DALAM perjalanan panjang politik Sulawesi Selatan, nama H. Andi Potji dikenang sebagai simbol keteguhan, keberanian, dan kesetiaan terhadap perjuangan rakyat. Beliau hadir bukan sekadar sebagai pemimpin partai, melainkan sebagai sosok pejuang yang menjaga marwah perjuangan dengan integritas, ketulusan, dan konsistensi yang kian langka di tengah dinamika politik.
Pengabdiannya berakar dari kerja-kerja organisasi yang dijalani dengan penuh dedikasi. Pada periode 1995–1998, beliau dipercaya memimpin sebagai Ketua DPD PDI Provinsi Sulawesi Selatan—PDI Pro Mega—pada masa transisi penting ketika semangat perubahan mulai tumbuh dan membutuhkan figur yang teguh berdiri di garis depan perjuangan rakyat.
Tongkat kepemimpinan itu kemudian berlanjut ketika beliau menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode berturut-turut, 1998–2000 dan 2000–2005. Di bawah kepemimpinannya, partai mengalami konsolidasi yang kuat sekaligus semakin dekat dengan denyut kehidupan rakyat kecil. Fondasi perjuangan yang ia bangun mengakar hingga ke daerah-daerah, meneguhkan semangat kerakyatan sebagai jiwa gerakan politik.
Namun pengabdian H. Andi Potji tidak berhenti di ruang organisasi partai. Ia juga menapaki jalan pengabdian di lembaga legislatif dengan penuh tanggung jawab. Karier politiknya dimulai sebagai Anggota DPRD Kota Parepare, sebelum kemudian melangkah ke tingkat provinsi.
Pada periode 1999–2004, beliau mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam posisi tersebut, ia dikenal sebagai pemimpin yang tenang, bijaksana, dan selalu berpihak kepada kepentingan rakyat kecil. Bagi beliau, jabatan bukanlah tujuan, melainkan ruang pengabdian untuk memperjuangkan harapan masyarakat.
Pengabdian terakhirnya di lembaga legislatif tercatat ketika menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan periode 2004–2009. Dalam peran tersebut, beliau tampil sebagai pengarah sikap politik fraksi sekaligus penjaga nilai-nilai perjuangan di tengah perubahan zaman yang terus bergerak.
Penjaga Terakhir Dan Kader Setia Almarhum
Perjalanan seorang tokoh besar tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang pengabdian H. Andi Potji, hadir para kader yang setia menjaga api perjuangan agar tidak pernah padam. Mereka menjadi saksi sejarah, pewaris semangat, sekaligus penerus nilai-nilai yang telah diwariskan.
Mereka dikenal sebagai anak ideologis, “Penjaga Terakhir dan Kader Setia Almarhum”—sosok-sosok yang tetap teguh menjaga amanah perjuangan di tengah perubahan zaman serta kerasnya arus politik.
Diantara Mereka Adalah:
- Rudy P. Goni, yang melanjutkan jejak pengabdian dengan komitmen dan loyalitas yang tidak pernah goyah.
- Dan Pongtasik, sosok senior yang dikenal teguh dan konsisten menjaga garis perjuangan.
- Husain Djunaid, penjaga nilai kebersamaan, solidaritas, dan kesetiaan dalam perjuangan
- Alimuddin, yang terus melanjutkan semangat perjuangan almarhum dengan membawa nilai-nilai pengabdian ke ruang yang lebih luas.
Keempatnya bukan sekadar kader, melainkan penjaga nilai sekaligus penerus semangat perjuangan yang ditinggalkan almarhum.
Meski demikian, mereka tidak selalu berada dalam satu pandangan yang sama. Di balik kekompakan yang tampak di ruang publik, terdapat perbedaan cara pandang dalam memahami serta menerapkan gagasan dan cita-cita politik yang diwariskan oleh H. Andi Potji sebagai guru politik mereka.
Perbedaan tersebut justru menghadirkan ruang dialektika yang sehat dan hidup. Diskusi-diskusi panjang kerap berlangsung hangat dan mendalam, membahas arah perjuangan, makna pengabdian, serta cara terbaik menjaga nilai-nilai almarhum di tengah perubahan zaman. Dalam perdebatan itu, mereka saling menguji gagasan, mempertajam pemahaman, dan berusaha menemukan titik temu yang paling dekat dengan semangat perjuangan yang pernah ditanamkan.
Namun di atas segala perbedaan itu, satu hal tetap menjadi pengikat utama: rasa hormat dan kesetiaan yang tidak pernah pudar terhadap warisan perjuangan H. Andi Potji.
Warisan Yang Tidak Pernah Padam
H. Andi Potji, yang akrab disapa Petta Potji, telah lama berpulang. Namun jejak pengabdian dan nilai perjuangannya tetap hidup dalam kerja-kerja politik, pengabdian sosial, serta dalam ingatan masyarakat yang pernah merasakan ketulusannya.
Ia meninggalkan warisan keteladanan yang sederhana namun mendalam: bahwa perjuangan tidak boleh mengenal lelah, kesetiaan tidak boleh tergadaikan, dan kejujuran harus menjadi kompas utama seorang pejuang rakyat.
Saat beliau wafat, suasana duka menyelimuti Makassar. Masyarakat datang dari berbagai penjuru untuk memberikan penghormatan terakhir. Tidak ada kemewahan, tidak ada upacara besar. Yang hadir adalah keluarga, sahabat, kader setia, aktivis, serta rakyat kecil yang mengiringi dengan doa dan air mata.
Di antara para pelayat, hadir pula sejumlah tokoh penting daerah, antara lain Andi Oddang, HZB. Palaguna, Amin Syam, Syahrul Yasin Limpo, dan Supomo Guntur. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengakuan atas jejak pengabdian almarhum dalam politik dan pembangunan daerah.
Kehadiran para aktivis dan tokoh masyarakat menegaskan bahwa H. Andi Potji bukan hanya politisi, tetapi juga sosok yang hidup dekat dengan gerakan rakyat—membuka ruang dialog, mendengar suara akar rumput, dan merangkul perjuangan masyarakat kecil.
Hingga bertahun-tahun setelah kepergiannya, nama H. Andi Potji tetap hidup dalam ingatan banyak orang, termasuk keluarga besar PDI Perjuangan. Ia dikenang bukan karena kekuasaan yang pernah dimilikinya, melainkan karena konsistensinya memperjuangkan rakyat hingga akhir hayatnya. (*)









