cadangan yang memadai. Hal ini menunjukkan penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang prudent.

Sepanjang 2025, bank KBMI 4 dan Himbara juga mencatatkan laba yang baik, mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, serta kualitas aset.

Di tengah ketidakpastian global, Himbara tetap menunjukkan peran strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah, dengan kinerja intermediasi yang stabil.

OJK menegaskan akan terus melakukan pengawasan berkelanjutan guna memastikan perbankan menjalankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta manajemen risiko yang memadai.

Penyesuaian outlook oleh lembaga pemeringkat internasional, menurut OJK, tidak secara langsung memengaruhi kemampuan bank dalam mengakses sumber pendanaan. Saat ini, peringkat kredit bank KBMI 4 dan Himbara masih berada pada level investment grade dan didukung oleh fundamental yang kuat.

Selain itu, struktur pendanaan perbankan nasional masih didominasi oleh dana domestik, sehingga ketergantungan terhadap pendanaan eksternal relatif terbatas.

OJK juga memandang bahwa outlook negatif tersebut bersifat sementara dan berpotensi kembali membaik seiring dengan pemulihan prospek ekonomi global dan domestik, serta penguatan indikator fiskal dan eksternal.

“OJK bersama pemangku kepentingan, khususnya anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi kebijakan dan penguatan pengawasan,” tutup Dian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button