MetroNews

Idul Adha dan Kehangatan Hati

Oleh: Dewa Agung Daeng Maraja

DI bawah langit Makassar yang basah oleh gema takbir, halaman Sekretariat DPD PDI Perjuangan Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Gunung Bawakaraeng Nomor 210 menjadi tempat manusia kembali diuji oleh hal paling sederhana: Ketulusan. Tidak ada kemegahan, tidak adasorotan, hanya embun yang masih menggantung di ujungdaun, doa yang berlapis-lapis di udara, dan langkah-langkah relawan partai yang bergerak seakan enggan meninggalkan jejak.
Sejak pukul 10.00 Wita, setelah salat Idul Adha, tangan-tangan itu bekerja dalam diam, seolah kebaikan yang paling murni memang tidak pernah membutuh kansuara.
Di tengah keramaian yang tertata itu, nama-nama satu per satu hadir: Gito, Memet, Adam, Zul, Aldy, Kurnia, Sellang, Fadly, Baim, Ikram, Wulan Feby, Eca, Angga, Fadil, Ady, Bayu, Ani, Lely, Fajar, Azis, Karim, dan Wiwin.
Mereka bukan tokoh, bukan pula bagian dari kisah yang sengaja diabadikan. Mereka adalah kerja yang tak bersuaradenyut gotong royong yang hidup tanpa pernah menagih untuk dikenang.
Hari itu, mereka tidak sekadar bekerja; mereka menjadi pemotong jarak antara kekurangan dan kecukupan. Di bawah ritme yang teratur, setiap tangan mengambil perannya, saling melengkapi dalam diam yang paham tugas masing-masing.
Pisau Ust. Zein Asfar AffandyKetua Harian Baitul Muslim Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan—bergerak setajam kilat, diiringi lantunan doa, menyembelih hewan kurban satu per satu dengan presisi yang tenang, seolah menjadi penanda akhir dari satu proses sekaligus awal dari keberkahan yang dibagi bersama.
Di sudut halaman, seorang ibu paruh baya duduk dengan kupon yang tak pernah benar-benar ia lepaskan. Jemarinya bergetar, bukan hanya karena dingin pagi, tetapi karena hidup yang terlalu sering mengajarinya untuk menunggu tanpa kepastian.
Matanya mengikuti gerak para relawan yang membungkus daging kedalam plastik sederhana, gerak yang bagi dunia mungkin biasa, tetapi baginya adalah tanda bahwa dunia masih menyisakan ruang untuk dirinya.
Ketika seorang relawan berkata pelan, “Sabar ki, Bu, sebentar lagi selesai,” ia hanya mengangguk.
Tidak ada kata yang keluar, hanya senyum kecil yang nyaris runtuh sebelum sempat utuh. Namun di sudut matanya, ada sesuatu yang lebih berat dari air mata: lega yang perlahan belajar percaya kembali pada manusia.
Hari ini, Idul Adha 1447 Hijriah tidak sekadar hadir sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat. Sebanyak 151 hewan kurban, —147 ekorsapi dan 4 ekor kambing, tidak hanya berpindah tangan, tetapi berpindah dari satu kesunyian kekesunyian yang lain, membawa pesan yang terukirindah di hati: bahwa kehidupan masih bisa dibagi, bahkan ketika dunia terasa kian sempit bagi banyak orang.
Dari lorong-lorong Makassar hingga kampung-kampung yang jauh dari pusat perhatian, daging itu menjelma bahasa paling sederhana dari kepedulian: aku melihatmu.
Di tengah proses itu, Alimuddin Karaeng Naba, Risfayanti Muin, Andi Ansyari Mangkona, Erika Tansil, dan Husain Djunaid, struktur melebur; sekat jabatan.luruh, dan semua kembali pada identitas yang sama: manusia yang sedang belajar untuk berbagi.
Dari total itu, 45 ekor sapi merupakan bagian dari ikhtiar Ketua DPD Partai, Ridwan Andi Wittiri. Namun, di pagi yang beranjaksiangitu, yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa memberi bukan tentang jumlah, melainkan tentang keikhlasan untuk melepaskan sesuatu demi kebermanfaatan bagi sesama manusia.
Khusus di halamansekretariat, empat hewan kurban disembelih, tiga ekor sapi dari para shohibul kurban Ridwan Andi Wittiri, Alimuddin Karaeng Naba, dan MangattaToding Allo, serta satu ekor kambing dari Erika Tansil. Tidak ada yang tampak sebagai peristiwa besar. Namun justru di situlah letak maknanya: yang agung kerap hadir dengan menyamar sebagai kesederhanaan.
Di balik sambungan telepon, Ridwan Andi Wittiri berkata pelan bahwa kurban bukan sekadarmenyembelih dan membagikan daging.
Ia adalah latihan panjang tentang berbagi keikhlasan, tentangbelajarmerelakansesuatu yang dicintai agar orang lain dapat ikut merasakan manfaatnya.
“Kurban bukan semata ibadah individual, tetapi juga sarana memperkuat kesalehan sosial dalam kehidupan bersama,” ucapnya, sembari menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Adha, memohon maaf lahir batin, serta mendoakan agar semua senantiasa diberi kesehatan dan salam untuk keluargasebuahdoa yang diselipkan pelan di antara percakapan.
Kalimatitutidakjatuhsebagaipernyataan, melainkansebagaikesadaran yang lebihtuadari kata-kata: bahwa manusia hanya akan utuh ketika tidak berdiri.sendirian.
Sementara itu, para relawan terus bergerak tanpa nama yang perlu dikenang. Peluh menjadi bahasa mereka, dan lelah tidak pernah sempat meminta izin. Mereka mengangkat, mengatur, dan membagikan—seolah sedang menjaga sesuatu yang tak terlihat: keyakinan orang-orang kecil bahwa dunia belum sepenuhnya keras.
Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPD PDI Perjuangan Provinsi Sulawesi Selatan, Alimuddin Karaeng Naba, menyebut kurban sebagai tradisi gotong royong. Namun di balik istilah itu, tersimpan makna yang lebih dalam: cara agar manusia tidak lupa bahwa mereka pernah saling bergantung untuk bertahan hidup.
Pukul 13.30 WITA, pembagian dimulai. Wajah-wajah datang tanpa banyak kata, hanya membawa harap yang tak perlu dijelaskan. Seorang ayah menggenggam kantong daging itu erat-erat, melangkah pulang dengan langkah yang lebih tenang, seolah membawa kabar baik yang telah lama ditunggu.
Di sisi lain, seorang nenek menerima bingkisan dengan tangan yang sudah terbiasa menahan banyak hal. Ia tidak banyak bergerak, hanya menunduk lama, seperti sedang berbicara dengan Tuhan dalam bahasa yang tidak membutuhkan suara.
Di depan kantor itu, anak-anak kecil melompat dengan tawa riang yang tidak diajarkan. Mereka tidak memahami kurban sebagai konsep, tetapi memahami kebahagiaan sebagai sesuatu yang tiba-tiba hadir: keramaian, takbir, dan orang-orang yang berbagi ruang tanpa saling mengenal lebih jauh.
Dan di bawah langit Makassar yang terus bergetar oleh gema takbir itu, kurban tidak lagi sekadar peristiwa. Ia menjadi pengingat bahwa yang membuat hidup tetap bernyawa bukanlah apa yang dimiliki, melainkan keberanian untuk tetap peduli—meski sederhana, meski singkat, meski tanpa nama yang sempat diingat kembali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button